Mengenang Rivalitas Panas Lee Chong Wei dan Lin Dan

Lee Chong Wei dan Lin Dan, bersahabat di luar, menjadi musuh di lapangan. [Grafis: acehonline.co]

BULU TANGKIS - Olah raga bulu tangkis pernah punya pemain hebat yang sangat disayangkan menjadi rival di waktu yang sama. Lin Dan, pebulutangkis asal China, dikenal sebagai "Super Dan", memiliki reputasi sebagai anak nakal bulu tangkis. Ia memiliki suatu hal yang tidak biasa untuk pemain China, banyak tato. Selain itu, Lin Dan penuh percaya diri di lapangan.

Di sisi lain, Lee Chong Wei, asal Malaysia, adalah karakter yang sangat berbeda. Ia sangat tenang, bersahaja, tidak banyak gaya, tapi bisa 'mematikan' lawan di lapangan.

Mereka bertemu di final pertama kali lima belas tahun yang lalu di stadion Kuala Lumpur. Lee yang saat itu berusia 22 tahun, jatuh ke lantai, meninju udara dan meniupkan ciuman ke kerumunan setelah kemenangannya yang berlangsung 88 menit dengan 17-15, 9-15 dan 15-9. Tepat di hadapan pendukungnya yang penuh sesak meneriakkan namanya. Lee berhasil menjungkalkan Lin Dan (21 tahun), mengejar ketertinggalan di game pertama dan terakhir. Dari sini, rivalitas keduanya menjelma sebagai salah satu yang terpanas di kancah bulu tangkis dunia.

"Semua orang melihat bagaimana (Lin) bermain. Dia sangat bagus dalam serangan dan pukulan overhead serta pukulan forehand crosscourt berbahaya. Jadi, saya sangat bangga dan memuaskan untuk mengalahkannya," kata Lee, yang merupakan juara bertahan, setelah kemenangannya di Stadion Bulu Tangkis Kuala Lumpur, dikutip dari NST.

Pertandingan itu menjadi salah satu poin tertinggi bagi Lee, yang kehilangan empat Kejuaraan Dunia dan final Olimpiade melawan Lin Dan, pemain China yang hebat dan pensiun tahun lalu, tanpa memenangkan salah satu dari dua gelar teratas olahraga itu.

Lee dan Lin bertemu total 40 kali, dengan pemain China itu secara meyakinkan menang head-to-head 28-12.

Pertandingan Olimpiade pada tahun 2008 dan 2012 adalah salah satu pertarungan paling berkesan di tunggal putra, dengan keduanya menikmati sejarah panjang sebagai pemain nomor satu dunia.

Lin menang dalam pertandingan dua game langsung di Beijing pada 2008, tetapi Lee nyaris menang dengan perebutan emas di London 2012, memimpin 19-18 dalam pertandingan game penentuan, sebelum akhirnya gagal memastikan kemenangan.

Lee kehilangan gelar juara dunia karena Lin pada 2011 dan kemudian pada 2013 di China, ketika AC mati secara misterius pada pertengahan pertandingan dan pemain Malaysia itu ditandu karena kejang saat sedang bertanding. Seperti katanya, Lee hanya mampu menjadi bayang-bayang bagi Lin.

"Persaingan mereka terjadi pada periode ketika bulu tangkis membutuhkan inspirasi," KM Boopathy, seorang jurnalis olahraga veteran Malaysia yang menyaksikan pertandingan tahun 2005, mengatakan kepada AFP. "Mereka berhasil membuat olahraga ini sangat populer."

Meskipun mereka berteman di luar lapangan dan berbagi rasa saling menghormati yang kuat, Lee dan Lin adalah karakter yang sangat berbeda, dan rivalitas mereka akan menjadi sejarah besar dalam dunia olah raga bulu tangkis.[]

Komentar

Loading...