Darurat Sampah di Indonesia Kini Sudah Mendunia

Ilustrasi sampah. [Foto: Istimewa]

Oleh: Safalinda

Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia. Bagaimana tidak terjadi, faktanya sampah sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat Indonesia. Sampah kini menjadi salah satu polemik permasalahan yang terjadi di Indonesia. Hampir di setiap daerah di Indonesia memiliki tabungan berupa sampah dengan jumlah yang tidak sedikit bahkan hingga jutaan ton sampah yang beredar di mana-mana, hingga saat ini sampah di Indonesia semakin banyak dan semakin tinggi pula tingkat data yang diperoleh dari sampah.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan persoalan sampah sudah meresahkan. Indonesia bahkan masuk dalam peringkat kedua di dunia sebagai penghasil sampah plastik ke Laut setelah Tiongkok. Hal itu berkaitan dengan data dari KLHK yang menyebut plastik hasil dari 100 toko atau anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) dalam waktu satu tahun saja, sudah mencapai 10,95 juta lembar sampah kantong plastik. Jumlah itu ternyata setara dengan luasan 65,7 hektare kantong plastik atau sekitar 60 kali luas lapangan sepak bola. Padahal, KLHK menargetkan pengurangan sampah plastik lebih dari 1,9 juta ton hingga 2019.

Semakin banyaknya masyarakat Indonesia dan semakin banyak pula sampah. Dan banyak pula masyarakat yang tak peduli tentang kebersihan dan keindahan lingkungan sekitar. Hal ini disebabkan karena sudah tak ada lagi kesadaran tiap-tiap orang untuk tidak lagi membuang sampah di tempat-tempat yang bisa berdampak buruk, serta mengotori lingkungan sekitar.

Permasalah sampah yang terjadi di Indonesia sampai saat ini masih belum terselesaikan dan sampai saat ini banyak sampah yang mengakibatkan banjir yang melanda di berbagai daerah-daerah di diIndonesia khususnya di perkotaan. Cara penyelesaian yang ideal dalam penanganan sampah di perkotaan adalah dengan cara membuang sampah sekaligus memanfaatkannnya sehingga selain membersihkan lingkungan, juga menghasilkan kegunaan baru. Ini secara ekonomi akan mengurangi biaya penanganannya (Murthado dan Said,1987).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah sampah di Indonesia pada tahun 2020 di perkirakan di 384 kota di Indonesia mencapai 80.235,87 ton tiap hari. Dari sampah yang di hasilkan tersebut di perkirakan sebesar 4,2 persen akan di angkat ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sebanyak 37,6 persen dibakar, dan di buang ke sungai sebesar 4,9 persen dan tidak di tangani sekitar 53,3 persen dan dibuang dengan cara tidak saniter. Ancaman itu bukan tanpa alasan.

Dampak negatif dari sampah tersebut ialah sampah dapat mengakibatkan pendangkalan sungai yang menyebabkan banjir, sampah dapat menimbulkan penyakit bagi masyarakat, sampah mengakibatkan sungai, laut tercemar dan tempat-tempat lainnya. Banyaknya dampak dari sampah tersebut kini menjadi problematika yang kini menjadi masalah besar dan banyak di perbincangkan di Indonesia.

Tidak sedikit tempat-tempat yang dicemari oleh sampah, bahkan sungai-sungai besar yang menjadi sumber penghasilan rakyat di Indonesia tercemar berjuta-juta ton sampah. Sebagai contoh, sungai Citarum yang terletak di Jawa barat masuk dalam daftar sungai paling tercemar di dunia. Sejauh ini tercatat sekitar 82 persen sungai di Indonesia tercemari oleh sampah.

Adapun contoh lain Jakarta misalnya, belasan tahun bahkan puluhan tahun polemik sampah di Jakarta kini sangat tinggi dan mengakibatkan banjir yang tak pernah usai. Dari dulu hingga saat ini, pemerintah pun belum dapat menemukan solusi untuk mengatasinya, meski berbagai cara dilakukan. Lantas siapakah yang akan bertanggung jawab?

Sri Bebassari, Ketua Umum Indonesia Solid Waste Association (INSWA) mengatakan, "Berdasarkan data statistik persampahan domestik Indonesia, jumlah sampah plastik yang mencapai 5,4 juta ton pertahun itu hanya 14 persen dari total produksi sampah di Indonesia". Sementara berdasarkan data dari Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta, khusus di Jakarta tumpukan sampah telah mencapai lebih dari 6.000 ton per hari dan sekitar 13 persen dari jumlah tersebut berupa sampah plastik. Keseluruhan sampah yang ada, 57 persen ditemukan di pantai berupa sampah plastik. Sebanyak 46 ribu sampah plastik mengapung di setiap mil persegi samudera bahkan kedalaman sampah plastik di Samudera Pasifik sudah mencapai hampir 100 meter.

Pemerintah Indonesia sudah melakukan berbagai macam cara untuk mengatasi problematika sampah yang terjadi di Indonesia mulai dari pengolahan sampah menjadi pupuk organik dan non organik, pengolahan sampah menjadi kerajinan melalui organisasi masyarakat bahkan penguburan sampah dan pembakaran sampah sudah di lakukan untuk mengatasi nya. Tetapi,  sampah di Indonesia semakin meningkat dan upaya penanganan nya pun semakin ketat.

Penanganan sampah sebenarnya tidak harus menunggu pergerakan dari pemerintah. Melainkan, masyarakat setempat sadar akan apa yang harus dilakukan untuk kesejahteraan masyarakat itu sendiri. Dan berkat tangan-tangan manusia banjir itu terjadi. Seharus nya banjir yang terjadi di daerah-daerah tersebut harus dilakukan tindakan yang serius dari pemerintah dan masyarakat dikarenakan setiap tahunnya sampah akan lebih memadati Indonesia.

Bukan tidak bisa terjadi suatu saat nanti Indonesia akan dipenuhi oleh sampah. Cara mencegah banjir bisa dilakukan dengan cara  gotong royong yang dilakukan oleh masyarakat dan kegiatan bakti sosial, serta saling bekerja sama untuk kesadaran diri sendiri untuk tidak membuang sampah ke laut, ke sungai serta ke tempat-tempat yang dapat berdampak buruk bagi masyarakat. []

Penulis merupakan Mahasiswa Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Jurusan Kesejahteraan Sosial Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Komentar

Loading...