Disebut Jadi Beban bagi Prancis, Macron Tanggapi Erdogan

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Prancis Emmanuel Macron. [Foto: AFP]

PARIS - Presiden Emmanuel Macron menanggapi sindiran yang diutarakan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang menyebutnya sebagai beban bagi Prancis.

"Itu kebohongan besar. Kami bukan Hungaria atau Turki. Saya percaya pada rasa hormat. Saya pikir makian di antara para pemimpin politik bukanlah cara yang baik," kata Macron.

Erdogan sebelumnya mengaku berharap Prancis segera menyingkirkan Macron. Dia menganggap Macron hanya menjadi beban bagi Prancis.

"Macron adalah masalah buat Prancis. Prancis mengalami periode yang sangat, sangat berbahaya. Saya berharap Prancis menyingkirkan masalah Macron secepat mungkin," kata Erdogan kepada wartawan usai salat Jumat di Istanbul seperti dikutip dari AFP.

Komentar tersebut menjadi perang kata-kata terbaru antar kedua pemimpin tersebut.

Selain menanggapi komentar Erdogan, Macron juga membantah klaim yang menuduh bahwa nilai kebebasan di Prancis mulai terkikis di bawah pemerintahannya.

Macron menyebutnya sebagai "kebohongan besar".

Tuduhan itu muncul di tengah meningkatnya kontroversi atas undang-undang keamanan baru yang dianggap membatasi kebebasan sipil.

Macron pun dihujani kritik di media internasional setelah ia mengumumkan sikap keras terhadap Islam radikal dan mendorong Rancangan Undang-Undang (RUU) keamanan yang akan membatasi publikasi polisi, salah satunya yakni melarang warga merekam aksi polisi.

"Saya tidak bisa membiarkan bahwa kami disebut telah mengurangi kebebasan di Prancis," kata Macron kepada portal berita daring, Brut, dalam wawancara yang disiarkan di televisi.

Ketegangan sosial atas UU keamanan baru melonjak setelah polisi memukuli produser musik kulit hitam, Michel Zecler. Empat polisi telah didakwa atas serangan itu. Selain itu, polisi Prancis juga dilaporkan terlibat dalam aksi protes yang berujung kekerasan di Paris pada akhir pekan lalu.

Menanggapi insiden kekerasan tersebut, Macron mengakui bahwa "ada polisi yang melakukan kekerasan" dan dia bersikeras bahwa "mereka perlu dihukum.

"Ketika Anda memiliki warna kulit yang tidak putih, Anda lebih banyak dipantau (oleh polisi). Anda diidentifikasi sebagai faktor masalah. Dan itu tidak dapat dibenarkan," kata Macron.

Tapi Macron juga mengecam kekerasan terhadap polisi dalam insiden unjuk rasa pada akhir pekan lalu di Paris.

Beberapa komentar di media asing bahkan menuduh Macron tengah menargetkan semua Muslim, menyusul serentetan serangan teror yang terjadi beberapa pekan terakhir. Kelompok Islam radikal disalahkan berada di balik serangan teror tersebut.

Tapi Macron bersikeras bahwa ia tidak menargetkan umat Muslim, melainkan dia hanya membela sistem sekuler Prancis.

"Prancis tidak punya masalah dengan Islam, kami adalah negara yang selalu melakukan dialog. Kami mendirikan Republik kami pada pemisahan politik dan agama," ujar Macron.

Wawancara terbaru Macron dengan Brut dipandang sebagai upayanya untuk memenangkan kredibilitas di kalangan kaum muda, terutama bagi mereka yang prihatin dengan tindakan polisi Prancis. Brut sendiri adalah portal berita berbasis video yang menyasar kaum muda.

Sementara itu, pada Senin, anggota parlemen dari partai La Republique En Marche! (LREM) mengatakan bahwa mereka akan mengusulkan "penulisan ulang yang lengkap" dari sebagian RUU keamanan. LREM adalah partai yang berkuasa di Prancis sekaligus didirikan oleh Macron. []

Komentar

Loading...