Update Virus Corona di Dunia: 2,8 Juta Orang Terinfeksi, 779.877 Sembuh dan 196.931 Meninggal

Penanganan medis pasien corona di Italia. [Foto: AP]

Jumlah kasus virus corona di dunia semakin meningkat dari hari ke harinya. Tak hanya dari jumlah kasus, jumlah pasien yang sembuh dan meninggal dunia juga ikut bertambah.

Melansir data dari Worldometers, hingga Sabtu pagi (25/4/2020), jumlah kasus positif Covid-19 mencapai 2.826.035 orang. Angka tersebut diikuti dengan jumlah pasien yang berhasil sembuh yakni sebanyak 779.877 orang. Namun, jumlah korban meninggal dunia karena virus corona ini juga mengalami penambahan sebanyak 196.931 orang.

Berikut 10 negara dengan jumlah kasus terbanyak di dunia:

1. Amerika Serikat, 917.347 kasus, 51.865 orang meninggal, total sembuh 93.283.
2. Spanyol, 219.764 kasus, 22.524 orang meninggal, total sembuh 92.355.
3. Italia, 192.994 kasus, 25.969 orang meninggal, total sembuh 60.498.
4. Perancis, 159.828 kasus, 22.245 orang meninggal, total sembuh 43.493.
5. Jerman, 154.999 kasus, 5.760 orang meninggal, total sembuh 106.800.
6. Inggris, 143.464 kasus dan 19.506 orang meninggal.
7. Turki, 104.912 kasus, 2.600 orang meninggal, total sembuh 21.737.
8. Iran, 88.194 kasus, 5.574 orang meninggal, total sembuh 66.599.
9. China, 82.804 kasus, 4.632 orang meninggal, total sembuh 77.257.
10. Russia, 68.622 kasus, 615 orang meninggal, total sembuh 5.568.

Amerika

Jumlah korban meninggal akibat infeksi virus Corona atau COVID-19 di Amerika Serikat mencapai lebih dari 50 ribu orang.
Data dari Johns Hopkins University menunjukkan ada 870 ribu kasus di Amerika Serikat hingga Jumat, 24 April 2020.

AS masih menempati peringkat pertama negara dengan jumlah kasus infeksi virus Corona terbanyak di dunia.
Saat ini, jumlah kasus infeksi virus Corona di 185 negara tercatat sebanyak sekitar 2.7 juta orang. Sebanyak sekitar 192 ribu orang meninggal dunia.

Spanyol dan Italia menempati urutan kedua dengan sekitar 220 ribu kasus dan ketiga dengan 190 ribu kasus virus Corona. Jumlah korban meninggal di Spanyol mencapai sekitar 22.500 orang, dan Italia sebanyak sekitar 26 ribu orang.

Gubernur negara bagian New York, Andrew Cuomo, mengatakan pemerintah federal AS bertindak terlalu lamban dalam menangani penyebaran virus Corona.

Pemerintah dinilai terlambat membuat kebijakan pencegahan saat virus Corona sedang menyebar di Cina pada Januari 2020.
Ada perkiraan virus Corona atau COVID-19 ini telah menginfeksi sekitar 10 ribu warga New York pada Februari.

“Apa yang bisa Anda harapkan ketika Anda bertindak dua bulan setelah wabah merebak di Cina, saat itu virus masih di Cina menunggu kita untuk bertindak? Kuda sudah meninggalkan kandang pada saat kita mulai bertindak,” kata Cuomo seperti dilansir CNBC pada Jumat, 24 April 2020.

Cuomo mengatakan ada sekitar 13 ribu penerbangan dari Eropa mendarat di bandar di New York dan New Jersey antara Januari – Maret 2020.

Sekitar 2.2 juta penumpang tiba dalam kurun waktu itu. Saat itu, menurut Cuomo, peneliti memperkirakan virus Corona telah menginfeksi sekitar 28 ribu orang di AS, termasuk 10 ribu orang di New York.

Secara terpisah, Presiden AS, Donald Trump, pernah mengatakan pemerintah telah melakukan tugas yang benar dalam menangani wabah virus Corona ini.

Trump dan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo malah menyalahkan pemerintah Cina, yang diduga lalai mengelola laboratorium virus di Wuhan dan bersikap tertutup dalam menginformasikan bahaya virus Corona kepada masyarakat dunia.

