Alsintan Menumpuk, Kadistanbun Aceh: Sesuai Aturan Alat Itu Tidak Bisa Dibagikan kepada Kelompok Masyarakat

Alat mesin pertanian menumpuk di UPTD Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh di Indrapuri. [Dok. Komisi II DPRA]

BANDA ACEH - Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (DIstanbun) Aceh, A. Hanan, memberikan klarifikasi mekanisme Pertanian Aceh terkait pemberitaan tentang menumpuknya alat mesin pertanian atau Alsintan di UPTD Distanbun Aceh di Indrapuri, Aceh Besar.

A. Hanan dalam keterangan tertulisnya yang diterima acehonline.co, Jumat (17/4/2020), menjelaskan pada tahun 2019 Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh melaksanakan pengadaan power threasher sebanyak 15 unit dengan nilai Rp228 juta dan melalui APBA-P tahun 2019 sebanyak 128 unit dengan nilai Rp. 2,69 Miliar serta Corn Sheller sebanyak 78 unit dengan nilai Rp2,12 miliar dari rekening belanja modal yang merupakan aset Pemerintah Aceh.

"Karena itu peralatan tersebut sesuai aturan tidak bisa dibagikan kepada kelompok masyarakat," jelasnya.

Alat tersebut, kata Kadistanbun Aceh, diperuntukan dalam mendukung peningkatan produksi dan menurunkan kehilangan hasil produk pertanian serta mendukung program Komando Strategis Pembangunan Pertanian (KOSTRATANI) yang ditetapkan melalui Peraturan Menteri Pertanian RI No. 49 Tahun 2019 yang dikonsentrasikan operasionalnya pada Balai Penyuluh Pertanian (BPP) di tingkat Kecamatan se-Aceh.

Sementara itu terkait dengan Combine Harvester (Mesin Potong Padi) dan Traktor Roda Empat yang berada di gudang UPTD, Kadistanbun Aceh juga menjelaskan, mekanisasi Pertanian Indrapuri Aceh Besar merupakan hasil penarikan kembali dari pihak Kerjasama Operasional (KSO) untuk dilakukan perbaikan karena terdapat sejumlah kerusakan kecil yang harus diperbaiki.

Baca juga: Komisi II DPRA Temukan Seratusan Lebih Alat Mesin Pertanian Menumpuk Tak Disalurkan di UPTD Distanbun Aceh

Pemerintah Aceh, tambah A. Hanan, melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh mencanangkan program peningkatan indeks pertanaman (IP) padi di sawah dari rata-rata 1,6 kali menjadi tiga kali setahun atau yang lebih dikenal dengan IP-300 di Kecamatan Indrapuri,Aceh Besar yang pelaksanaan pengolahan
tanah pada Jumat 17 April 2020.

"Untuk itu telah disiapkan Traktor Roda Empat sebanyak 15 unit untuk mengolah lahan seluas 500 Hektare," ungkapnya.

Kadistanbun Aceh juga menjelaskan, pengelolaan Traktor Roda Empat, Combine Harvester, Power Threasher dan Corn Sheller dilaksanakan dengan pola KSO mengacu kepada Qanun Aceh No. 2 Tahun 2019 tentang Restribusi Aceh.

Dia menambahkan, alokasi pendistribusian Power Threaser dan Corn Sheller untuk penguatan KONSTRATANI di BPP telah dialokasikan untuk masing-masing Kabupaten sebagai berikut:

1. Bireuen 32 unit Power Threaser dan 24 unit Corn Sheller,
2. Aceh Besar 10 unit Corn Sheller,
3. Aceh Utara 9 unit Power Threaser dan 6 unit Corn Sheller,
4. Aceh Selatan 40 unit Power Threaser dan 15 Corn Sheller,
5. Simeulu 45 Power Threase,
6. Aceh Tengah 10 unit Power Threaser,
7. Gayo Lues 7 unit Corn Sheller,
8. Aceh Barat Daya 6 unit Corn Sheller.

"Alat tersebut sudah dan sedang distribusikan ke kabupaten/kota namun terkendala transportasi akibat kondisi Covid-19," ungkap A. Hanan.

A Hanan juga menjelaskan, sesuai Surat Gubernur Aceh No 520/5643 tanggal 2 April 2020 yang ditujukan kepada bupati/wali kota se- Aceh perihal stabilitas pangan Aceh, Pemerintah Aceh akan memfasilitasi traktor roda empat untuk pengolahan tanah dalam rangka percepatan tanam padi dan jagung.

"Dengan biaya operasional ditanggung oleh masing-masing kabupaten/kota," pungkasnya. []

Komentar

Loading...