Dr Zaki: Ketidaknyamanan Nasabah Pada Proses Konversi Bank di Aceh Perlu Dimaklumi

konversi bank ke sistem syariah. [Foto: Istimewa]

BANDA ACEH – Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Dr Zaki Fuad Chalil, mengatakan proses konversi bank ke sistem syariah yang saat ini sedang dilakukan di Aceh, bila ditemukan adanya ketidaknyamanan nasabah bukanlah hal disengaja, melainkan karena faktor teknologi dan perlu dimaklumi.

“Penyesuaian ini tentu membutuhkan waktu agar jangan sampai ada kesalahan di kemudian hari, di saat beroperasinya bank-bank setelah selesainya konversi ke Syari’ah,” kata Dr Zaki Fuad menanggapi isu ketidaknyamanan nasabah dalam proses konversi bank ke sistem Syari’ah di Aceh, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (14/11/2020).

Dr Zaki menilai, masyarakat harus menghargai proses konversi bank yang sedang berlangsung di Aceh saat ini. Dia mengumpamakan ibarat bayi yang baru lahir, dimana untuk menjadi seorang yang dewasa maka membutuhkan waktu.

“Butuh waktu puluhan tahun menjadi ‘orang’, karena selama ini dia baru menjadi manusia,” ujarnya.

Dr Zaki Fuad juga mengatakan, selaku akademisi dia berbangga dengan apa yang sedang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syari’ah (LKS) Nasional yang bersedia menyesuaikan diri dengan regulasi di Aceh. Apalagi, menurutnya, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Dewan Syariah Nasional (DSN) sebagai trilogi lembaga yang paling bertanggungjawab untuk masalah ini, sangat merestui proses konversi bank tersebut karena mereka paham ini berkaitan dengan lex spesialis atau kekhususan di Aceh.

“Oleh sebab itu, kita bangga karena mereka LKS Nasional taat dan bersegera menindaklanjuti perintah Qanun di Aceh, yaitu Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2018 tentang Lembaga Keuangan Syari’ah. Itu sangat bagus. Padahal masih tersisa waktu satu tahun lebih. Akan tetapi mereka mempercepat proses adaptasi ini untuk nasabahnya,“ ungkap Dr Zaki.

Dr Zaki Fuad Chalil. [Foto: Istimewa]
Jika ada pihak yang ingin melakukan komplain, kata Dr Zaki, maka sebaiknya komplain dilayangkan setelah 4 Januari 2022 nanti, yang merupakan batas akhir pemberlakuan ketaatan kepada qanun LKS. Beberapa bank nasional itu menurutnya adalah bank besar yang nasabahnya jutaan orang di Aceh, sedangkan proses peralihan aset sudah tuntas mereka lakukan.

“Saya pernah bertanya ke kepala BRIS yang baru saat beliau berkunjung ke FEBI setelah pelantikannya. Saat memberi kuliah umum di FEBI, beliau mengatakan bahwa proses peralihan ini sudah mencapai 95 persen. Jadi kenapa ada pihak-pihak yang seolah-olah ‘irrasional’ menilai pekerjaan orang atau suatu lembaganya,“ kata Dr Zaki yang juga penulis buku “Pemerataan Distribusi Kekayaan Dalam Ekonomi Islam” ini.

Dr Zaki berharap, masyarakat di Aceh yang menjalankan Syari’at Islam harus dapat menghargai proses konversi bank yang sedang berjalan, yang menurutnya ini merupakan sebuah sunnatullah yang berlaku di alam ini.

“Mari kita bersinergi untuk sama-sama mencari keridhaan Allah, yang kepadaNya lah kita akan kembali. Tidak perlu harus saling memfitnah dan memusuhi. Kita bukan makhluk sempurna. Maka hendaknya jangan sampai ada pihak-pihak yang memecah belah kita dalam proses pelaksanaan syariat Islam di Aceh," imbau Dr Zaki. []

Komentar

Loading...