Arab Saudi Bungkam Terkait Kemenangan Biden di Pilpres Amerika

Raja Salman bin Abdul Aziz. [Foto: Reuters]

RIYADH - Kerajaan Arab Saudi belum berkomentar terkait kemenangan Joe Biden di Pemilu AS. Padahal, sudah sehari berlalu sejak Joe Biden diumumkan sebagai Presiden Amerika Terpilih ke-46. Uniknya, di saat Presiden Tanzania kembali terpilih, yang bersamaan dengan Pemilu AS, mereka mengucapkan selamat.

Apabila menilik ke belakang, wajar Arab Saudi memilih berhati-hati dalam berkomentar. Joe Biden, dalam kampanyenya, kerap berkata bahwa dia akan mengkaji kembali hubungan Amerika Arab Saudi. Salah satu alasannya, kasus pembunuhan Jamal Khashoggi yang diduga kuat melibatkan keluarga Kerajaan Arab Saudi. Selain itu, soal kasus-kasus HAM terkait Arab Saudi.

"Para pemimpin Arab Saudi khawatir Pemerintahan Biden akan menimbang kembali hubungan dengan Arab Saudi, termasuk kerjasama pertahanan yang pada akhirnya bisa mengakhiri konflik di Yemen," ujar pakar dari lembaga think tank Inggris, Chatham House, dikutip dari Reuters, Minggu (8/11/2020).

Selama ini, Arab Saudi memang lebih dekat ke Donald Trump. Sebagai contoh, Arab Saudi tidak memberikan "perlawanan" berarti ketika Donald Trump menjadi broker dalam normalisasi negara teluk Arab dengan Israel. Arab Saudi hanya berkomentar jangan sampai normalisasi tersebut menganggu penyelesaian sengketa Palestina-Israel.

Contoh lain, Arab Saudi juga mendukung penuh langkah Amerika memberikan tekanan terhadap Iran. Sebagaimana diketahui, Iran adalah musuh bersama Arab Saudi dan Amerika. Oktober lalu, ketika sanksi embargo perdagangan senjata Iran diakhiri, Amerika menolak hal itu dan mendorong perpanjangan sanksi dari PBB. PBB menolak.

Di sisi perdagangan, Arab Saudi juga salah satu rekan dagang penting. Arab Saudi, di satu sisi, adalah eksportir minyak besar ke Amerika. Amerika, di sisi lain, adalah pedagag persenjataan utama ke Arab Saudi. Dengan kalahnya Donald Trump, semua kerjasama itu bisa buyar atau minimal dikaji ulang.

Seorang warga Arab Saudi, Abu Zaid, mengatakan bahwa warga pun waspada dengan kemenangan Joe Biden sebagai Presiden Amerika. Mereka khawatir Amerika tak akan lagi membantu Arab Saudi melawan Iran.

"Saya jujur tidak senang Joe Biden menang. Namun, saya harap, dia belajar dari kesalahan Obama bahwa Iran adalah musuh kita semua," ujar Zaid.

Seorang pejabat di Kerajaan Arab Saudi, yang enggan disebutkan namanya, mengakui kekhawatiran-kekhawatiran tersebut. Walau begitu, ia optimistis hubungan Amerika dan Arab Saudi tidak akan terlalu berubah banyak. Sebab, kedua negara sudah lama bekerjasama dan hal itu lebih dalam dibanding yang terlihat.

"Hubungan Amerika-Arab Saudi sungguh dalam, strategis, dan berkelanjutan sehingga tidak mudah berubah hanya karena pergantian kepemimpinan," ujar pejabat itu.

Di saat Arab Saudi bungkam, Iran bersuara. Presiden Iran, Hassan Rouhani, berharap Joe Biden belajar banyak dari kasus Donald Trump dan mulai memperbaiki hubungan Amerika-Iran. Ia mengklaim ada banyak kebijakan Donald Trump yang berdampak buruk ke Iran mulai dari penarikan diri dari kesepakatan nuklir dan pembunuhan Jenderal Qaseem Soleimani.

"Kebijakan-kebijakan Donald Trump yang merusak akhirnya mendapat perlawanan dari warga Amerika. Pemerintahan Amerika selanjutnya harus melihatnya sebagai kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Iran ingin interaksi yang konstruktif," ujar Hassan Rouhani.

Berbeda dengan sikap Arab Saudi maupun Iran, jurnalis di Timur Tengah lebih pesimistis. Menurut mereka, Joe Biden tidak akan membuat banyak perubahan baik ke Arab Saudi maupun Iran. Hal itu, salah satunya, karena Joe Biden lebih perhitungan dibanding Donald Trump.

"Jangan lupa, Joe Biden adalah Wapres Amerika di masa pemerintahan Barack Obama, ketika perang di Yemen dimulai," ujar jurnalis Yemen, Ibrahim Matraz. []

Komentar

Loading...