WHO: Delapan Kandidat Vaksin Virus Corona Sedang Diuji Klinis

Ilustrasi Vaksin Covid-19. [Foto:z Reuters]

JENEWA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan lembaga penelitian di berbagai negara sedang menguji klinis delapan kandidat vaksin virus corona bersama 110 varian lainnya yang masih dikembangkan.

Perusahaan farmasi dan lembaga kesehatan di negara-negara termasuk Amerika Serikat, Cina dan Jerman telah memimpin pengembangan obat untuk pasien Covid-19.

Presiden AS Donald Trump pada hari Jumat mengumumkan proyek nasional untuk mempercepat pengembangan vaksin virus corona dan mengatakan hasilnya akan keluar pada akhir tahun atau 12 hingga 18 bulan.

Namun, lepala Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular, Dr. Anthony Fauci, bersaksi ke Kongres pada Selasa bahwa 12 hingga 18 bulan adalah mungkin tetapi tidak ada jaminan vaksin akan bekerja sama sekali, menurut Washington Post.

Dilaporkan Kyodo News, pakar medis Jepang mengatakan vaksin virus corona tidak mungkin tersedia sebelum akhir tahun.

Perusahaan biotek AS Moderna Inc telah melakukan uji klinis sejak bulan Maret bekerja sama dengan Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular AS.

Kedua lembaga tersebut sedang mengerjakan vaksin yang mengandung pembawa RNA, bahan genetik yang disintesis untuk menyebabkan sel-sel menghasilkan protein yang mirip dengan virus corona yang dapat memicu respons kekebalan tubuh untuk menghasilkan antibodi yang efektif.

Inovio Pharmaceuticals Inc, perusahaan AS lainnya, memulai uji klinis menggunakan molekul DNA pada bulan April.

Sementara itu, WHO pada hari Sabtu mengatakan masih belum terbukti jika orang dapat tertular virus corona dengan menyentuh permukaan di mana virus tetap hidup, seperti pegangan, gagang pintu atau keyboard, seperti dikutip dari South China Morning Post.

Meskipun demikian, direkomendasikan agar orang mendisinfeksi permukaan benda, menurut pedoman yang dikeluarkan oleh badan PBB.

Pedoman tersebut merujuk pada penelitian yang menunjukkan virus dapat bertahan hidup di luar masker wajah medis hingga tujuh hari.

Tetapi WHO juga mencatat bahwa studi tentang kemampuan virus corona untuk bertahan hidup harus dilihat dengan skeptis, karena studi tersebut dilakukan di laboratorium dengan sedikit pengaruh pada kondisi di lapangan. []

Komentar

Loading...