Aceh Timur Jadi Klaster Percontohan Budidaya Udang Nasional

Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indnesia, Slamet Soebjakto, menyerahkan bantuan kepada kelompok tani nelayan di Aula Serbaguna Pendodopo Bupati Aceh Timur, Rabu (15/7/2020). [Foto: Acehonline/Zulkifli]

IDI – Aceh Timur dijadikan klaster percontohan budidaya udang nasional dari lima kabupaten/kota se-Indonesia. Program ini ditargetkan dapat meningkatkan produksi udang nasional dengan kualitas unggul, sehingga mampu neningkatkan ekonomi masyarakat dan juga daerah setempat.

Bupati Aceh Timur Hasballah M Thaib yang akrab disapa Rocky, memaparkan potensi peningkatan ekonomi berbasis kerakyatan di sektor petani nelayan, saat pertemuan dengan Direktur Jendral (Dirjen) Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto, bersama rombongan lainnya di Aceh Timur, Rabu (15/7/2020), di aula serbaguna Pendopo Idi.

Dalam kesempatan itu, Rocky mengatakan Aceh Timur memiliki potensi besar untuk menampung program nasional dalam bidang perikanan budidaya. Dengan luas wilayah sekitar 6,286 Kilometer persegi, kabupaten tersebut memiliki tambak air payau sekitar 18. 679 hektare, serta tambak budidaya ikan air tawar lebih kurang 90,77 hektare.

“Dengan luas tambak air payau yang hampir sama dengan luas sawah yakni 18 ribu hektare lebih itu, kami yakin mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Untuk itu, kami sangat membutuhkan dukungan untuk membantu sarana dan prasarana infrasruktur pendukung lainnya, guna mendukung program ketahanan pangan nasional,” kata Rocky.

Berkaitan dengan sektor perikanan, Rocky menjelaskan, dari 24 Kecamatan di Aceh Timur, 14 di antaranya merupakan Kecamatan pesisir dan 120 desa pesisir yang tersebar dari Kecamatan Birem Bayeun hingga Kecamatan Madat dengan panjang 124 kilometer persegi garis pantai, luas Laut 1.683 kilometer persegi dan luas perairan umum 1.322 hektare.

“Untuk budidaya air tawar memiliki luas kolam lebih kurang 90,77 hektare dengan jumlah produksi 67,90 Ton per tahun. Sedangkan untuk budidaya air payau memilikj luas tambak lebih kurang 18.697 hektare dengan jumlah produksi 13.509 pertahun dan masih banyak produksi andalan lain seperti, kepiting, ikan bandeng, ikan nila, lele dan induk udang yang merupakan andalan nasional yang telah diekspor ke luar negeri seperti Australia, Singapura, Thailand dan lain sebagainya," jelas Rocky.

Rocky yang telah menjabat sebagai Bupati Aceh Timur dua periode itu juga meminta agar pemerintah pusat bisa membantu menghadirkan industri hilir ke daerah tersebut, agar mampu menigkatkan harga jual bahan baku yang dihasikan dari petani dan nelayan.

“Kendala kami di sini tidak memiliki industri, sehingga yang kami bawa ke luar merupakan barang mentahnya, yang nantinya dikirim kembali barang hasil olahan industri ke Aceh Timur yang dijual lebih tinggi. Hal yang paling sedehana adalah industri pakan ternak, bahan baku dari kami seperti jagung dan ikan busuk, dikirim ke Sumatera Utara, kemudian setelah diolah barang tadi pulang kampung dan dijual kepada petani dengan harga yang tinggi di pasaran,” kata Rocky sembari tertawa.

"Insya Allah, ke depannya Pemerintah Aceh Timur melalui Dinas Perikanan akan mencoba budidaya udang galah dan ikan jurung yang mempunyai nilai jual yang sangat tinggi,” ungkap Rocky.

“Hasil tangkap ikan pada tahun 2020 ini di Aceh Timur telah mencapai jumlah 28.750 ton dengan kisaran nilai rupiahnya sebesar Rp 680 juta," tambah Rocky.

Sementara itu, Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto, dalam sambutannya, mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang tinggi atas terlaksanannya rapat koordinasi POKJA Percepatan Produksi Udang Nasional di Aceh Timur.

"Komoditas udang masih akan menjadi andalan ekspor produk perikanan Indonesia. Pertimbangannya selain kita punya daya saing komparatif tinggi, yakni potensi pengembangan yang besar, juga udang merupakan komoditas yang memberikan share dominan terhadap devisa ekspor yakni sekitar 39 persen, terhadap nilai total ekspor produk perikanan nasional," ungkap Slamet Soebjakto.

Selama kurun waktu lima tahun terakhir ini (2015 - 2019), Slamet menjelaslan, produksi udang nasional tumbuh rata-rata sebesar 8,9 persen per tahun. Di mana pada 2019 tercatat angka volume produksi sementara mencapai 833.856 ton. Angka ini akan terus tumbuh, seiring proyeksi permintaan pasar udang global yang terus naik.

"Pada masa Pandemi Covid-19, terutama dalam Triwulan I memang telah memberikan tekanan kuat terhadap kinerja ekspor udang nasional. Ini seiring dengan kebijakan pembatasan impor yang diberlakukan negara-negara tujuan utama ekspor seperti USA, China dan Jepang. Terutama jika melihat trend market ekspor, China mencatat penurunan market share yang cukup besar," terang Slamet Soebjakto.

Namun demikian, kata dia, memasuki era new normal, permintaan pasar kembali terbuka. Bahkan saat ini, harga udang tercatat cukup tinggi.

“Tentu ini adalah momentum yang harus kita manfaatkan segera, bagaimana kita melakukan upaya percepatan dalam meningkatkan supply share pasar udang global saat ini. Oleh karenanya, forum ini harus menjadi titik awal komitmen kita dalam memberikan input sumber daya yang dimiliki masing-masing sektor dalam mendukung percepatan peningkatan produksi udang nasional," jelasnya.

Slamet juga meminta Pemkab Aceh Timur untuk dapat mengelola dengan baik program tersebut, agar mampu membawa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Kami sangat butuh dukugan dari berbagai pihak agar program ini bisa berhasil dan bisa dicontoh oleh kabupaten/kota lainnya se-Indonesia,” tutup Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Indonesia. []

Komentar

Loading...