Merdeka di Mata Bapakku

Tahun 1995, nun jauh di pelosok Aceh Tamiang, Bapakku Rahmat OK, pernah menelurkan tulisan yang hingga kini urung ia terbitkan. Waktu itu tepat tanggal 17 Agustus, saat negeri ini merayakan tahun emas kemerdekaannya, 50 tahun.

Judulnya “Merely Dekadensi” (Catatan 50 Tahun Kemerdekaan Indonesia).

Bapak menggabungkan istilah Inggris murni dan serapan; 'Merely' bahasa Inggris murni, sementara 'dekadensi' adalah istilah serapan untuk mendapat kepanjangan kata "merdeka".

Di bawah kekuasaan otoritarian saat itu, judul ini tentu sangat berbahaya, bahkan mengancam jiwa.

Itu juga saran teman-teman Bapakku, sesaat setelah membaca judul dan isi tulisan itu.

“Jangan Bang, bahaya ini. Nanti hilang Abang,” saran teman-teman Bapakku, saat tahu bahwa Bapak akan mengirimkan tulisan itu ke media. Padahal, belum pun tentu ada media yang berani memuat tulisan itu.

Tulisan itu lahir dari gelisah Bapak yang mendapati kemerosotan moralitas, birokrasi hingga menipulasi agama dan pendidikan. 'Merdeka' dalam realita dalam benak Bapak adalah kemerosotan (dekadensi) belaka (merely).

Di masa Orde Baru, bahkan hingga saat ini, Bapak adalah orang yang sangat kritis. Hal ini bahkan tecermin dari pilihan politiknya pada masa itu, yaitu Partai Demokrasi Indonesia.

Saat itu, Megawati sang Pemimpin PDI sangat mewakili kaum tertindas. Partainya diobok-obok oleh penguasa dengan segala intrik, hingga puncaknya berkonflik dengan Soerjadi hingga tersingkir dari PDI. Akhirnya, reformasi membuka celah bagi putri Proklamator ini untuk mendirikan PDI Pejuangan.

PDI Perjuangan menjadi Partai dengan perolehan suara terbanyak pada Pemilu tahun 1999, lebih 33 persen suara atau sebanyak 35 juta lebih rakyat Indonesia memilih Partai ini.

Golkar di mana? Golkar teperosok di peringkat dua. Kenapa aku menggunakan kata teperosok? Kan hanya turun satu tingkat? Karena Partai yang begitu dominan di orde sebelum reformasi ini, kehilangan lebih dari setengah pemilihnya. Jika kita tilik ke belakang, setiap pemilu digelar Golkar selalu berhasil memperoleh suara di atas 60 persen.

Lalu apakah arti merdeka bagi Bapakku? Masihkah sama dengan tulisannya 25 tahun lalu? Tidak.

Bapak saat ini telah menikmati kemerdekaannya, meski tak rajin menulis lagi tapi Bapak sudah sedikit merasakan dan menikmati kemerdekaan. Siapa saja boleh berkata apa, boleh membuat organisasi apa saja, namun tentu tetap harus berdasar pada dasar negara kita.

“Meski moral menjadi catatan penting untuk diperbaiki dan terus diperbaiki, namun pasca reformasi, demokrasi kita jauh lebih maju karena tak lagi terkungkung dalam ketiak orde baru yang kaku,” begitu kata Bapakku.

Saat ini, bahkan Bapak tak lagi mengagumi Megawati, sosok pemimpin yang dulu mewakili perasaan tertindas dalam dirinya. Dan hal ini terang-terangan bisa Bapak ungkapkan.

Coba bayangkan, apa jadinya jika orde baru masih berkuasa, tentu Bapak tak akan bisa terang-terangan menyampaikan ketidaksukaannya. Perasaan kesalnya tentu akan terungkap dalam forum terbatas. Atau, ia kuburkan; sama seperti tulisannya 25 tahun lalu.

“Saat ini, Negeri kita sudah merdeka. Catatan dan koreksi adalah sebuah urgensi yang harus segera dibenahi. Indonesia masih sangat muda, baru 75 tahun saja. 75 tahun tidak bisa dianggap tua atau renta karena negara bukanlah manusia. Indonesia akan dan harus ada seumur masa,” kata Bapakku.

Jangan membenci, apalagi ingin pergi, karena segala kelebihan yang kita miliki adalah potensi. Dan, kekurangan adalah hal yang harus sesegera mungkin dikoreksi.

Dirgahayu Indonesiaku, Aku Cinta Padamu. []

Penulis adalah Jurnalis Acehonline.co

Komentar

Loading...