Update Virus Corona di Dunia: 304.528 Orang Terinfeksi, 91.676 Sembuh, dan 12.973 Meninggal

Polisi di Italia mengenakan masker saat melakukan pemeriksaan terhadap calon penumpang kereta di Stasiun Milan. [Foto: Reuters]

Angka kasus terinfeksi virus corona di seluruh dunia masih terus meningkat. Hingga Minggu pagi (22/3/2020), data John Hopkins University, menunjukkan, ada 304.528 kasus terinfeksi, 12.973 orang meninggal dunia, dan 91.676 orang sembuh.

Data sehari sebelumnya, 271.629 kasus, 11.282 orang meninggal dunia, dan 87.403 orang sembuh. China masih mencatatkan kasus tertinggi, yaitu 81.305 kasus.

Melansir CNN, selain China, negara dengan kasus terbesar lainnya adalah Italia dan Spanyol. Sementara itu, negara-negara dengan jumlah kematian tertinggi adalah Italia, China, dan Iran.

Kematian Virus Corona Italia Tertinggi di Dunia

Italia kembali mencatat kematian tertinggi virus Corona (COVID-19) dalam sehari pada Sabtu kemarin, dengan 793 korban meninggal pada Sabtu.

Angka ini naik 19,6 persen setelah sehari sebelumnya melaporkan 627 kematian dalam 24 jam terakhir. Dengan lonjakan kasus pada Sabtu, maka total kematian virus Corona Italia mencapai 4.825 atau yang tertinggi yang pernah dialami negara manapun sejak wabah ini pecah.

Pada hari Kamis, korban meninggal di Italia melampaui Cina sebagai negara yang paling banyak mencatat kematian akibat virus.

Jumlah total kasus di Italia naik menjadi 53.578 dari 47.021 sebelumnya, meningkat 13,9%, kata Badan Perlindungan Sipil Italia, dikutip dari Reuters, 22 Maret 2020.

Wuhan Bebas Virus Corona

Beberapa wilayah di Wuhan, kota di Cina yang paling parah terdampak virus Corona, merayakan kemenangan perang melawan COVID-19 dengan pesta kembang api.

Pihak berwenang juga terlihat mulai membongkar pos pemeriksaan setelah tidak ada laporan kasus infeksi lokal baru selama tiga hari berturut-turut.

Pusat komando yang menangani krisis memerintahkan agar pos-pos pemeriksaan yang didirikan ketika kota itu dikunci pada Januari untuk menahan penyebaran virus, dibongkar mulai Jumat, ketika Wuhan bersiap untuk kembali bekerja, menurut laporan South China Morning Post, 22 Maret 2020.

Tetapi rute keluar kota akan tetap diblokir, menurut pemberitahuan yang dikeluarkan oleh pusat komando.

Infeksi Virus Corona di Malaysia Tembus 1.000 Kasus

Kasus virus Corona atau COVID-19 di Malaysia melonjak menjadi 1.183 pada Sabtu kemarin, setelah pemerintah melacak orang-orang yang ikut acara tabligh akbar.

Kementerian Kesehatan Malaysia melaporkan lima kematian dan 153 infeksi baru pada hari Sabtu, 90 di antaranya terkait ke acara di sebuah masjid akhir bulan lalu yang dihadiri oleh orang-orang dari dua puluh negara.

Acara keagamaan "Tabligh" yang berlangsung selama empat hari di masjid Seri Petaling dekat ibu kota, Kuala Lumpur, kini telah dikaitkan dengan 714 kasus di Malaysia atau 60% dari total kasus, dan setidaknya 840 kasus di seluruh Asia Tenggara, menurut laporan Reuters, 22 Maret 2020.

Malaysia memiliki jumlah kasus terkonfirmasi tertinggi di Asia Tenggara, meskipun Indonesia memiliki lebih banyak kematian yaitu 38 orang.

Total kasus Malaysia sekarang hanya di belakang Cina dan Korea Selatan di Asia.

