Sekilas Info

Bias yang Terkelupas

“Ketika kapal pecah, manusia mungkin menyelamatkan nyawanya yang nyaris tak berdaya. Jika ia tidak melakukan hal demikian, maka ia orang dungu. Dan jika Anda berlari dari musuh yang menang, Anda kehilangan kuda, tapi Anda melihat teman terluka di atas kuda, apa yang akan Anda lakukan? Jika Anda seorang berakal dan berpikir, Anda pasti menarik dan menurunkan teman Anda dari punggung kuda itu dan naik ke atas kudanya. Apapun kata orang, itu adil,” kata Karniades, seorang skeptis.

Skeptis—KBBI: 850—diartikan ragu-ragu; kurang percaya diri. Ragu-ragu, jika Anda pernah melintas kawasan Mata Ie, Banda Aceh, di ujung lorong masuk barak infanteri 112/DJ terpampang pasteboard, “Ragu-ragu silahkan pulang!”  Itu dipasang untuk calon tentara. Maknanya berkarakter; tegas.

Di negeri ini, ragu-ragu sudah “membumi”. Tapi, “keyakinan yang nakal” juga menjadi penyakit bathin yang semarak nangkring di hampir pikiran beberapa—tidak bermaksud mengeneraliasi—orang di Banda Aceh. Tak pandang siapa, usia, pangkat, dan jabatan. Lihat saja lakon “koreografi” kenakalan yang tak mendengarkan anjuran social distancing dan self isolation atau berdiam diri di rumah dengan tujuan memutuskan mata rantai penyebaran COVID 19. Bukannya mendengarkan anjuran pemerintah, warga malah dengan asiknya nongkrong di warung kopi atau cafe.

Mereka yang awalnya mencoba manut dengan anjuran pemerintah untuk memutus rantai penyebaran Corona Virus Deseas (Covid)-19, banting stir ke kiri; latah, tersamar ngeliat  lekuk langkah rekan-rekannya meliuk-liuk di warung kopi. Mereka seperti terlelap, “nanar” menyaksikan keasyikan birahi nongkrong tanpa mempedulikan kesehatannya sendiri.

Padahal, dengan jelas, Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah telah memerintahkan Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman, untuk menutup sementara warung kopi dan tempat keramaian lainnya. Perintah itu dituangkan dalam surat Nomor 440/5242, tanggal 22 Maret 2020 dan langsung ditindaklanjuti oleh Aminullah dalam bentuk razia mengerahkan aparat Satpol PP/WH dibantu aparat TNI/Polri.

Bahkan, perintah tersebut dikuatkan lagi oleh Nova Iriansyah untuk aparatur sipil melalui surat nomor 800/5250. Terhitung sejak Senin (23/3/2020) sampai Jumat (29/5/2020), Nova melarang keras pegawai negeri sipil (PNS) dan tenaga kontrak di lingkungan Pemerintah Aceh, nongkrong di warung kopi atau café, termasuk pada hari libur.

Bila PNS mengangkangi aturan ini, akan disanksi pemotongan unjangan Prestasi Kerja (TPK) besar 100 persen dan penurunan pangkat. Sementara Tenaga kontrak yang melanggar aturan, dikenakan sanksi pemutusan hubungan kerja langsung pada bulan berjalan.

Namun, razia tetaplah razia. Begitu aparat menghilang, warung kembali ramai. Sistem kucing-kucingan antara pengunnjung cafe dan aparat pun berlaku seperti anak-anak bermain petak umpet. Sensasional! Sikap segelintir warga ini menuai banyak keberatan; Warga (secara personal) dianggap “terjun bebas” dari “menara” kepatuhan yang diagungkan pemerintah.

Berbicara tentang Covid-19 yang menjadi isu central sekarang ini, awal kehadirannya telah membias sangat luas dalam dunia kesehatan. Kini, biar itu mulai terkelupas. Segala sendi kehidupan kehidupan: kesehatan; ekonomi; pendidikan; adat-istiadat; agama; sosial porak-poranda. Dan, kini, mulai mengangsa sendi-sendi yang lain.

Sekarang, paramedis lagi berjuang di garda terdepan untuk memberantas Corona. Tapi, kita tak boleh berpangku tangan membiarkan paramedis bekerja. Kita juga harus ikut saling bahu-membahu membantu paramedis memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Caranya, dengan mengikuti imbauan yang telah dikeluarkan pemerintah; diam di rumah saja; tak ke mana-mana.

Paling tidak, itu cara nyata agar kita bisa membantu paramedis—yang juga manusia biasa seperti kita-  untuk membantu paramedis yang harus mempertaruhkan nyawa mereka di rumah sakit demi kita dan membantru masyarakat umumnya.

Kita, tak ingin menjadi Pirhun, pemuka pikiran skeptis—pernah menjadi pasukan Iskandar (Alexander Agung). Dia pernah berfilosofi: “Dalam filsafat teoritis, tiada dasar atau prinsip yang dapat ditetapkan. Indra tidak dapat dijadikan pedoman, juga akal. Sebab, jangkauan indra itu akan salah, begitu pula akal.”

Filsafat praktis Pirhun menyebut secara akal tidak ada jenis perbuatan yang dapat diyakinkan atas perbuatan lain. Suatu perbuatan tidak dapat ditetapkan kebenarannya, juga kesalahannya. Misalnya secara realitas dalil akal, kejujuran tidak dapat ditetapkan atas dasar dusta, amanah tidak dapat ditetapkan atas dasar khianat, keadilan tidak dapat ditetapkan atas dasar kezaliman. Kaum skeptis memandang baik dan buruk, bernilai atau tidak adalah mafhum kosong; Tidak dapat ditetapkan.

Pirhun lupa kalau kita bukan manusia yang hidup di alam spiritual. Tapi, (kita) makhluk spiritual yang hidup sebagai manusia. Jika dia membaca teori akhlak yang mengajarkan bahwa hidup menjadi manusia harus bernilai, suci, dan mulia, maka pemikiran skeptisisme sebetulnya tidak punya teori akhlaqi.

Sekira Anda melihat sebuah lumpur hidup memamerkan “kekuatannya” saat teman m,encoba hendak berenang, apa yang akan Anda lakukan? Jika Anda seorang berakhlak, Anda akan menarik teman Anda keluar dari lumpur hidup dan berbisik; “Kamu temanku, sahabatku, dan saudaraku. Tapi, kamu ini bukan milikmu, kamu dipinjamkan dari Tuhan (Islam), untuk membantu dan menyelawatkan yang lain. Kembali dan jangan dekati lumpur itu lagi; berdosa.”  Apapun kata orang, keputusan itu lebih santun, bijak, dan berakhlak.

Dan jika itu Anda praktikkan, pastikan bahwa Anda tidak pernah berpikir menarik dan mencampakkan teman Anda yang terluka dari atas kuda untuk membawa lari kudanya.

Anda bukan skeptis, Anda akhlaqi! Jadi, patuhilah tindakan berdiam diri di rumah; social distancing; self isolation, agar wabah ini segera berlalu dan kita bisa menghentikan bias yang terkelupas!

Komentar

Loading...