2,2 Juta Orang Terinfeksi Corona di Seluruh Dunia, 568.343 Sembuh dan 153.822 Meninggal

Sejumlah petugas medis tengah merawat seorang pasien yang terjangkit virus Corona secara intensif di rumah sakit San Raffaele di Milan, Italia, 27 Maret 2020. [Foto: Reuters]

Pandemi virus corona masih terus berlangsung. Sebagian besar negara di dunia telah melaporkan adanya kasus Covid-19.

Menurut data terbaru yang dikumpulkan oleh John Hopkins University hingga Sabtu pagi (18/4/2020), jumlah kasus virus corona di dunia tercatat 2.240.191 (2,2 juta) kasus. Dari jumlah tersebut, ada 153.822 kasus kematian.

Sementara, jumlah pasien sembuh sebanyak 568.343 orang. Adapun angka kasus tertinggi di Amerika Serikat dengan hampir 700.000 kasus, disusul Spanyol, Italia, dan Perancis.

Sementara, untuk jumlah pasien sembuh, paling banyak tercatat di Jerman dengan lebih dari 80.000 pasien sembuh.

Berikut adalah perkembangan terbaru dari beberapa negara di dunia soal virus corona yang masih mewabah ini:

Timur Tengah
Tempat-tempat suci bagi umat muslim, termasuk Mekah dan Madinah di Arab Saudi, kemungkinan akan kosong selama bulan suci Ramadhan setelah pihak berwenang mewajibkan orang untuk beribadah di rumah akibat virus corona.

Otoritas keagamaan tertinggi di Arab Saudi meminta orang-orang untuk melakukan shalat Tarawih dari rumah untuk menghindari adanya perkumpulan dengan jumlah besar di masjid. Di Arab Saudi, hingga Sabtu pagi (18/4/2020), jumlah kasus virus corona yang telah dikonfirmasi adalah sebanyak 7.142 kasus dengan 87 kasus kematian dan 1.049 pasien yang telah dinyatakan sembuh.

Selain Mekah dan Madinah, Kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem juga akan ditutup selama Ramadhan. Keterangan ini disampaikan oleh Dewan Wakaf Islam Yerusalem, Kamis (16/4/2020). Melansir CNN, Kamis (17/4/2020), Mesir dan Yordania juga akan melarang solat di masjid selama bulan ramadhan.

Inggris

Di tengah pandemi virus corona yang masih terjadi, Inggris mengalami kekurangan beberapa alat perlengkapan medis.

"Para pemimpin negara memberi tahu kami bahwa salah satu alasan mereka tidak memperoleh dukungan darurat dari negara-negara tetangga adalah karena negara-negara tersebut juga mengalami kondisi yang sama," kata Wakil Kepala Eksekutif NHS Providers Saffron Cordery sebagaimana dikutip CNN, Kamis (17/4/2020). Pemerintah telah mengimbau untuk menggunakan kembali beberapa alat perlindungan diri karena kekurangan ini.

Hingga kini, jumlah kasus virus corona yang telah dilaporkan di Inggris adalah sebanyak 109.769 kasus. Dari jumlah tersebut, 14.607 orang meninggal dunia dan 394 pasien telah dinyatakan sembuh.

Spanyol

Pemerintah Spanyol berencana untuk menyelesaikan lockdown yang masih berlangsung dalam dua tahap, yaitu musim panas dan akhir tahun. Keterangan ini disampaikan oleh Menteri Tenaga Kerja dan Sosial Ekonomi Spanyol Yolanda Diaz, Jumat (17/4/2020).

Ia mengatakan, seluruh keputusan akan didasarkan pada nasihat dari kewenangan kesehatan. "Akan tetapi, semuanya tidak akan sama dengan sebelumnya," tambah Diaz.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Salvador IIIa mengatakan bahwa untuk maju, pemerintah perlu mempelajari data yang tersedia dengan lebih teliti. Hingga kini, jumlah infeksi Covid-19 di Spayol adalah sebanyak 190.839 kasus dengan 20.002 kasus kematian dan 74.797 pasien dinyatakan sembuh.

China

Pemerintah China mengkoreksi angka kematian akibat virus Corona (COVID-19). Sebab, data sebelumnya belum mengikutkan kematian di luar rumah sakit. Alhasil, angka total kematian di Wuhan naik sebanyak 50 persen.

"Wuhan, lokasi penyebaran awal virus Corona, telah menaikkan angka kematiannya sebanyak 50 persen atau setara dengan 1.290 korban," sebagaimana dikutip dari situs BBC, Sabtu, 18 April 2020.

Dengan adanya penambahan ini, maka total angka kematian di Wuhan menjadi 3.869. Adapun pemerintah China menegaskan bahwa mereka tidak mencoba menutupi angka korban di Wuhan sebelumnya. Penambahan sekarang mereka sebut sebagai perbaikan data.

Pemerintah China, dalam keterangan persnya, melanjutkan bahwa revisi angka kematian ini mengacu pada input dari berbagai sumber. Beberapa di antaranya adalah rumah jenazah dan penjara. Menurut mereka, tidak semua lembaga tersebut melaporkan datanya dengan cepat dan akurat sehingga revisi menjadi hal yang tak terhindarkan.

"Ketika wabah virus Corona menyerang, sistem kesehatan kami kewalahan. Banyak kasus dan kematian yang tidak dilaporkan secara tepat. Terkadang ada yang dicatakan dua kali dan bahkan ada yang tidak terlaporkan sama sekali," ujar keterangan pers Pemerintah China.

Juru bicara Otoritas Kesehatan China, Mi Feng, mengatakan bahwa revisi terbaru sudah melalui uji evaluasi yang komprehensif. Dengan begitu, harapannya, angka kali ini lebih akurat merepresentasikan situasi di Wuhan.

Adanya revisi angka kematian ini tak ayal menimbulkan kekhawatiran atau kecurigaan dari negara tetangga. Banyak yang beranggapan bahwa masih ada banyak data kematian dan kasus virus Corona di China yang belum terungkap. Bahkan, ada juga yang menuduh China mencoba menutup-nutupi fakta agar situasi seperti terkendali. Salah satu yang menuduh China seperti itu adalah Amerika

"Kita tidak bunya angka kematian terbanyak. Angka kematian terbanyak pasti Cina. Itu negara yang sangat besar," ujar Presiden Amerika, Donald Trump. Trump, belum lama ini, menuduh China mencoba menutup-nutupi asal usul virus Corona karena berasal dari lab virus di Wuhan.

Selain Trump, Presiden Prancis pun bertanya-tanya. Ia merasa terlalu naif juga dirinya yakin tidak ada hal yang disembunyikan di China. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Inggris, Dominic Raab, merasa pihaknya tetap memiliki tanggung jawab untuk bertanya bagaimana wabah virus Corona bisa terjadi dan dari mana asal virusnya.

"Kita tetap harus mempertanyakan asal usul virus Corona dan kenapa wabahnya tidak bisa dicegah lebih awal," ujar Raab.

Hingga kini, China tercatat memiliki 82.719 kasus dan 4.632 korban meninggal akibat virus Corona (COVID-19). []

Komentar

Loading...