Inggris

Pemerintah Inggris berada dalam tekanan setelah data yang diperlihatkan pada Jumat, 24 April 2020 angka kematian akibat virus corona di Inggris hampir menyentuh angka 20 ribu orang.

“Secara keseluruhan, kami akan mengambil keputusan berdasarkan ilmu pengetahuan yang terbaik dan saran kesehatan. Ini tidak akan menjadi kasus yang harus memilih apakah ekonomi atau kesehatan masyarakat,” kata Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, seperti dikutip dari reuters.com.

Sejauh ini Pemerintah Inggris masih menolak rencana-rencana untuk melonggarkan lockdown. Namun Inggris berada dalam tekanan untuk sedikit melunakkan lockdown karena bukti bencana ekonomi mulai terakumulasi.

Angka penjualan sektor retail di Inggris pada Maret 2020 turun rekor terendah. Kendati terjadi panic buying menjelang lockdown, namun hal itu tidak cukup untuk mendongkrak penjualan untuk produk pakaian dan barang-barang lainnya.

Beberapa proyeksi menyebut ekonomi Inggris kemungkinan akan terperosok ke resesi, bahkan setelah Kementerian Keuangan Inggris dan Bank Sentral Inggris segera membuat stimulus darurat.

Inggris telah menjadi negara paling parah kelima di dunia akibat penyebaran virus corona. Di atas Inggris adalah Amerika Serikat, Italia, Spanyol dan Prancis.

Beberapa ilmuwan menyebut angka kematian akibat COVID-19 baru mulai memperlihatkan penurunan kemungkinan dalam beberapa minggu ke depan.

Jika angka kematian akibat virus corona di Inggris tembus sampai 20 ribu orang, maka itu akan menjadi hal yang sangat tidak nyaman bagi pemerintah. Kepala Penasehat bidang ilmu pengetahuan di Inggris pada 17 Maret lalu mengatakan menekan angka kematian di bawah jumlah itu (20 ribu) adalah harapan semua orang.

Jumlah orang yang meninggal di rumah sakit di penjuru Inggris setelah hasil tesnya dinyatakan positif virus corona naik menjadi 19.506 orang. Dalam sehari, pernah terjadi sampai 684 orang yang meninggal karena virus mematikan itu.

Italia

Asosiasi Dokter Italia menyatakan setidaknya 150 dokter meninggal dunia akibat terinfeksi virus corona atau covid-19 di negara tersebut.

Para dokter yang meninggal merupakan tenaga medis yang terkena paparan langsung saat menangani pasien positif covid-19. Dari data Asosiasi Dokter Italia, kematian tenaga kesehatan menyumbang angka 10 persen dari total kasus pasien meninggal akibat covid-19.

"Di Italia, setidaknya 150 dokter telah meninggal setelah tertular virus corona," bunyi pernyataan perwakilan Asosiasi Dokter Italia, dilansir dari CNN, Jumat (24/4).

Merespons angka kematian tersebut, serikat medis Italia ANAAO mengkritik keputusan Pemerintah Italia yang menyetujui pencairan dana stimulus sekitar 25 miliar euro untuk meredam dampak ekonomi dan sosial akibat covid-19.

Menurut ANAAO keputusan tersebut mengecewakan karena penambahan insentif belum mewakili pemenuhan kebutuhan tenaga medis dan warga sepenuhnya.

ANAOO menilai perjuangan para tenaga kesehatan melawan 'tsunami' pasien covid-19 selama ini belum mendapatkan apresiasi dan perhatian khusus dari pemerintah.

"Tambahan dana yang diberikan tidak cukup untuk menjamin remunerasi dari semua lembur yang dilakukan antara Februari dan Maret," kata perwakilan ANAOO.

Di Italia, terdapat sebanyak 192.994 kasus positif covid-19. Sebanyak 25.969 orang dinyatakan meninggal dunia dan 60.498 orang dinyatakan sembuh.

Tidak hanya Italia, beberapa negara yang memiliki angka kasus covid-19 yang tinggi juga memiliki angka kematian tenaga medis dengan jumlah tak sedikit. Termasuk di pusat episentrum wabah pertama kali muncul di Wuhan, China, Inggris, Spanyol, maupun Prancis. []

Komentar

Loading...