Simeulue (Belum) Butuh Pesawat N219

Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah didamping Dirut PT Dirgantara Indonesia Elfien Goentoro saat meninjau pesawat N219 di hanggar PT. Girgantara Indonesia, Senin, 9 Desember 2019. [Foto: Istimewa]

Oleh: Imam Aulia Abdi

Pemerintah Aceh telah mewacanakan pembelian pesawat N219, yang menurut Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah dapat mempermudah untuk menghubungkan wilayah (konektivitas udara) yang jauh dari pusat pemerintahan Aceh (ibu kota) seperti Simeulue serta sejumlah daerah pelosok lainnya di Aceh.

Wacana pembelian pesawat N219 juga telah dilakukan penandatanganan kerjasama oleh Plt gubernur dengan PT Dirgantara Indonesia, untuk pengadaan 4 unit pesawat N219 yang harga per unitnya mencapai Rp 84 miliar, yang recananya pesawat itu akan hadir ke Aceh pada tahun 2022 mendatang.

Di satu sisi, saya sebagai mahasiswa asal Simeulue yang saat ini sedang mengenyam pendidikan di Banda Aceh, menilai Kabupaten Simeulue sangat membutuhkan moda transportasi sendiri, khususnya untuk memudahkan masyarakat Simeulue menuju ke Banda Aceh. Begitu juga sebaliknya warga Simeulue yang ingin berangkat dari Banda Aceh ke Simeulue.

Pasalnya, untuk menuju ke pulau tersebut, jika berangkat dari Labuhan Haji, Aceh Selatan, harus menyeberangi lautan yang memakan waktu selama 8 jam menggunakan transportasi kapal laut. Itupun jika tidak terkendala oleh cuaca buruk, yang terkadang bisa menghambat perjalanan ke Simeulue, dimana menghabiskan waktu lebih lama.

Selain transportasi laut, untuk menuju ke Simeulue atau sebaliknya, jika menggunakan transportasi udara, saat ini harus melalui wilayah lain di luar Aceh, yaitu Medan, Sumatera Utara.

Pada awal 2018 saat hendak ke Banda Aceh, saya pernah menaiki pesawat dari Simeulue ke Medan dengan kisaran harga hampir mencapai Rp 800 ribu. Itu belum lagi untuk biaya perjalanan darat menggunakan bus menuju Banda Aceh. Harapannya, jika Aceh memiliki pesawat atau transportasi udara sendiri, tentu perjalanan dari Simeulue menuju Banda Aceh atau sebaliknya, tidak harus melalui daerah lain. Memang saat ini angkutan udara dari Simeulue-Banda Aceh telah ada, yaitu menggunakan Susi Air, namun harga tiketnya bisa mencapai Rp 1,5 juta per orang.

Imam Aulia Abdi, Imam Aulia Abdi, Mahasiswa Prodi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Harapan dengan adanya pesawat terbang N219 dapat membantu kemudahan transportasi dari Simeulue ke Banda Aceh tanpa melalui medan, serta harga tiket Simeulue-Banda Aceh bisa lebih murah, sehingga membantu para masyarakat, khususnya mahasiswa yang kuliah ke Banda Aceh. Begitu juga untuk mempermudah hal-hal bersifat darurat lainnya seperti membawa orang sakit (ambulance udara).

Namun, di sisi lainnya, saya melihat jika uang yang digunakan untuk membeli pesawat N219 itu mencapai Rp 336 miliar dari APBA, maka jumlah itu sangat fantastis. Jika seandainya uang sebesar itu digunakan untuk pembangunan dan memperkuat sektor perekonomian dan pariwisata daerah-daerah pelosok Aceh, khususnya Simeulue, tentu itu lebih baik. Jika ekonomi masyarakat Simeulue kuat dengan tidak ada lagi masyarakat miskin dan pariwisata di Simeulue hidup, tentu mayarakat bisa dengan mudah untuk naik pesawat dengan membayarnya sendiri, tanpa mengharapkan bantuan atau subsidi (tiket murah) dari pemerintah.

Simeulue, memiliki potensi wisata yang cukup menarik dan memiliki nilai jual untuk wisatawan. Para wisatawan asing, juga kerap mengunjungi Simeulue. Namun, potensi wisata itu tidak dikembangkan dengan baik (belum optimal) oleh pemerintah. Andai saja, uang untuk membeli pesawat itu digunakan untuk membangun infrastruktur dan pengembangan wisata di Simeulue itu lebih baik, dan pastinya sangat diharapkan oleh masyarakat Simeulue, dibandingkan harus membeli pesawat.

Saya berkesimpulan, Aceh khususnya Simeulue memang membutuhkan pesawat, namun pembangunan infrastruktur dan pengembangan pariwisata, jauh lebih penting untuk menghidupkan perekonomian masyarakat, yang harus diperjuangkan Pemerintah Aceh. []

Penulis merupakan Mahasiswa Prodi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Email: imam.abdi99@gmail.com

Komentar

Loading...