BKPM Buka Pintu Masuk Bagi 11 Ribu Tenaga Kerja Asing ke Indonesia

Ilustrasi tenaga kerja asing. [Foto: Istimewa]

JAKARTA - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyatakan telah memberikan rekomendasi khusus bagi 6.758 perusahaan untuk bisa menanamkan investasi di Indonesia. Dengan rekomendasi khusus itu, ada 11 ribu tenaga kerja asing (TKA) yang berpotensi bisa masuk dan bekerja di Indonesia.

Deputi Pengembangan Iklim Penanaman Modal BKPM Yuliot mengungkapkan pandemi covid-19 membuat pemerintah membatasi tenaga kerja asing untuk masuk ke Indonesia. Padahal, banyak perusahaan yang mau menginvestasikan dananya di Indonesia dan butuh karyawan asing.

Yuliot bilang hal ini sempat menjadi kendala realisasi investasi di Indonesia. Sebab, investor jadi menahan investasinya di dalam negeri.

"Terobosan yang dilakukan BKPM, kami berikan rekomendasi ke perusahaan yang lakukan kegiatan investasi, pimpinan perusahaan, direksi, dan komisaris, TKA, jalankan bisa masuk dan laksanakan komitmen investasi," ujar Yuliot dalam webinar bertajuk Peluang Mendorong Investasi Saat Pandemi, Senin (9/11).

Yuliot menyatakan rekomendasi khusus itu berhasil membuat investasi dari perusahaan-perusahaan yang butuh TKA menjadi lebih lancar. Dengan demikian, investasi di Indonesia tak melorot terlalu dalam di masa pandemi.

Meski membuka celah TKA masuk, ia menjamin investasi dari 6.758 perusahaan itu juga membuka lapangan pekerjaan baru di Indonesia. Yuliot menyatakan ribuan perusahaan itu berpotensi menyerap 3 juta tenaga kerja di Indonesia.

Lebih lanjut Yuliot menjelaskan pihaknya menargetkan realisasi investasi sepanjang 2021-2024 mencapai Rp4.983,2 triliun. Untuk 2021 saja, BKPM menargetkan realisasi investasi menyentuh Rp854,5 triliun.

"Dengan berbagai instrumen yang diterbitkan pemerintah, ada Undang-Undang (UU) Cipta Kerja, kami harapkan bisa berikan kemudahan, kami optimistis BKPM bisa mencapai target," terang Yuliot.

Di samping itu, Yuliot juga cukup yakin iklim investasi akan semakin positif di Indonesia. Ia memproyeksi incremental capital output ratio (ICOR) turun dari 6,8 persen menjadi 3,9 persen.

ICOR bisa disebut sebagai seberapa besar tambahan investasi yang diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Semakin rendah ICOR, itu berarti efisiensi investasi makin tinggi.

Sebaliknya, jika ICOR tinggi, investasi yang dilakukan semakin minim dampaknya atau tak efisien.

"Kalau dibandingkan dengan Malaysia ICOR 5,4 persen, Filipina 4,1 persen, dan Vietnam 3,7 persen. Pesaing utama Indonesia adalah Vietnam, itu menggambarkan kegiatan investasi yang lebih efisien," pungkas Yuliot. []

Komentar

Loading...