YEL Aceh: Banjir di Banda Aceh dan Aceh Besar Akibat Tata Kelola Lingkungan Masih Buruk

Koordinator YEL Aceh, T M Zulfikar. [Foto: Istimewa]

BANDA ACEH - Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) menilai, banjir yang melanda sebagian ibukota Provinsi Aceh (Banda Aceh) dan Aceh Besar akibat masih buruknya tata kelola lingkungan dan saluran drainase belum seluruhnya terkoneksi dengan system drainase primer dengan baik.

Demikian dikatakan Koordinator YEL Aceh, T M Zulfikar dalam siaran pers yang diterima acehonline.co, Jumat (8/5/2020).

Menurutnya, hujan yang turun tanpa henti dengan intensitas sedang hingga tinggi, telah mengakibatkan banjir dan bahkan longsor di berbagai lokasi. Bahkan yang sangat mengkhawatirkan, hujan yang hampir seharian turun sepanjang hari kemarin hingga saat ini, sudah tidak mampu lagi tertampung oleh saluran drainase yang berada di pinggir-pinggir jalan.

"Di beberapa titik bahkan sudah mencapai setinggi pinggang orang dewasa. Beberapa kawasan yang terlihat cukup parah antara lain di beberapa gampong di Kecamatan Lueng Bata, Kecamatan Kuta Alam, Kecamatan Baiturrahman, Kecamatan Kutaraja hingga ke berbagai Gampong lainnya di sejumlah Kecamatan di wilayah Kota Banda Aceh. Air yang menggenangi sejumlah ruas jalan bahkan sudah masuk ke dalam pertokoan, rumah-rumah masyarakat hingga perkantoran pemerintah," ujarnya.

Bencana banjir yang sudah menjadi rutinitas, kata dia, tentunya perlu dilihat kembali apa sebenarnya yang sudah terjadi. Berbagai bentuk pengelolaan sumber daya alam yang tidak ramah lingkungan sepertinya perlu diperhitungkan, termasuk berbagai kerusakan hutan dan lingkungan yang terjadi saat ini, termasuk keserakahan oknum-oknum tertentu yang menjamah berbagai sektor sumber daya alam.

Dari berbagai pantauan yang ada, sebut Zulfikar, akibat dari tata kelola lingkungan (termasuk hutan dan lahan) yang buruk, telah memberikan dampak yang sangat besar terhadap terjadinya bencana ekologi di Aceh. Sehingga dengan adanya banjir dan berbagai bencana ekologi lainnya, akan berdampak pada kerusakan berbagai infrastruktur publik, lumpuhnya perekonomian masyarakat, ditambah lagi dengan wabah covid-19 saat ini yang masih sangat tinggi penyebarannya. Disamping itu ratusan hingga ribuan hektar lahan-lahan pertanian juga akan rusak ditambah lagi munculnya wabah penyakit baru pasca banjir.

Selain belum terkoneksinya drainase, tambahnya, pada zonasi yang bergantung pada sungai, aliran air hujan terkadang tidak dapat dialirkan langsung ke sungai akibat tingginya intensitas hujan dan bersamaan dengan pasangnya air laut, penumpukan sedimen dan sampah dalam sistem drainase, kurangnya masyarakat dalam menjaga lingkungan pemeliharaan saluran drainase.

Kemudian, masih berlangsungnya proses pembalakan liar (illegal logging) terutama di sejumlah lokasi hulu sungai di Kabupaten Aceh Besar dan masih kurangnya komitmen aparatur pemerintah dan penegak hukum dalam upaya pengelolaan tata lingkungan yang baik dan benar.

"Untuk itu kita berharap dengan berbagai bencana yang terjadi saat ini Pemerintah di seluruh tingkatan hingga ke gampong-gampong dapat bersinergi dalam rangka melakukan terobosan melalui program pro lingkungan secara tegas dan tindakan nyata sehingga kondisi lingkungan kita dapat segera dipulihkan," tandas Zulfikar. []

Komentar

Loading...