Dinilai Jadi Sumber Bencana, Anggota DPRA Desak Pegunungan Pantan Terong Dijadikan Hutan Lindung

Kondisi pegunungan di Pantan Terong Aceh Tengah yang dinilai menjadi penyebab longsor dan banjir bandang. [Dok. Yahdi Hasan]

BANDA ACEH – Anggota Komisi 2 DPRA yang membidangi Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Yahdi Hasan, menilai pegunungan pantan terong menjadi sumber bencana alam seperti banjir bandang yang terjadi di Aceh Tengah beberapa waktu lalu. Untuk itu, dia mendesak Pemerintah Aceh agar menetapkan pegunungan itu menjadi kawasan hutan lindung, agar dapat melindungi masyarakat dari bahaya bencana alam.

“Dari informasi yang kami terima, di kawasan pegunungan Pantan Terong kerap dilakukan perambahan hutan. Bahkan, ada oknum pejabat yang membuka lahan perkebunan di kawasan itu. Jika ini tidak disikapi, maka masyarakat Aceh Tengah yang bermukum di bawah pegunungan akan terus terancam bahaya longsor dan banjir bandang,” kata Yahdi Hasan kepada acehonline.co, Minggu (17/5/2020).

Akibat perambahan hutan yang terjadi di pegunungan Pantan Terong, Yahdi Hasan mengatakan, hal itu menyebabkan terjadinya banjir bandang dan lonsor di Aceh Tengah beberapa hari lalu, yang merugikan masyarakat hingga mecapai miliaran rupiah.

“Banyak kalangan masyarakat Aceh Tengah memang sudah memperkirakan jauh sebelumnya akan ada kejadian longsor di kawasan ini, karena adanya perambahan hutan yang terjadi di sejumlah titik di pegunungan Pantan Terong,” ungkapnya.

Selain perambahan hutan secara liar, Yahdi Hasan mengatakan pemerintah setempat juga membuka akses jalan, dan menjadikan kawasan pegunungan itu sebagai objek wisata islami. Di mana para wisawatan dapat melihat keindangan Kota Tekengon dan Danau Laut Tawar dari puncak gunung, serta menjadikan ikon pariwisata Aceh Tengah.

“Di sisi ekonomi itu baik, namun dari segi menjaga kelestarian alam, maka itu akan terganggu. Karena dengan adanya pembukaan akses jalan, maka perambah hutan akan mudah masuk dan melakukan perambahan hutan secara ilegal,” jelasnya.

Selain pegunungan Pantan Terong, Yahdi Hasan juga mendesak pegunungan Bur Pepanyi di Bener Meriah juga dijadikan kawasan hutan lindung.

“Saat musibah kemarin, di Bener Meriah juga terjadi banjir bandang, meskipun tidak separah di Aceh Tengah,” ungkapnya.

Anggota DPRA, Yahdi Hasan. [Foto: AcehOnline.co/Reza Gunawan]
Pentingnya menetapkan Bur Pantan Terong dan Bur Pepanyi sebagai kawasan hutan lingdung, kata Yahdi Hasan, dikarenakan terdapat beberapa wilayah kecamatan yang masyarakatnya bermukim di bawah kaki gunung tersebut, seperti Kecamatan Bebesen, Kebayakan, Bies, Kute Panang dan Kecamatan Silih Nara Angkup.

“Di daerah kawasan ini, masyarakatnya merasa ketakutan bila terjadi turun hujan lebat,” ungkap Yahdi Hasan yang menerima laporan dari masyarakat usai mengunjungi lokasi banjir bandang Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Atas laporan masyarakat tersebut, Yahdi Hasan mengatakan dirinya selaku wakil rakyat di Komisi 2 DPRA yang membidangi kehutanan dan lingkungan hidup bersama-sama anggota DPRA lainnya akan mendesak Pemerintah Aceh melalui instansi terkait untuk serius mencari solusi dari banjir bandang yang terjadi di Aceh Tengah dan Bener Meriah, hingga menetapkan dua kawasan pegunungan di dataran tinggi Gayo sebagai hutan lindung.

“Semoga ini dapat menjadi perhatian serius semua pihak, khususnya Pemerintah Aceh. Jangan sampai harus menunggu korban dulu baru kita bergerak. Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari bencana-bencana lain ke depannya, Aminn,” tutup politisi Partai Aceh ini. []

Komentar

Loading...