WALHI Aceh Pertanyakan Izin Pengambilan Batu Giok di Blang Sapek Nagan Raya

Pengambilan material batu giok di kawasan Blang Sapek, Kecamatan Suka Makmue, Nagan Raya. [Dok. Walhi Aceh]

BANDA ACEH - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh mempertanyakan izin lokasi pengambilan material batu giok oleh pabrik pengolahan batu giok di kawasan Blang Sapek, Kecamatan Suka Makmue, Nagan Raya tanpa ada kajian lingkungan sebagai pemenuhan aspek hukum.

Direktur WALHI Aceh, Muhammad Nur, dalam keterangan tertulisnya kepada acehonline.co, Senin (13/4/2020), mengatakan pembangunan pabrik material batu giok untuk material lantai mesjid, membutuhkan material campuran lain dengan jumlah besar dan bagaimana pola pengambilan material batu giok tersebut. Sehingga, modus bangun mesjid patut di waspadai hingga tidak muncul pabrik pembuatan mamar atau keramik illegal yang dibungkus rumah ibadah.

"Kekhawatiran dampak lingkungan hidup mesti di waspadai sejak dini. Ketika batu giok di kawasan pergunungan yang diambil dapat menyebabkan longsor ketika dimusim hujan," ujarnya

Menurutnya, pabrik pengolahan batu giok untuk pemenuhan material lantai mesjid dan perkantoran menunjukan akan di produksi dalam jumlah besar, untuk itu WALHI Aceh mengingatkan pemerintah Aceh dan Nagan Raya pengambilan material mesti dilakukan melalui kajian lingkungan sebagai bagian yang tidak terpisahkan pemenuhan aspek hukum sebelum mengambil dan mengolah menjadi mamar atau keramik, WALHI Aceh menduga pembangunan mesjid menjadi alasan dalam mengambil material tanpa izin.

"Pemerintah Aceh dan Kabupaten Nagan Raya harus memastikan secara serius lokasi pengambilan batu giok tersebut dan mempertanyakan kelengkapan dokumen izin bahkan kegiatan berada dalam hutan lindung harus mendapatkan izin pinjam pakai dari KLHK," ujarnya,

"Untuk itu kita berharap PPNS dibantu lembaga penegak hukum untuk mengontrol dan memeriksa kelengkapan dokumen dalam proses pengambilan material jika tidak ada izin maka wajib dihentikan," sebut Muhammad Nur. []

Komentar

Loading...