Presiden Iran Berharap Biden Perbaiki Kesalahan Trump

Rudal Balistik Iran. [Foto: Istimewa]

TEHERAN - Presiden Iran Hassan Rouhani berharap banyak dari pemerintahan Presiden Amerika terpilih Joe Biden. Ia berkata, menangnya Joe Biden adalah kesempatan bagi Amerika untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dibuat Donald Trump terhadap Iran.

"Kebijakan-kebijakan Donald Trump yang merusak akhirnya mendapat perlawanan dari warga Amerika. Pemerintahan Amerika selanjutnya harus melihatnya sebagai kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Iran ingin interaksi yang konstruktif," ujar Hassan Rouhani, dikutip dari kantor berita Reuters, Minggu (8/11/2020).

Sebagaimana diketahui, Iran dan Amerika sudah lama memiliki hubungan yang buruk. Di masa kepemimpinan Donald Trump, hubungan kedua negara semakin parah. Salah satunya, dipicu masalah kesepakatan nuklir atau dikenal juga sebagai JCPOA.

Pada tahun 2007, negara anggota tetap PBB mempermasalahkan aktivitas pengayaan nuklir Iran. Menurut mereka, berdasarkan laporan intelijen yang ada, walaupun program senjata nuklir Iran sudah dihentikan sejak 2003, pengayaan uranium tetap dilakukan. Uranium adalah salah satu bahan untuk membuat senjata nuklir.

Kekhawatiran PBB diperkuat pernyataan dari lembaga pengawas nuklir dunia, International Atomic Energy Agency. Dalam pernyataannya, IAEA mengatakan program nuklir adalah masalah yang sungguh serius. Alhasil, negara-negara anggota tetap PBB memutuskan untuk memberikan sanksi kepada Iran soal nuklir.

Pada 2015, Iran dengan negara-negara anggota tetap PBB akhirnya sepakat untuk mengurangi program pengayaan nuklir mereka. Selain itu, Iran juga setuju untuk diperiksa oleh inspektur secara berkala terhadap program pengayaan nuklir mereka. Sebagai gantinya, sanksi perdagangan senjata Iran akan diangkat lima tahun setelah kesepakatan nuklir diteken.

Ketika Donald Trump menjadi Presiden Amerika ke-45, ia memutuskan untuk mengeluarkan Amerika dari kesepakatan nuklir Iran. Menurutnya, kesepakatan itu terlalu menguntungkan Iran dan akan meminta PBB untuk kembali memperpanjang sanksi perdagangan senjata. PBB tidak menuruti kemauan Amerika.

Hal lain yang menjadi highlight hubungan Amerika - Iran di masa Donald Trump adalah pembunuhan General Qaseem Soleimani. Pada bulan Januari, Amerika meluncurkan serangan ke bandara Baghdad, di mana Soleimani berada. Pertimbangan Amerika saat itu, Iran dilaporkan berencana menyerang kantor diplomatik Amerika di Timur Tengah. Hingga sekarang, tuduhan itu tak terbukti dan hubungan Iran-Amerika belum membaik. []

Komentar

Loading...