Sasaran Rastra Belum Tepat

Ilustrasi Rastra. [Foto: Istimewa]

Oleh: Miftahul Jannah

Raskin (Beras Miskin) kini bernama Rastra (Beras Sejahtera) adalah beras yang disubsidi pemerintah untuk masyarakat berekonomi lemah. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa pada 2015 menggantikan nama beras untuk masyarakat miskin menjadi Beras untuk Keluarga Sejahtera. Pengubahan nama beras yang disubsidi oleh pemerintah itu disahkan pada 28 Agustus 2015 saat menteri sosial mengunjungi Gudang Bulog, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tidak semua masyarakat berhak mendapatkan Rastra. Dikutip dari media OtoritasNews, Zainuddin S.H seorang Tenaga Kesejahteraan Sosial (TKS) saat melakukan sosialisasi di sebuah daerah, ia mengungkapkan “Syarat menerima beras sejahtera adalah orang yang tidak punya pendapatan tetap, jadi pada intinya kita hanya ajukan data ke pusat, nanti pusat yang menentukannya”.

Namun, Pihak daerah sering membagikannya dengan adil artinya secara merata, tanpa memandang miskin atau kaya. Masyarakat yang mampu pun kadang sering mengambil Beras Sejahtera tersebut, meski tau bahwa dirinya mampu, hanya untuk mengurangi penguluarannya, walau sebenarnya tidak etis.

Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) menemukan banyak Rastra didapatkan oleh masyarakat yang berharta. TNP2K menjumlahkan data orang kaya yang mendapatkan Beras Sejahtera (RasTra) menperoleh sampai 12,5 persen. Menurut penulis seharusnya penggunaan Rastra sesuai dengan target, karena banyak kaum berada yang mendapatkannya.

Beras sejahtera berhak untuk masyarakat yang kurang mampu, karena masih banyak orang yang masih membutuhkan, dan harusnya kaum berada jangan menerima.

Walaupun berbeda, setiap manusia memiliki kebutuhan yang sama tetapi Rastra bukan hak untuk kaum berharta. Marilah sama sama kita menjaga Rastra agar tidak jatuh kepada orang yang salah dan jatuh sesuai sasaran.

Mungkin dengan tepat sasaran pemberian rastra (Beras Sejahtera) dapat mengurangi angka kemiskinan serta meningkatnya kesejahteraan sosial. Supaya terwujudnya indonesia gemilang dimasa depan tanpa dilanda kelaparan. Lapar tak berarti kenyang buat si miskin, si lapar yang kurus kering tak akan bisa kita kenyang dengan kata kenyang saja, walaupun diulangi hingga 1001 kali (Tan Malaka).

Penulis merupakan mahasiswa UIN Ar-raniry Banda Aceh, Prodi Kesejahteraan Sosial

Komentar

Loading...