Tarmizi Panyang Desak Pemerintah Aceh Tinjau Ulang Kebijakan Pemberlakuan Jam Malam

Ketua Fraksi PA di DPRA, Tarmizi Panyang. [Foto: Acehonline.co / Reza Gunawan]

BANDA ACEH - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Tarmizi Panyang meminta Pemerintah Aceh untuk meninjau ulang kebijakan pemberlakuan jam malam dalam menangkal penyebaran virus corona (Covid-19) Hal itu disampaikan Tarmizi menyikapi banyaknya masyarakat yang mengeluh dengan kebijakan tersebut.

Pasalnya, Tarmizi Panyang menilai, banyak pedagang yang biasanya mengais rezeki di malam hari tidak dapat lagi menjalankan aktivitas usahanya untuk menutupi kebutuhan sehari-harinya. Begitu juga masyarakat Aceh lainnya yang ada keperluar di malam hari tak bisa menjalakan aktivitasnya, mengingat di atas pukul 20.30 WIB tak lagi dibenarkan aktivitas di luar rumah. Aparat keamanan TNI/Polri dan aparatur desa telah memperketat setiap orang keluar masuk di atas jam tersebut.

"Menurut saya kebijakan pemberlakuan malam ini haarus dievaluasi kembali. Bukan hanya soal hajat hidup (ekonomi) masyarakat Aceh di malam hari terganggu, tapi pemberlakuan jam malam dengan pengerahan pasukan TNI/Polri juga dapat menimbulkan trauma konflik masa lalu di antara masyarakat Aceh," kata Tarmizi Panyang dalam keterangan tertulisnya yang diterima acehonline.co, Selasa (31/3/2020).

Politisi Partai Aceh ini melihat, pemberlakuan jam malam tidak efektif menangkal penyebaran virus corona, pasalnya corona tidak mengenal malam hari. Mestinya yang dipertegas Pemerintah Aceh adalah pendekatan yang sudah dilakukan selama ini, yaitu social distancing (menjaga jarak fisik) kepada masyarakat.

"Kita berlakukan jam malam sementara ativitas harinya sampai pukul 20.30 tetap berjalan, ini tidak efektif karena interaksi masyarakat tetap berjalan," ucapanya.

"Harusnya social distancing-nya yanag benar-benar dipertegas. Misalkan pedagang, baik itu pedagang nasi dan lain sebagainya, tetap dibolehkan beraktivitas/berjualan dengan catatan hanya melayani pesanan bungkus, tidak nongkrong atau makan di lokasi, seperti ini kan bisa juga, tidak mesti memberlakukan jam malam. Kalau ingin maksimal dalam memutus mata rantai penyebaran virus corona maka lockdonw adalah opsinya, bukan pemberlakukan jam malam layaknya darurat militer," tegas Tarmizi Panyang.

Kemudian hal yang paling penting, tegas Tarmzi lagi, adalah melakukan pengawasan super ketat terhadap setiap orang yang pulang/masuk ke Aceh baik di Bandara, Pelabuhan maupun via darat di perbatasan Sumatera Utara.

"Terutama lagi yang pulang dari Malaysia secara ilegal. Selama informasi yang kita terima arus bus keluar masuk Aceh-Sumut masih seperti biasa. Seharusnya setiap orang yang pulang ke Aceh dan setiap yang masuk ke Aceh, sebelum mereka berinteraksi dengan keluarga, sanak famili, dengan orang banyak, mereka harus benar-benar diperiksa kesehatannya begitu masuk ke daratan Aceh, selanjutnya dikarantina selama 14 hari," ungkap Tarmizi Panyang.

"Masyarakat juga harus sadar akan bahaya virus corona ini. Setiap yang pulang dari luar Aceh harus melapor dan mengisolasikan diri. Pihak keluarga juga harus ke aparat desa bila ada anggota keluarganya yang pulang dari luar Aceh, selanjutnya diteruskan ke tingkat kecamatan hingga ke Satgas Covid-19. Kalau kita sama-sama menjaga, Insya Allah penyakit ini akan segera lenyap dari Aceh," jelas anggota DPRA asal Dapil Aceh Utara - Lhoksemawe ini. [Parlementaria]

Komentar

Loading...