Korban Tewas dari Ledakan Dahsyat di Beirut Mencapai 149 Orang

Seorang pria berhasil diselamatkan dari reruntuhan pasca ledakan di Beirut, Lebanon. Rabu, 5 Agustus 2020. [Foto: AP]

LEBANON - Tiga hari pasca-ledakan di Beirut, Lebanon pada Selasa (4/8/2020), tim penyelamat masih mencari para korban selamat maupun tewas yang terjebak di puing-puing reruntuhan bangunan.

Melansir Associated Press pada Jumat (7/8/2020), hingga saat ini korban tewas yang berhasil ditemukan oleh tim penyelamat hampir 150 orang, dan angka tersebut dapat terus bertambah.

Setidaknya dalam 24 jam terakhir ini, tim penyelamat menemukan 4 mayat, sehingga total korban tewas meningkat menjadi 149 orang. Tim SAR telah dikirim dari beberapa negara untuk membantu menemukan korban selamat di area sekitar pelabuhan yang menjadi pusat ledakan dahsyat itu, yang membuat beberapa blok kota porak-poranda menjadi puing-puing, termasuk gudang biji-bijian yang besar.

Sebuah tim yang terdiri dari 55 orang Perancis mulai bekerja pada Kamis (6/8/2020), dan menurut Kolonel Tissier Vincent, kepala misi bahwa timnya berhasil menemukan 4 mayat, yang menjadikan total korban tewas menjadi 149 orang.

Petugas pemadam kebakaran Lebanon juga bekerja di area pelabuhan yang hancur, dengan menggunakan buldoser dan ekskavator yang berputar memindahkan puing-puing.

Puluhan orang masih hilang, dan di pintu masuk pelabuhan sebuah keluarga menunggu kabar dari seorang kerabat. Salah satu orang hilang yang saat ini sedang dicari adalah Joe Akiki, seorang pekerja pelabuhan berusia 23 tahun, yang telah hilang sejak ledakan.

Tim SAR dari Perancis dan Rusia terjun dalam pencarian dengan anjing pelacak pada Jumat (7/8/2020), sehari setelah Presiden Prancis, Emmanuel Macron mengunjungi lokasi kejadian tragedi tersebut.

Dalam kunjungannya di negara bekas kolonialnya, Macron menjanjikan bantuan dan bersumpah untuk mendesak reformasi dari para pemimpin rezim politik Lebanon.

Dugaan awal ledakan dahsyat di Beirut, Lebanon disebabkan oleh terbakarnya 2.750 ton amonium nitrat, yang merupakan bahan kimia yang digunakan untuk bahan peledak dan pupuk.

Amonium nitrat tersebut dilaporkan telah disimpan di pelabuhan Beirut sejak disita dari kapal kargo yang pada 2013. Pemerintah telah melancarkan penyelidikan karena mendapat kecaman keras dari masyarakat Lebanon, yang menyebut bencana itu terjadi karena kelalaian dan korupsi rezim pemerintah.

Akibat ledakan dahsyat itu banyak kerugian yang dialami oleh masyarakat Lebanon. Sekitar 300.000 orang atau lebih 12 persen penduduk Beirut kehilangan rumah.

Para pejabat memperkirakan kerugian negara mencapai 10 miliar dollar AS (Rp 146,4 triliun) hingga 15 miliar dollar AS (Rp 219,6 triliun). Rumah sakit rusak, di mana sebelumnya sudah tertekan oleh pandemi virus corona, dan saat ini masih berjuang untuk menangani para korban yang terluka dari ledakan dahsyat.

Investigasi berfokus pada petugas pelabuhan dan bea cukai, dengan 16 karyawan ditahan dan yang lainnya diinterogasi. Banyak orang Lebanon lantas mengatakan bahwa latas belakang kasus ledakan dahsyat itu menunjukkan kebusukan besar yang telah mengakar ke dalam sistem politik hingga ke kepemimpinan puncak negara.

Selama beberapa dekade, Lebanon telah didominasi oleh elit politik yang sama, yang banyak dari mereka adalah mantan panglima perang dan komandan milisi dari perang saudara 1975-1990.

Faksi yang berkuasa menggunakan institusi publik untuk mengumpulkan kekayaan dan mendistribusikan patronase kepada pendukung. Tiga puluh tahun setelah berakhirnya perang saudara, pemadaman listrik masih sering terjadi, sampah sering kali tidak terkelola, dan air ledeng sebagian besar tidak dapat diminum.

Bahkan sebelum ledakan, negara itu terperosok dalam krisis ekonomi parah yang juga disebebkan oleh kelas politik, pengangguran melonjak, dan jatuhnya mata uang lokal yang menyusutkan nilai tabungan masyarakat. Kini, tugas pembangunan kembali negara pasca-ledakan menjadi lebih berat. []

Komentar

Loading...