Teuku Mail, Pecinta Boh Keumude yang Peduli Budaya

Teuku Mail. [Foto: Istimewa]

RAKAN-rakan palakli pecinta boh keumude di manapun Anda glong pacak hari ini. Kalimat itu kerap tertulis pada caption foto dan video yang diunggah ke Instagram oleh pria kelahiran Panton Labu, Aceh Utara, 21 Juni 1995 silam. Teks tersebut seolah menggambarkan Teuku Mail doyan mengonsumsi buah mengkudu. Namun, kenyataan tersebut kontras. Bukan berarti dia hobi mengonsumsi buah tersebut. Namun, kalimat itu dia siratkan sebagai satire terhadap beberapa orang yang berlagak beda ketika meninggalkan kampung halamannya.

Ya, dalam satu kalimat dimaksud, bermakna beragam sindiran. Seperti halnya kata “palakli”. Kata tersebut berasal dari kalimat “palak kali”. Teuku Mail menyadur kata “palakli” dari beberapa perempuan ABG (anak baru gede) yang berbicara Bahasa Indonesia dengan dialeg keacehan. 

“Saya sering mendengar ada yang berkata ‘palaklilah’ atau ‘palakli da (ada)’ dari beberapa orang yang baru meninggalkan kampung halamannya. Kemudian, mereka berbicara Bahasa Indonesia dengan dialeg yang keacehan. Seakan mereka malu berbahasa Aceh dan tak bangga dengan Bahasa Aceh yang menjadi bahasa indatunya,” kata Teuku Mail kepada Aceh Online, Jumat (17/1/2020).

Melihat kondisi demikian, Teuku Mail geram. Namun, kekesalannya bukan membuatnya menjadi manusia yang cemburuan. Rasa yang dipendamnya diungkapkan dalam bentuk karya berupa video sindiran. Sehingga, jadilah Teuku Mail sekarang ini dikenal sebagai selebgram.

Pria yang bernama lengkap Ismail merupakan salah satu putra Peureulak, Aceh Timur. Dia mulai berkarya membuat video komedi saat kelas 1 MTsN. Karya pertamya, men-dubbing video wawancara Ronaldo dengan presenter televisi Spanyol. Video berjudul “Ronaldo jak u glee pajoh boh reuteuk” itu sempat viral seantero Aceh. Beberapa media massa lokal kala itu berlomba mengangkat sosok di balik “Ronaldo boh reuteuk” tersebut. Bahkan, media nasional juga ikut mengangkat profil Teuku Mail.

Dari situ, Mail kian semangat mendalami ilmu video maker. Dia pun terus memproduksi video komedi dan dubbing yang dipublish melalui akun Instagram pribadinya.

Setelah mengenyam pendidikan di SMAN 1 Peureulak, Mail memutuskan untuk merantau ke Banda Aceh. Di ibukota provinsi itu, dia bekerja pada salah satu gerai kopi sebagai barista. Di sela pekerjaannya, Mail tetap memperdalam ilmu akting dan memproduksi konten video komedi.

Namun, kejayaan Mail tak diperoleh dari pekerjaannya sebagai barista. Malah, pada 2016, dia dia fokus menjadi content creator sejak mengenal media Youtube tempat dia memublikasikan karyanya. Sejak itu, Mail intens bergabung dengan komunitas content creator di Banda Aceh.

Berkat kegigihannya menekuni bidang content creator, pada 2017 si pemilik kanal Youtube, Teuku Ismail ini dapat tawaran main film “Keude Kupi NAD”. Lokasi syuting film tersebut sebagian besar di Jakarta.

Bak kata pepatah, “usaha tak kan menghianat hasil”. Dari perjalanan panjang karirnya, saat ini akun instagram Teuku Mail telah mencapai 100 ribu follower. Bahkan, yang luar biasa, akun Youtube pria tinggi langsing ini sudah mencapai 70 ribu subscriber.

Saat ini, Teuku Mail sedang mengerjakan project film yang berjudul “Buroeng Tujoeh”. Direncanakan, film yang menceritakan tentang kenakalan remaja yang disadur dari kebiasaan masyarakat sehari-hari itu akan rampung tahun ini. Di proyek tersebut, Teuku Mail bertindak sebagai aktor sekaligus asisten sutradara.

Perjuangan Teuku Mail tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Banyak aral yang merintangi perjalanan Mail. Salah satunya, dia harus mendapati cemoohan orang sekampungnya yang mengatakan Teuku Mail gila. Bahkan, sempat beberapa teman di sana melarang Teuku Mail pulang ke kampung halamannya dengan dalih memalukan nama daerah sendiri.

“Padahal, niat saya sangat sederhana, yaitu ingin memajukan kampung halaman,” ucap Mail dengan mata berkaca-kaca mengenang kejadian tersebut.

Meski telah memiliki popularitas, sosok Teuku Mail tidak lantas berpuas diri dengan pencapaiannya. Dia terus berkarya melalui media sosial yang dimilikinya. Puncaknya, pada Oktober 2019, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh menganugerahkan penghargaan pada Teuku Mail sebagai Youtubers Budaya.

Ya, sikap kritis yang dimiliki Teuku Mail yang menyindir kehidupan sosial remaja yang menanggalkan bahasa Aceh, telah mengantarkan pecinta boh keumude ini sebagai Youtubers Budaya. Artinya, meski mengandung satire keras, karya Teuku Mail menunjukkan dirinya sebagai content creator yang masih peduli terhadap budaya Aceh. Selamat berkarya terus Mail…(*)

Komentar

Loading...