Plt Gubernur Aceh: Jam Malam Dihentikan Sampai Program Social Safety Net Dilakukan

Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah. [Foto: Istimewa]

BANDA ACEH - Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, mengatakan pemberhentian berlakunya jam malam dilakukan Pemerintah Aceh sampai nantinya program social safety net untuk melindungi pekerja informal dan harian seperti pelaku UMKM yang bergiat di malam hari bisa dilakukan. Hal itu penting untuk melindungi perekonomian pekerja dari pelemahan ekonomi akibat wabah Covid-19.

"Karena belum diikuti program sosial yang baik, jam malam kita hentikan dulu sampai kemudian nanti kita kembalikan. Banyak dari UMKM berdagang di malam hari," kata Nova di Banda Aceh, dalam keterangan tertulisnya yang diterima acehonline.co, Sabtu malam (4/4/2020), sebelum Forkopimda resmi mencabut penerapan jam malam.

Dengan adanya Maklumat Bersama Forkopimda Aceh terkait penerapan Jam Malam dicabut, kata Nova, pemerintah Aceh akan kembali pada peraturan pusat yaitu PP No.21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19. Artinya, pemerintah tetap mengimbau masyarakat untuk menghindari berkumpul secara berkelompok dan memberikan pembatasan secara sosial.

Nova meyakini, selama sepakan terakhir pembatasan aktifitas warga di malam hari telah memberikan efek luar biasa pada pembatasan penyebaran Covid-19 di Aceh.

"Setidaknya seminggu terakhir secara ekstrem kita sudah mencoba menghentikan penyebaran virus ini," kata Nova. "Paling tidak setengah dari 24 jam orang tidak berinteraksi dengan sosial."

Nova menegaskan dicabutnya maklumat tentang pembatasan jam malam untuk tidak diartikan oleh masyarakat, bahwa masyarakat boleh kembali berkumpul beramai-ramai. Ia meminta agar kedisiplinan masyarakat untuk terus ditingkatkan.

Dari data jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang ada, Nova menilai angka itu diyakini bukanlah angka ril. Dirinya mengkhawatirkan "puncak gunung es" terjadi usai pemerintah melakukan rapid tes di seluruh Aceh.

"Memang rapid tes yang disebar masih terbatas yaitu berjumlah 2.500 unit, dari 25 ribu target pemerintah Aceh,” jelasnya.

Karena kekhawatiran itu, Nova berharap masyarakat patuh untuk sementara waktu tetap di rumah agar mata rantai Covid-19 bisa tertangani. Sembari menunggu laboratorium Unsyiah dan Kemenkes diefektifkan, Nova mengimbau masyarakat untuk tetap menghindari keramaian.

"Yang pasti, berbagai kebijakan yang dibuat pemerintah bertujuan menghambat penyebaran Covid-19 di Aceh dan Indonesia,” tutup Nova. []

Komentar

Loading...