Positif Corona di Aceh Melonjak 22 Kasus, Pemerintah Tetapkan Zona Baru Covid-19

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pemerintah Aceh, Saifullah Abdulgani (SAG). [Foto: Istimewa]

BANDA ACEH - Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pemerintah Aceh, Saifullah Abdulgani (SAG) mengatakan kurva epidemiologi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) Aceh terjadi peningkatan. Korban virus corona dilaporkan melonjak dengan penambahan kasus baru sebanyak 22 orang.

“Kasus-kasus baru Covid-19 meliputi Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Utara, Bener Meriah, Langsa, dan luar daerah Aceh,” kata SAG dalam keterangan tertulisnya yang diterima acehonline.co, Selasa malam (28/7/2020).

SAG menjelaskan, warga Banda Aceh yang terkonfirmasi corona sebanyak sembilan orang (Kasus 172 s/d Kasus 180), warga Aceh Besar sebanyak tiga orang (kasus 181 s/d Kasus 183), warga Aceh Utara satu orang (Kasus 184).

Selanjutnya warga Bener Meriah sebanyak enam orang (Kasus 185 s/d Kasus 190), warga Langsa sebanyak dua orang (Kasus 191-Kasus 192), serta satu orang lainnya warga luar Aceh (Kasus 193) .

“Tren kasus Covid-19 Aceh belum stabil. Kemarin dilaporkan tiga kasus baru. Hari ini melonjak 22 kasus, sehingga totalnya sudah mencapai 193 kasus,” kata SAG.

Zona risiko Covid-19

Selanjutnya SAG mengatakan, Pemerintah melalui Gugus Tugas Covid-19 Pusat telah merilis Peta Zonasi Risiko terbaru pada 26 Juli 2020 (covid19.go.id). Zona Hijau (tidak terdampak) di Aceh meliputi Pidie Jaya, Nagan Raya, Subulussalam, Pidie, Aceh Singkil, Aceh Tenggara, dan Aceh Tengah. Sedangkan Simeulue, dan Gayo Lues termasuk Zona Hijau (tidak ada kasus Covid-19).

Zona Kuning (risiko rendah) meliputi Aceh Tamiang, Lhokseumawe, Bireuen, Aceh Jaya, Aceh Selatan, Sabang, Langsa, Banda Aceh, Aceh Barat, Aceh Timur, Aceh Utara, dan Bener Meriah. Sedangkan Zona Orange (risiko sedang) meliputi Aceh Barat Daya dan Aceh Besar.

“Zonasi risiko daerah tersebut dihitung berdasarkan indikator-indikator kesehatan masyarakat dengan menggunakan skoring dan pembobotan, seperti indikator epidemiologi, surveilans kesehatan masyarakat, dan indikator pelayanan kesehatan,” jelas SAG.

Akumulasi kasus

Selanjutnya SAG melaporkan jumlah akumulatif Covid-19 berdasarkan rekap data dari 23 kabupaten/kota, per tanggal 28 Juli 2020, pukul 18.00 WIB. Jumlah kasus Covid-19 di Aceh sudah mencapai 193 orang dengan rincian; 89 orang dalam perawatan, 94 orang sudah sembuh, dan 10 orang meninggal dunia.

Sementara itu, lanjut SAG, jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) di seluruh Aceh secara akumulatif sebanyak 2.342 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.321 orang sudah selesai isolasi mandiri, dan 21 orang dalam pemantauan Tim Gugus Tugas Covid-19.

Sedangkan, jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) masih sama dengan kemarin, yaitu 136 kasus. Dari jumlah tersebut, tiga PDP dalam perawatan, 131 PDP telah dinyatakan sembuh, dan dua orang lainnya meninggal dunia

Shalat Idul Adha di Zona Hijau

Selain itu, SAG menyampaikan, shalat Idul Adha 1441 H/2020 M dapat dilaksanakan di semua daerah Zona Hijau.

“Di daerah Zona Kuning dan Zona Orange/Merah tergantung keputusan bupati/wali kota,” ungkapnya.

Menurut Jubir Covid-19, yang juga Juru Bicara Pemerintah Aceh itu, masyarakat diimbau lebih disiplin menjalankan protokol kesehatan secara konsisten, termasuk pada saat menjalankan shalat Idul Adha 1441 H yang akan datang.

“Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, telah menyurati bupati/wali kota pada 20 Juli 2020 terkait pelaksaan shalat berjamaah pada Idul Adha nanti. Shalat Idul Adha dapat dilaksanakan di semua daerah Zona Hijau dengan memperhatikan protokol kesehatan,” ungkap SAG.

“Sedangkan di daerah Zona Kuning dan Zona Orange/Merah, tergantung pada keputusan bupati/wali kota masing-masing, setelah berkoordinasi dengan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) dan Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, yang juga menerapkan protokol kesehatan secara ketat,” tambahnya.

Selain pada pelaksanaan salat Idul Adha, tambah SAG, protokol kesehatan juga harus diperhatikan pada penyembelihan hewan qurban. Kebersihan tenaga (personal hygine), kebersihan tempat dan peralatan yang dipergunakan harus mendapat perhatian serius. Prinsip-prinsip jaga jarak juga harus diterapkan pada saat pembagian daging hewan qurban kepada masyarakat, katanya.

Selanjutnya SAG mengharapakan, bupati/wali kota bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh agama, Panitia Shalat Idul Adha, dan Panitia Qurban, hendaknya melakukan sosialisasi dan pengawasan untuk memutuskan rantai penularan virus corona.

“Protokol kesehatan satu-satunya cara efektif pencegahan penularan virus corona, selain juga terus berdoa kepada Allah SWT agar kita semua mendapat perlindungan-Nya,” ujar SAG. []

Komentar

Loading...