Perubahan Iklim Mulai Terasa Dalam Kawasan Ekosistem Lauser

Petugas Forum Konservasi Lauser (FKL) sedang mengecek rutin pohon untuk kajian Fenologi, di dalam kawasan hutan Pusat Penelitian Ketambe, Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh. [Foto: Acehonline.co/Zulkifli]

KUTACANE - Deforestasi hutan merupakan salah satu penyebab perubahan iklim dibumi. Hutan sangat berperan penting untuk menjaga keseimbangan alam dan dapat mengurangi pemanasan global atau efek rumah kaca yang mempengaruhi perubahan iklim dibumi. Senin (5/4/2021).

Pohon sangat berguna, karena dapat mengubah gas karbon dioksida menjadi oksigen yang bermanfaat untuk manusia dan hewan. Akan tetapi manusia suka melakukan penebangan hutan dan membakarnya untuk dijadikan tempat bercocok tanam. Selain itu, saat hutan dibakar menghasilkan gas-gas rumah kaca yang tentu dapat meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer.

Dipusat Penelitian Ketambe, Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh yang dikelola oleh LSM peduli lingkungan Forum Konservasi Lauser (FKL) secara rutin melakukan kajian Fenologi, atau mempelajari pengaruh iklim terhadap penampilan suatu organisme atau populasi.

Setiap bulan mereka rutin melakukan kajian fenologi, untuk mengetahui perubahan-peruhan didalam kawasan ekosistem lauser tersebut karena mempengaruhi ketersedian makanan untuk habitas satwa didalamnya, seperti Orangutan Sumatera (Pongo Abelli), Monyet Kedih (Presbytis thomasi), Kera, Rangkong (Rhinoceros Hornbill ) dan satwa lainnya.

Salah seorang Staf Forum Konservasi Lauser, Arwin, yang juga Manager di Stasion Penelitian Ketambe menceritakan perubahan iklim yang Ia rasakan sejak 15 tahun lalu.

Menurutnya, ditahun 2000an, kondisi cuaca di kawasan Taman Nasional Gunung Lauser (TNGL) dan sekitarnya itu masih sangat dingin, air sungai yang jernih meski semalaman diguyur hujan dan setiap tahun mereka merasakan panen buah-buahan yang sangat banyak.

"Sekitar tahun 2000 kebawah, itu masih normal sekali dan hanya ada dua musim, yakni musim hujan dan musim kemarau. Kalau kondisi sekarang kita sudah tidak dapat memprediksi lagi kapan waktu betul-betul hujan dan kapan puncaknya musim kemarau." ujar Arwin.

Lebih lanjut, " Dihatahun 2000an kebawah juga kita dulu masih merasakan panen buah raya, itu istilah kami bilang disaat musim panen buah yang sangat banyak, seperti durian hutan, langsat hutan, mangga dan buah lain yang tumbuh dihutan. Namun sekarang kita tidak lagi merasakan panen buah raya tersebut." kisah Arwin yang sudah mengamati hutan sejak tahun 1979.

Menurutnya, perubahan iklim secara ekstrim itu disebabkan banyaknya hutan yang hilang, salah satunya akibat berubah fungsi hutan menjadi lahan pertanian dan terjadinya pembalakan liar dihampir setiap kawasan ekosistem lauser.

" Kalau dulu, di pagi hari kondisi di stasiun ketambe ini sangat dingin, mulut kita bisa keluar asap dan minyak gorengpun bisa keras akibat dingin." katanya.

Air sungaipun, sambung Erwin, tidak akan berubah warna atau keruh meski hujan sangat lama, namun saat ini, hanya 15 menit turun hujan air sungai langaung berubah warna kecoklatan. Dari aitu kita bisa melihat, hilangnya hutan bisa menyebabkan perubahan cuaca yang sangat ekstrim dan mempengaruhi kehidupan makhluk hidup dimuka bumi." pungkasnya. []

Komentar

Loading...