Ditengahi Rusia, Armenia dan Azerbaijan Teken Kesepakatan Akhiri Perang

Bendera Azerbaijan dan Armenia. [Foto: Reuters]

Armenia dan Azerbaijan sepakat melakukan gencatan senjata untuk menghentikan peperangan di kawasan Nagorno-Karabakh.

Dilansir Associated Press, Selasa (10/11/2020), kesepakatan itu diteken langsung oleh Perdana Menteri Azerbaijan Nikol Pashinian, Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev dan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

"Untuk rekan-rekan sebangsa, saudara-saudari. Saya secara pribadi membuat keputusan sulit bagi saya dan kita semua. Saya sudah menandatangani kesepakatan untuk mengakhiri perang di Karabakh dengan Rusia dan Azerbaijan terhitung mulai pukul 13.00. Pernyataan yang sudah diterbitkan sangat menyakitkan bagi saya dan rakyat saya," kata Pashinian dalam pernyataan yang diunggah melalui media sosial Facebook.

Peperangan besar antara Azerbaijan dan Armenia memperebutkan wilayah sengketa Nagorno-Karabakh terjadi sejak akhir September lalu.

Pashinian mengatakan dia membuat keputusan itu berdasarkan analisis mendalam dari situasi pertahanan dan orang-orang yang tahu betul kondisi di Nagorno-Karabakh. Menurut dia, keputusan gencatan senjata itu adalah jalan keluar terbaik.

"Ini bukan kemenangan, tetapi juga tidak ada kekalahan sampai kita mengaku kalah. Kami tidak akan menyatakan kami kalah dan ini harus menjadi masa baru bagi kebangkitan dan persatuan nasional," ujar Pashinian.

Di dalam pernyataan itu,Pashinian menyatakan memberikan penghormatan setinggi-tingginya bagi seluruh penduduk sipil dan para tentara, mulai dari prajurit hingga jenderal, yang berkorban nyawa dalam peperangan itu.

"Hidup Armenia, Hidup Artsakh," demikian isi pernyataan Pashinian.

Secara terpisah, Putin juga menyampaikan kesepakatan gencatan senjata antara Armenia dan Azerbaijan.

"Hari ini, 9 November, Presiden Republik Azerbaijan Aliyev, Perdana Menteri Republik Armenia Pashinian, dan Presiden Federasi Rusia telah menandatangani pernyataan gencatan senjata dan seluruh kegiatan militer di wilayah konflik Nagorno-Karabakh, terhitung sejak pukul 00.00 waktu Moskow," kata Putin.

Menurut Putin, Armenia dan Azerbaijan harus berada pada posisi terakhir di wilayah yang mereka rebut dalam peperangan.

Selanjutnya, Rusia akan mengirim pasukan penjaga perdamaian yang ditugaskan di sepanjang garis perbatasan di Nagorno-Karabakh, dan wilayah-wilayah yang menghubungkan daerah itu.

Selain itu, lanjut Putin, seluruh penduduk sipil yang mengungsi akibat peperangan diizinkan kembali. Kemudian wilayah itu akan diatur oleh Komisi Tinggi Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa.

"Pertukaran tahanan perang dan evakuasi jasad korban tewas bisa dilanjutkan. Simpul perekonomian dan transportasi di kawasan itu akan dibuka kembali dengan dipandu pasukan penjaga perdamaian Rusia," ujar Putin.

"Berdasarkan perjanjian ini, kami berharap akan menciptakan solusi jangka panjang dan menyeluruh bagi krisis di Nagorno-Karabakh secara adil bagi kepentingan masyarakat Armenia dan Azerbaijan," lanjut Putin. []

Komentar

Loading...