Dari 1.282 Kasus ODP Covid-19 di Aceh, 678 Orang Selesai Dilakukan Pemantauan

Juru Bicara Covid-19 Aceh, Saifullah Abdulgani. [Foto: Istimewa]

BANDA ACEH - Juru Bicara Covid-19 Aceh Saifullah Abdulgani atau SAG kembali merilis informasi Percepatan Penanggulangan Covid-19 di Aceh, per tanggal 7 April 2020, yang merupakan akumulasi kasus yang dilaporkan Gugus Tugas Covid-19 dari 23 kabupaten/kota se Aceh.

“Jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) Aceh per hari ini sebanyak 1.282 kasus. Ada penambahan sebanyak 43 kasus dibandingkan kemarin 1.239 kasus. Sajauh ini, jumlah pasien berstatus ODP yang telah selesai proses pemantauan sebanyak 678 kasus, 604 ODP lainnya masih dalam proses pemantauan petugas kesehatan,” kata SAG dalam keterangan tertulisnya yang diterima acehonline.co, Selasa malam.

SAG kembali menghimbau agar masyarakat tidak perlu menyikapi berlebihan bila ada warganya yang baru tiba dari wilayah penularan Covid-19, baik dari dalam maupun dari luar negari.

“Yang penting mereka melakukan isolasi mandiri di rumah selama 14 hari dan menjaga jarak antar sesama (physical distancing),” ujarnya.

Sementara jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP), menurut SAG, hingga saat ini tercatat sebanyak 57 kasus, bertambah dua kasus dibandingkan kemarin, 55 kasus.

“Dari jumlah itu, 9 pasien masih dirawat di rumah sakit rujukan provinsi maupun kabupaten/kota, termasuk satu pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19, sedangkan 46 orang lainnya telah diperbolehkan pulang,” jelasnya.

Data Covid-19 Aceh hingga Selasa, 7 April 2020. [Sumber: Dinkes Aceh]
Di antara 46 pasien berstatus PDP yang perbolehkan pulang oleh tim medis, SAG menjelaskan, tiga orang merupakan pasien yang telah dinyatakan sembuh dari corona virus.

“Tim medis menganjurkan mereka untuk istirahat di rumah selama 14 hari ke depan dalam rangka penyembuhan total,” ungkapnya.

SAG mengatakan, dengan sembuhnya tiga pasien dari positif Covid-19, maka hingga saat ini Aceh mencatat 2 orang positif Covid-19.

“Satu orang masih dalam penanganan medis di RSUDZA, satu lagi telah meninggal dunia, pada Maret lalu,” ujarnya.

SAG melanjutkan, setiap orang yang sakit, baik ODP maupun PDP, bukanlah aib bagi dirinya mapun  bagi keluarganya, melainkan musibah.

“Karena itu wajib berikhtiar untuk sembuh. Caranya, datang ke pusat pelayanan kesehatan terdekat. Jawab setiap pertanyaan tenaga kesehatan sejujur-jujurnya suapay diagnosanya tepat dan pengobatan efektif (sembuh), anjur SAG.

Di sisi lain, lanjut SAG, bagi yang memiliki keluarga, tetangga, atau orang sedesa yang tatusnya ODP atau PDP, dia mengimbau agar tidak menyikapi berlebihan, seperti mengucilkannya. Melainkan, masyarakat harus dapat memberi dukungan dengan mendorongnya berobat, mendukung isolasi mandiri, dan hanya menjaga jarak.

“Menunjukkan sikap mengucilkan dapat menyebabkan ODP atau PDP itu  menutup diri dan enggan berobat, sementara penularan bisa terus terjadi dan meluas,” pungkas SAG. []

Komentar

Loading...