Anggota DPRA: Santri Dayah Selain Jadi Ustadz, Harus Memiliki Jiwa “Entrepreneur”

Anggota DPRA Fuadri saat berbincang-bincang dengan para santri magang jurnalistik di Ruang Komisi I DPRA. [Foto: Acehonline.co/Reza Gunawan]

BANDA ACEH – Anggota Komisi I DPRA, Fuadri, mengharapkan para santri dayah di Aceh tidak hanya berpola pikir agar menjadi ustadz, namun,juga harus memiliki jiwa entrepreneurship atau kewirausahaan.

"Anak-anak dayah harus punya mindset (pola pikir) untuk menjadi ustadz sebagai ahli agama dan juga enterpeuner,” kata Fuadri, saat berbincang-bincang dengan para santri magang jurnalistik acehonline.co, Kamis (12/3/2020), di Ruang Komisi I DPR Aceh.

Fuadri menilai, Aceh dikenal sebagai pencetak daerah modal Layaknya Yogyakarta. Ketergantungan dunia luar terhadap pangan di daerah Aceh bernilai tinggi, hanya saja Sumber Daya Manusia (SDM) Aceh yang saat ini masih rendah.

DPRA juga mendukung santri setelah menyelesaikan pendidikan dayah untuk bervisi melanjutkan pendidikan ke luar negeri, sebagaimana santri di Thailand, Malaysia dan wilayah Asia lainnya yang mengenyam pendidikan di Aceh. Tujuannya, kata dia, agar lulusan dayah tidak hanya menjadi tolak ukur di daerah Aceh saja, tetapi juga di seluruh dunia.

"Alumni dayah tidak cukup hanya belajar di sini, mereka juga harus belajar di luar, untuk menginformasikan kepada dunia luar mengenai kompetensi santri Aceh," jelasnya.

Tidak hanya itu, Fuadri ini juga mengungkapkan kebanggaaan terhadap sistem dayah yang berefek positif terhadap karakter anak Aceh.

"Di saat orang tua menitipkan anaknya ke dayah, orang tua percaya bahwa anaknya akan menjadi orang berguna dan berakhlaqul karimah," paparnya.

Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini juga menambahkan, sudah saatnya dayah yang ada di Aceh bertransformasi dengan mendirikan instansi yang dapat mengembangkan skill santri. Hal tersebut dianjurkan mengingat semakin majunya teknologi dan informasi.

“Sebaiknya lembaga dayah mendirikan instansi yang dapat mengembangkan kemampuan santri setelah keluar dari dayah tersebut," katanya.

Dengan bertransformasi, kata dia, maka akan membuka jalan bagi santri yang ingin melanjutkan pendidikannya ke luar daerah maupun keluar negeri.

“Para santri sebaiknya memiliki keahlian lain selain keahlian kitab kuning saja. Hal tersebut dianjurkan karena di saat para santri memiliki keahlian lain, bisa menjadi pendorong bagi santri untuk lebih mandiri,” kata Fuadri.

Untuk itu, Fuadri berharap dayah-dayah dalam dengan bertransformasi mengikuti pergerakan zaman tanpa menghilangkan ciri khas kedayahannya.

“Dengan harapan santri lulusan dayah bisa memasuki ruang lingkup pemerintahan dalam mebangun Aceh serta mengembangkan agama dan bangsa,” harapnya. []

Penulis: Nauratul Islami/Nurul Maulina (Santri Magang Pelatihan Jurnalistik Dinas Pendidikan Dayah Aceh)

Komentar

Loading...