Update Virus Corona di Dunia: 1,4 Juta Kasus, 301.738 Sembuh, 81.889 Meninggal

Sebuah robot membantu tim medis merawat pasien corona di Italia. [Foto: Reuters]

Jumlah persebaran kasus virus corona secara global terus mengalami peningkatan baik dari sisi jumlah maupun korban jiwa.

Melansir data dari Worldometers, kasus virus corona telah menginfeksi lebih dari 200 negara di dunia hingga Rabu (8/4/2020) pagi, Adapun jumlah kasusnya saat ini hampir menyentuh angka 1,5 juta atau tepatnya 1.424.140 kasus positif Covid-19.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 301.738 orang dilaporkan sembuh dari Covid-19. Namun, sebanyak 81.889 orang lainnya meninggal dunia.

Berikut daftar 10 negara dengan jumlah kasus terbanyak :

1. Amerika Serikat, 394.587 kasus, 12.748 orang meninggal, total sembuh 21.674
2. Spanyol, 141.942 kasus, 14.045 orang meninggal, total sembuh 43.208 I
3. talia, 135.586 kasus, 17.127 orang meninggal, total sembuh 24.392
4. Perancis, 109.069 kasus, 10.328 orang meninggal, total sembuh 19.337
5. Jerman, 107.663 kasus, 2.016 orang meninggal, total sembuh 36.081
6. China, 81.740 kasus, 3.331 orang meninggal, total sembuh 77.167
7. Iran, 62.589 kasus, 3.872 orang meninggal, total sembuh 27.039
8. Inggris, 55.242 kasus, 6.159 orang meninggal, total sembuh 135
9. Turki, 34.109 kasus, 725 orang meninggal, total sembuh 1.582
10. Swiss, 22.253 kasus, 821 orang meninggal, total sembuh 8.704

Marah soal China, Trump Ancam Setop Bantuan AS untuk WHO

Presiden Donald Trump mengancam akan menyetop bantuan Amerika Serikat terhadap Badan Kesehatan Dunia (WHO) setelah menuding organisasi itu bias terhadap China selama pandemi virus corona (Covid-19).

Kepada wartawan di Washington, Trump menegaskan akan mengerahkan seluruh pengaruhnya "untuk menahan" dana bagi WHO. Sejauh ini AS memang menjadi donor terbesar organisasi kesehatan itu.

"Kami akan menahan uang yang kami habiskan untuk WHO. Kami akan mempertimbangkan menghentikan bantuan ini," kata Trump pada Selasa (7/4) seperti dilansir dari AFP.

Trump tidak menjelaskan secara detail berapa banyak bantuan yang akan ditangguhkan. Ia menganggap bahwa WHO bersikap "sangat bias terhadap China."

"Dan tindakan itu tidak benar," ujar Trump.

Sebelumnya, Trump juga berkicau di Twitter bahwa ia menganggap WHO "sangat China sentris".

Politikus Partai Republik itu mempertanyakan mengapa WHO memberikan "rekomendasi yang salah" yang dianggap membela China.

Trump tidak menjelaskan secara detail berapa banyak bantuan yang akan ditangguhkan. Ia menganggap bahwa WHO bersikap "sangat bias terhadap China."

"Dan tindakan itu tidak benar," ujar Trump.

Trump sempat menganggap virus corona sebagai flu biasa dan warga AS tidak akan terpengaruh dengan virus serupa SARS tersebut.

Namun, Trump mengaku bahwa AS kini tengah menghadapi situasi darurat nasional setelah kasus virus corona di Negeri Paman Sam menjadi yang terbanyak di dunia dan angka kematian yang juga tinggi.

Per Rabu (8/4), AS tercatat memiliki 400.335 kasus dengan 12.841 kematian. AS menemukan 33.331 kasus corona baru kemarin. Jumlah itu menjadi rekor tertinggi dalam sehari.

Pejabat kesehatan AS memperingatkan bahwa puncak penyebaran virus corona masih akan berlangsung hingga beberapa pekan ke depan di negara tersebut.

Iran Ragukan Data Corona China

Pejabat Kesehatan Iran meragukan keakuratan data virus corona di China karena angkanya terlalu kecil. Keraguan serupa sebelumnya juga diutarakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

"Setelah virus itu menyebar, menjadi jelas bukan seperti yang dilaporkan China," kata pejabat kesehatan Iran yang juga anggota gugus tugas Covid-19 Minoo Mohraz, Selasa (7/4).

Menurut dia, China juga mencabut sejumlah artikel yang memuat data tentang virus corona. Selain itu, Mohraz pun meragukan kebenaran studi yang dibuat China.

"Dengan apa yang kita ketahui tentang studi ilmiah mereka, angka-angka mereka tidak dapat dipercaya," kata Mohraz dilansir kantor berita IRNA seperti dikutip dari AFP.

Pejabat satuan tugas lainnya mengatakan angka-angka yang dirilis China jauh dari kebenaran bila melihat penyebaran Covid-19 dan kematian tinggi di seluruh dunia.

Ahli epidemiologi Hamid Souri menilai data yang terdistorsi bisa menyebabkan pengambilan keputusan terdistorsi.

Tak hanya mereka, Juru Bicara Kementerian Kesehatan Iran Kianoush Jahanpour turut meragukan akurasi data China.

Bahkan Jahanpour mendapat kecaman usai menyebut laporan China tentang angka Covid-19 merupakan lelucon pahit.

Dia mendapat serangan dari Duta Besar China untuk Teheran, Chang Hua lewat Twitter pada hari Minggu lalu. Chang meminta Jahanpour menghormati upaya China dalam memerangi virus corona. "Menghormati kenyataan dan upaya besar rakyat China," kata Chang.

Ketika itu Jahanpour tidak memberikan perlawanan. Dia kemudian membalas tweet dengan mengatakan bahwa dukungan China terhadap Iran di masa-masa sulit ini tak terlupakan.

Iran dan China selama ini menjalin hubungan yang harmonis. Beijing merupakan salah satu mitra dagang utama Teheran, terutama dalam penjualan minyak.

Pekan lalu Presiden AS Donald Trump meragukan keakuratan data virus corona yang dikeluarkan China setelah anggota Kongres AS menyebutkan beberapa laporan intelijen yang menunjukkan indikasi Negeri Tirai Bambu menutupi data.

Partai Republik di Kongres AS sempat menunjukkan sebuah laporan dari Bloomberg yang mengutip dari sumber intelijen AS, menyatakan bahwa China tidak sepenuhnya jujur mengenai laporan jumlah infeksi dan kematian akibat virus corona.

Namun China membantah tuduhan menutupi data korban virus corona itu. []

Komentar

Loading...