Demo dan Segel Kantor Desa, Kaum Emak-emak Tuntut Keuchik Tumpok Teungoh Mundur

Kaum emak-emak di Gampong Tumpok Teungoh Kota Lhokseumawe menyegel kantor kepala desa setempat. [Foto: AcehOnline/Jefry]

LHOKSEUMAWE - Kaum emak - emak Gampong Tumpok Teungoh, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe melakukan aksi demo dan menyegel kantor desa, Rabu (13/5/2020). Dalam aksi itu, mereka meminta agar pimpinan gampong itu mundur atau turun dari jabatan keuchik (kepala desa).

Puluhan kaum wanita ini merupakan warga lima dusun, di mana sebelumnya mereka berkumpul di lingkungan pekarangan Masjid Al-Muklisin sejak jam 10 pagi. Mereka bermaksud ingin bertemu pimpinan gampong tersebut untuk menyampaikan langsung unek-uneknya.

Namun, setelah ditunggu lama Keuchik Hermansyah tak kunjung datang. Akibatnya, massa pendemo berang dan langsung mengambil kayu serta triplek untuk menyegel kantor desa. Tidak sampai di situ, kaum ibu ini juga mendatangi kediaman pribadi keuchik, namun usaha mereka gagal untuk bertemu pimpinan gampong tersebut.

Keterangan yang dihimpun acehonline.co di lapangan, aksi tersebut mereka lakukan karena mereka merasa “gerah” dengan kinerja pemerintah gampong yang dinilai terkesan jalan di tempat, namun menurut mereka anggaran yang dialokasikan oleh pemerintah pusat di setiap tahun selalu tak tersisa.

“Banyak bangunan dan program di gampong kami mangkrak dan tidak jalan, di antaranya pembangunan kantor Keuchik yang sudah empat tahun terus menerus dialokasikan angaran untuk pengerjaannya. Bahkan dari tahun 2015 hingga 2019, Rp700 juta anggaran desa ludes, namun bangunan tersebut sampai saat ini belum dapat digunakan,” jelas Rosnidar salah seorang pendemo.

Selain itu, tambah Rosnidar, program Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) juga tidak jelas, semua hanya terkesan untuk menghabiskan anggaran saja. Semua usaha milik gampong tidak berjalan, seperti, Babershop Bunga Desa yang menguras anggaran dana desa Rp200 juta lebih pada Tahun Anggaran 2018 dan 2019.

"Selain itu ada juga usaha Foto Copy, serta usaha Isi Ulang. Semua usaha milik Gampong Tumpok Teungoh yang dibangun dengan anggaran dana desa dan dikelola oleh BUMG juga tidak jalan. Uang negara ratusan juta terkesan tak bermanfaat dan mubazir," sebutnya.

Karenanya, kata dia, pihaknya menjumpai keuchik. Sebagai masyarakat, mereka berhak mempertanyakan masalah tersebut. “
Keuchik gampong kami pengecut, tidak berani menjumpai masyarakatnya saat keadaan seperti ini.

"Hal ini dapat menunjukkan Pemerintah Gampong Tumpok Teungoh bukan pemerintah yang mengayomi masyarakat, tapi pemerintah yang menzalimi masyarakat dari ketidak transparansi anggaran dari segala bentuk kegiatan," ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Desa (Sekdes) Tumpok Teungoh, Asral Usman, ketika diminta tanggapannya enggan berkomentar

"Bek dilei lon hana siap, tulis montoeng pue yang dipeugah lee masyarakat (jangan dulu saya tidak siap, tulis saja apa yang dikatakan masyarakat," ujarnya singkat. []

Komentar

Loading...