Tenaga Medis Aceh Keluhkan Isolasi Sosial dari Masyarakat

Petugas medis RSUDZA Banda Aceh yang berada di ruang isolasi Respiratory Intensive Care Unit (RICU) untuk pasien Covid-19 mengenakan pakaian khusus atau alat pelindung diri, Kamis (19/3/2020). [Foto: Acehonline.co/Reza Gunawan]

BANDA ACEH – Sebagian besar tenaga medis di Aceh mengeluhkan isolasi sosial dari masyarakat. Sebab profesi mereka yang berisiko terlular corona, dikhawatirkan adanya isolasi sosial terhadap tenaga kesehatan yang melayani pasien Corona Virus Desease 2019 (Covid-19).

Ironi tersebut terungkap dari pemaparan hasil kajian terkait perilaku perlidungan diri tenaga kesehatan terhadap pandemi Covid-19 di provinsi Aceh, Senin (13/4/2020). Kajian dimaksud merupakan hasil survei Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), yang merupakan bagian dari Satgas Covid-19 universitas tersebut.

Survei ini diikuti oleh 1.132 responden dari 12 profesi kesehatan yang bertugas di layanan kesehatan publik di 23 kabupaten/kota di Aceh. Salah satu hasilnya, sebagian responden yang merupakan tenaga medis tersebut mengeluhkan isolasi sosial dari masyarakat karena profesi mereka.

“Beberapa keluhan disebutkan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Aceh tentang adanya petugas medis yang ditolak warga kampungnya saat akan kembali ke tempat tinggal usai bertugas melayani pasien Covid-19 itu benar,” ucap dr Ichsan.

Ketua Tim Survei TDMRC itu menjelaskan, lebih dari 90 persen responden merasa dirinya sangat berisiko tertular virus corona dalam melakukan tugas. Selain itu, terdapat ironi yang berkembang dalam masyarakat yaitu adanya isolasi sosial terhadap tenaga kesehatan yang melakukan pelayanan kepada pasien Covid-19.

Menurut dia, ini menjadikan stressor tersendiri bagi petugas pelayanan kesehatan di lini terdepan penanganan pasien Covid-19 ini. Stigma tersebut justru bisa melemahkan semangat mereka melayani, terutama saat terjadi wabah seperti ini.

Selain itu, hasil kajian ini juga menunjukkan 51 persen responden merasa tempat mereka bekerja belum memberikan perlindungan optimal agar terhindari dari covid-19. Terkait upaya perlindungan diri, 96 persen responden menjawab mereka selalu berupaya meningkatkan proteksi diri sejak isu pandemi merebak. Salah satunya dengan sering mencuci tangan.

Lalu, lebih dari 90 persen responden menyebutkan mereka selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah memeriksa pasien. Adapun Alat Pelindung Diri (APD) yang paling sering digunakan oleh responden adalah masker bedah (80 persen) dan handscoen (55.7 persen). Dalam survei ini, juga terungkap 77,9 persen tenaga kesehatan yang menjadi responden masih kesulitan memperoleh APD saat bertugas.

“Melalui kajian ini, kami berharap pemerintah bisa memberikan dukungan penuh kepada tenaga kesehatan. Begitu pula masyarakat, agar tidak mengucilkan mereka yang telah berjuang menghadapi pandemi ini,” pungkas Ichsan. []

Dari hasil kajian ini, Unsyiah memberikan beberapa rekomendasi kepada Pemerintah Aceh:

Pertama, memberikan pelatihan yang memadai tentang upaya proteksi diri dan penggunaan APD bagi tenaga kesehatan di provinsi Aceh secara merata.

Kedua, memastikan ketersedian APD bagi tenaga kesehatan, mulai dari mereka yang bekerja di rumah sakit rujukan Covid-19 sampai ke tingkat layanan primer.

Ketiga, menjamin kesejahteraan baik materiil maupun social bagi tenaga kesehatan terutama mereka yang melakukan pelayanan/penanggulangan wabah Covid-19 secara langsung.

Keempat, memberikan jaminan kesehatan bagi tenaga medis dengan asuransi kecelakaan kerja terbaik, mengingat resiko yang mungkin dialami pada saat menangani pasien Covid-19 sangat tinggi.

Kelima, menyediakan asuransi jaminan hidup bagi keluarga yang ditinggal jika ada tenaga medis yang gugur dalam menjalankan tugas mulia menangani pasien Covid-19.

Komentar

Loading...