Forum PRB Aceh Minta Semua Pihak Berperan Kurangi Risiko Bencana

Ketua Forum PRB Aceh Nasir Nurdin (kanan) dan wakilnya TM Zulfikar. [Foto: Istimewa]

BANDA ACEH - Gunak mengurangi kerugian yang diakibatkan bencana di Aceh, Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Aceh meminta semua pihak, baik perorangan maupun kelompok agar berperan mengurangi risiko bencana.

"Kami terus melakukan monitoring dan belum memperoleh laporan adanya korban jiwa maupun data terkait kerugian bencana alam ini, serta selalu berkoordinasi dengan BPBD setempat. Untuk mengurangi kerugian akibat bencana, perlu dilakukan berbagai upaya dalam rangka pengurangan risikonya," ujar Ketua Forum PRB Aceh, Nasir Nurdin didampingi wakilnya TM Zulfikar melalui siaran pers kepada acehonline.co, Minggu (10/5/2020), terkait musibah banjir yang melanda wilayah Aceh.

Menurutnya, upaya mengurangi risiko bencana dapat dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, bahkan dari individu sendiri. Semua orang baik individu maupun kelompok dapat bertindak sesuai peran masing-masing untuk mengurangi risiko bencana. Pengurangan Resiko Bencana (PRB) adalah konsep dan praktek mengurangi resiko bencana melalui upaya sistematis untuk menganalisa dan mengurangi faktor-faktor penyebab bencana.

"Mengurangi paparan terhadap bahaya, mengurangi kerentanan manusia dan properti, manajemen yang tepat terhadap pengelolaan lahan dan lingkungan, dan meningkatkan kesiapan terhadap dampak bencana merupakan contoh pengurangan risiko bencana. Pengurangan risiko bencana meliputi disiplin seperti manajemen bencana, mitigasi bencana dan kesiapsiagaan bencana, tetapi PRB juga merupakan bagian dari pembangunan berkelanjutan. Agar kegiatan pembangunan dapat berkelanjutan mereka juga harus mengurangi risiko bencana," kata Nasir.

Berkaca dari bencana banjir sebelumnya, kata dia, sebenarnya sangat menarik bila dikaji tentang penyebab terjadinya bencana tersebut.
"Bukan maksud untuk menyalahkan para pihak, namun saat ini telah berkembang berbagai pendapat terkait sebab terjadinya bencana banjir tersebut," ungkapnya.

Dia juga menambahkan, paradigma penanggulangan bencana menegaskan bahwa bencana tidak dapat dihindari, tapi masih dapat dikurangi resikonya.
"Risiko bencana diartikan sebagai besarnya potensi kerugian, baik langsung maupun tidak langsung, jika suatu bencana terjadi," jelas Nasir Nurdin.

Forum PRB Aceh menyarankan, ada tiga langkah yang harus dilakukan dalam mengurangi risiko bencana. Di antaranya, mengenali lokasi rawan banjir, mengenali lokasi-lokasi yang rawan banjir dan rawan longsor di suatu wilayah merupakan tahap paling awal untuk mengurangi risiko bencana. Kemudian, mitigasi bencana. Mitigasi merupakan upaya jangka menengah dan jangka panjang untuk mengurangi atau menghilangkan dampak bencana sebelum kejadian bencana. Mitigasi dapat dilakukan secara struktural maupun nonstruktural.

"Terakhir, siap mengantisipasi bencana dengan skenario kasus terburuk. Untuk keperluan ini, analisis evolusi risiko bencana dapat dilakukan dengan memadukan informasi potensi banjir atau longsor terbesar dan potensi dampak yang dihasilkannya. Evolusi risiko bencana dianalisis dengan mengidentifikasi perkembangan proses alamiah yang terjadi dan elemen berisiko (misalnya bangunan, penduduk, dan lahan produktif) secara temporal. Setelah memahami potensi risiko bencana, upaya pencegahan, mitigasi, dan peningkatan kesiapsiagaan terhadap banjir dan longsor dapat dilakukan dengan lebih terarah dan tepat sasaran," paparnya. []

Komentar

Loading...