Jepang telah mencatat 1.016 kasus dari kasus yang ditransmisikan secara domestik, meskipun penghitungannya melampaui Malaysia jika 712 kasus virus Corona dari kapal pesiar yang ditambatkan di dekat Tokyo bulan lalu dimasukkan.

Trump Abaikan Peringatan Intelijen

Presiden Donald Trump dilaporkan mengabaikan laporan intelijen Amerika Serikat pada Januari terkait bahaya virus Corona atau COVID-19 yang muncul di Cina.

The Washington melaporkan pengabaian Trump terhadap ancaman COVID-19 dari intelijen pada Jumat kemarin, mengutip pejabat AS yang mengetahui tentang peringatan intelijen tersebut.

Dalam laporannya, agen-agen intelijen menggambarkan sifat dan penyebaran global virus tersebut dan Cina meremehkan tingkat keparahannya, serta potensi langkah-langkah yang diperlukan pemerintah untuk menahannya. Namun, Trump memilih untuk mengabaikan atau tidak menanggapi secara serius laporan mereka.

"Donald Trump mungkin tidak mengharapkan ini, tetapi banyak orang lain di pemerintahan yang menyadari (ancaman), namun mereka tidak bisa membuat Trump melakukan sesuatu terkait penyebaran virus," kata pejabat itu kepada The Washington Post.

Iran Tolak Bantuan AS Atasi Virus Corona

Iran menolak tawaran Amerika Serikat untuk membantu memerangi pandemik virus Corona dengan menyebut tawaran itu sesuatu yang aneh.

Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam pernyataannya yang ditayangkan televisi hari Minggu, menyebut musuh utama Iran adalah Amerika dan tidak dapat dipercaya untuk setiap uluran tangannya.

"Beberapa kali Amerika menawarkan bantuan kepada kita untuk memerangi pandemik. Itu aneh karena anda menghadapi kegagalan di Amerika. Anda juga dituding pencipta virus ini," kata Khamenei, sebagaimana dilaporkan Reuters, 22 Maret 2020.

"Saya tidak tahu apakah ini benar. Namun ketika ada tuduhan semacam ini, mampukah manusia bijak mempercayai anda dan menerima tawaran bantuan anda? Anda boleh jadi memberikan bantuan medis ke Iran untuk menyebarkan virus itu atau mengakibatkan dia ada selamanya," ujar Khamenei.

Washington telah menawarkan bantuan kemanusiaan terhadap musuh bebuyutannya yang diserang virus Corona. Sudah 1,685 orang tewas dan 21,638 orang terinfeksi Corona di Iran. AS sendiri tengah menghadapi pandemik virus Corona yang parah. Virus itu telah menjangkiti seluruh negara bagian AS.

Gaza Konfirmasi Dua Kasus Pertama Virus Corona

Pihak berwenang di Gaza mengonfirmasi dua kasus pertama virus corona pada Minggu (22/3). Mereka mengindentifikasi pasien tersebut sebagai orang Palestina yang melakukan perjalanan ke Pakistan. Mereka langsung dikarantina saat mereka kembali ke negaranya.

Pada Kamis (19/3) Kementerian kesehatan Gaza mengungkapkan bahwa ada dua warga yang dinyatakan positif terinfeksi Covid-19 setelah mereka kembali dari Pakistan.

Mereka juga menekankan tak ada orang yang meninggalkan tempat karantina di dekat perbatasan Mesir dan tidak berbaur dengan populasi umum.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Ashraf Al-Qudra mengatakan bahwa pasien adalah dua orang pria berusia 30-40 tahun dan kondisinya stabil.

Para ahli telah memperingatkan bahwa epidemi di Gaza kemungkinan akan menjadi bencana, mengingat tingkat kemiskinan yang tinggi, populasi yang padat dan sistem kesehatan yang lemah.

Mengutip AFP pihak berwenang di Gaza mengatakan bahwa lebih dari 2.700 warga Palestina berada dalam isolasi di rumah, kebanyakan orang yang telah kembali dari Mesir. []

Komentar

Loading...