Bilik Disinfeksi Bisa Aman Jika Kontruksinya tak Tertutup

Bilik sterilisasi yang dipasang dipintu masuk kantor Pemerintahan kota Palembang, sebagai salah satu upaya pencegahan Covid-19, Kamis (26/3/2010). [Foto: Kompas/Istimewa]

Bilik disinfeksi aman jika:

  1. Tidak lama-lama saat penyemprotannya seperti diguyur dan hanya bersifat embun atau uap.
  2. Kontak antara cairan disinfektan dengan permukaan tubuh sesingkat mungkin dan setelahnya dapat dibilas dengan air mengalir.
  3. Konsep desain bilik disinfeksi sebaiknya diubah menjadi walk through chamber: berbentuk seperti lorong uap, sehingga orang bisa didisinfeksi sambil berjalan melewatinya.
  4. Pada sistem walk through chamber dibuat dengan memperhitungkan waktu kontak cairan disinfektan dengan jumlah langkah. Idealnya waktu kontak atau pemakaian untuk sistem walk through chamber ini maksimum 10 detik.
  5. Anjuran WHO, gunakan bahan aktif pemutih pakaian dengan konsentrasi 0,05% atau 1 bagian pemutih untuk 100 bagian air dan tidak dicampur oleh bahan lainnya, untuk menggunakan cairan disinfektan yang aman dan pembuatannya sesuai takaran.

“Apabila bilik disinfeksi masih menggunakan sistem tertutup, waktu kontak antara permukaan tubuh dan cairan disinfektannya juga agak lama. Dikhawatirkan dengan sistem tersebut, ada sebagian kabut cairan disinfektan yang terhirup ke dalam sistem pernapasan.”

~ JODDY ARYA LAKSMONO,

Peneliti bidang kimia LIPI

JAKARTA - Baru-baru ini, cairan disinfektan mulai ramai dipergunakan masyarakat di berbagai daerah untuk membunuh virus corona. Penyemprotan marak dilakukan di jalan, gerbang masuk kampung, hingga sejumlah kantor pemerintahan atau instansi menggunakan bilik atau chamber. Tak hanya menyemprotkan ke permukaan benda, banyak juga yang menyemprotkannya pada tubuh manusia. Peneliti bidang kimia LIPIndonesia menyebutkan, bilik itu bisa aman andai konstruksinya tidak tertutup penuh.

Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan lewat media sosial, menyemprotkan disinfektan ke tubuh berbahaya. Menurut WHO, menyemprot bahan-bahan kimia dapat membahayakan jika terkena pakaian atau selaput lendir, seperti mulut atau mata. Alkohol dan klorin dapat berguna sebagai disinfektan pada permukaan sesuatu, namun harus digunakan sesuai petunjuk penggunaannya.

Lantas sebenarnya amankan penggunaan disinfektan? Peneliti bidang kimia LIPI, Joddy Arya Laksmono menjelaskan, aman tidaknya penggunaan bilik disinfeksi tergantung pada 3 hal: konsep bilik disinfeksi  yang digunakan, lama waktu penyemprotan, dan bahan pembuat cairan disinfektan.

"Kalau kita bicara tentang bilik disinfeksi , ada dua hal yang perlu diedukasi kepada masyarakat. Pertama desain bilik disinfeksinya itu sendiri dan cairan disinfektannya yang digunakan," ujar Joddy sebagaimana dilansir Kompas.com, Selasa (31/3/2020) malam.

Joddy melanjutkan, fungsi dari bilik disinfeksi  adalah untuk sterilisasi. Sementara itu bagian-bagian yang perlu disterilisasi adalah setiap permukaan benda, misalnya pada APD, gagang pintu, kran air, ponsel, toilet, saklar lampu, wastefel, dan lainnya.

"Untuk penyemprotan cairan disinfektan secara langsung ke permukaan tubuh memang menyimpan risiko bila sering kontak dengan cairan disinfektan," kata Joddy.

Jika masyarakat sudah terlanjur membuat bilik disinfeksi , dia menyarankan untuk tidak lama-lama saat penyemprotannya. "Saran saya, pastikan kontak antara cairan disinfektan dengan permukaan tubuh sesingkat mungkin dan setelahnya dapat dibilas dengan air mengalir," kata dia.

Konsep bilik

Sementara untuk desain bilik disinfeksi  sebaiknya diubah menjadi walk through chamber. Konsep bilik walk through chamber berbentuk seperti lorong uap, sehingga orang bisa didisinfeksi sambil berjalan melewatinya.

Dia menambahkan, sejauh pengamatannya di masyarakat atau di kantor, bilik disinfeksi  yang ada masih menggunakan sistem tertutup. Sehingga, waktu kontak antara permukaan tubuh dan cairan disinfektannya juga agak lama. Dikhawatirkan dengan sistem tersebut, ada sebagian kabut cairan disinfektan yang terhirup ke dalam sistem pernapasan.

Sementara itu, pada sistem walk through chamber dibuat dengan memperhitungkan waktu kontak cairan disinfektan dengan jumlah langkah. Idealnya waktu kontak atau pemakaian untuk sistem walk through chamber ini maksimum 10 detik.

Hal itu berdasarkan hasil uji laju antimikroba dari sodium hipoklorit yang dapat mematikan mikroba patogen dalam 10 detik. Dia menyarankan untuk tidak terlalu sering menggunakan cairan disinfektan. Itu karena di tubuh manusia ataupun di permukaan tubuh terdapat mikroba-mikroba serta enzim-enzim baik yang sangat dibutuhkan untuk metabolisme tubuh.

Bahan disinfektan

Selain itu perlu juga memperhatikan bahan-bahan pembuat disinfektan. Salah satu bahan yang sering digunakan untuk campuran dalam membuat cairan disinfektan adalah pemutih pakaian. Dia menjelaskan sesuai saran WHO sangat tidak dianjurkan untuk mencampurkan seluruh bahan disinfektan dalam satu wadah. Contohnya sangat tidak disarankan bilamana cairan disinfektan dibuat dengan mencampurkan bahan pemutih pakaian dengan pembersih lantai atau alkohol atau H2O2.

"Hal tersebut bukannya akan lebih mengaktifkan daya disinfektan, malah senyawa kimianya akan berubah menjadi bentuk lain dan tentunya akan sangat membahayakan bagi tubuh yang terpapar campuran cairan disinfektan tersebut," ungkapnya.

Anjuran WHO adalah gunakan bahan aktif pemutih pakaian dengan konsentrasi 0,05% atau 1 bagian pemutih untuk 100 bagian air dan tidak dicampur oleh bahan lainnya. Jadi, dia menyarankan untuk menggunakan cairan disinfektan yang aman dan pembuatannya sesuai takaran. Selain itu tidak ada pencampuran bahan disinfektan lain.[]

Komentar

Loading...