Ceritaku di Pesantren dan Tekad Menghafal Alquran

Putri Anjeli. [Foto: Istimewa]

Oleh: Putri Anjeli

NAMAKU Putri Anjeli. Lahir di Medan, 23 November 2003. Aku anak ke-8 dari sembilan bersaudara. Cita-citaku banyak, salah satunya ingin menjadi dokter. Hobiku menulis, memasak, dan traveling. Aku punya kembaran, namanya Pijai dan berjenis kelami laki-laki. Anjeli adalah nama panggilan akrabku.

Ibuku seorang petani. Sedangkan ayahku telah meninggal dunia sejak aku sembilan bulan di kandungan ibu. Sejak kecil ibu selalu menasihatiku agar rajin beribadah, jujur, dan baik terhadap sesama. Satu lagi, aku juga diajarkan supaya tidak sombong.

Ketika aku berumur enam tahun, kami sekeluarga pindah ke Aceh Timur. Tepatnya di Peunaron. Suasana di Aceh Timur sangat sejuk dan tenang. Tidak seperti di Medan yang lalu lintasnya sangat padat. Selain itu pergaulan di sana juga memerlukan pengawasan yang ketat dari orang tua. Selain itu, ibuku juga sangat senang berkebun.

Beberapa bulan setelah pindah ke Aceh, aku mulai bersekolah di SDN 6 Transmigrasi Peunaron. Tamat SD, aku ditawarkan oleh guru dan ibu untuk masuk ke pesantren. Namun aku berpikir, kalau masuk ke pesantren pastinya jauh dari orang tua dan jarang bertemu mereka. Sempat sedih juga ketika aku hendak dimasukkan ke pondok pesantren.

Akhirnya aku melanjutkan pendidikanku ke Pondok Pesantren Baitul Arqam di Sibreh, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Besar pada 2015 lalu. Setelah aku lulus MTs pada 2018 lalu, ibu kembali merayuku agar melanjutkan tingkat aliah di pesantren yang sama. “Nggak usah pindah-pindah,” ujar ibu ketika itu.

Akhirnya aku kembali melanjutkan pendidikan di pesantren ini dan mendapatkan beasiswa.

Saat aku baru duduk kelas I MTs, awalnya aku mengira kalau di pesantren itu sangat ketat. Di sinilah aku belajar dari kesalahan. Saat bosan datang, aku selalu terpikir ingin pulang dan tidak mau sekolah di pondok lagi. Ternyata ibuku tidak setuju karena khawatir aku akan terpengaruh dengan teman-temanku di luar sana. Bagi ibuku, lingkungan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan karena lingkungan yang bersih dan dapat membuat jiwa manusia kuat dan sehat.

Selain itu aku juga aktif dalam berbagai kegiatan di sekolah. Aku bergabung dengan organisasi Pramuka, drumband, jurnalistik, dan juga pernah menjabat sebagai angota Organisasi Santri Baitul Arqam (OSBA) di bagian Bidang Pengkaderan.

Aku juga punya rencana untuk manjadi penghafal Alquran. Ketika aku lulus Iqra, teman-temanku yang lain sudah mulai mengafal Alquran, tapi aku masih Iqra. Namun ini tidak menjadi masalah bagiku untuk terus belajar. Pernah hari itu aku dengan teman-teman yang lain beda hafalannya sekitar 1-2 juz. Setelah aku menyelesaikan Iqra, aku pun melanjutkan untuk menghafal juz 30.

Saat aku naik ke kelas II MTs, setelah selesai menamatkan Iqra dan mulai menghafal juz 30. Ternyata butuh saktu setahun bagiku untuk mempelajarinya. Setelah berhasil menghafal juz 30, aku mulai membuka lembaran QS Albaqarah sebagai juz pertama. Awalnya aku menyerah karena lembarannya begitu banyak hingga 2 juz lebih. Sempat aku berpikir tidak mau lagi menghafal Alquran sampai-sampai aku pernah mengeluhkannya pada ibu.

“Menghafal Alquran itu susah, Buk!” keluhku pada ibu saat itu. Saat itu aku juga ingin mendatangi ustaz supaya tidak lagi menghafal Alquran.

Saat itu aku berkumpul dengan teman-teman di dalam musala dan berbincang tentang menghafal Alquran. Ada juga yang sibuk bertanya-tanya sesama teman di sekitar. Kudengar ada yang sebagian dari mereka kalau sudah tamat MTs ingin bisa menghafal 5 juz. Aku jadi bingung. Mereka begitu semangat untuk menghafal sedangkan aku terus-terusan hanya bisa mengeluh sehingga hasilnya pun tidak ada.

Tiba-tiba ada teman yang bertanya padaku, “Oh ya Anjeli, mau berapa juz kalau tamat MTs nanti?”

“Tidak tahu. Mungkin aku tidak menghafal lagi,” ujarku dengan wajah kebingunan.

“Orang yang menghafal Alquran, Allah menjanjikan kebahagiaan dunia dan akhirat untuknya. Salah satu kenikmatan yang paling besar adalah kita bisa memberikan mahkota untuk kedua orang tua kita di akhirat nanti,” ujar mereka.

Aku jadi merasa bersalah karena mudah menyerah dan tidak mau menghafalnya lagi. Waktu terus berjalan, aku pun menuliskan apa saja yang harus kucapai setelah tamat MTs nanti. Yang kutuliskan saat itu, yaitu: tamat kelas 3 MTs harus menghafal 6 jus Alquran, bacaan Alquran harus bagus, harus bisa mengajar anak mengaji di kampung, berpidato di depan masyarakat, pergi ke Mesir, dan tamat MA harus hafal 15 juz.

Alhamdulillah, Allah meridai rencanaku. Walaupun belum semuanya, saat ini aku sedang berusaha. Tidak salah untuk mencoba dalam kebaikan, bukankah begitu?

Bersyukur kepada Allah itu jangan lupa! agar nikmat itu tidak segan untuk datang lagi. Setelah aku mengafal 6 juz, alhamdulillah aku bisa melewati teman-temanku yang dulunya beda berapa juz. Saat ini hafalanku sudah 8 juz. Mungkin menurut kalian hafalanku tidak seberapa dan aku pun mencoba buat target sebelum bulan puasa datang. Semoga aku bisa mengafal 10 juz, semuanya butuh usaha bukan? Setelah itu, saya akan mengafal lagi.

Pernah saat itu aku punya rencana mengafal Alquran hanya 15 juz, setelah itu aku tidak lagi mengafal. Tapi itu dulu. Karena sekarang aku iri banget melihat orang yang hafalanya begitu banyak atau lebih dariku. Karena hidup butuh rencana, jika hidup tanpa rencana sama saja kita merencanakan kegagalan di masa depan.

Saat ini aku masih duduk di kelas I Madrasah Aliah Baitul Arqam Jurusan IPA. Setelah lulus nanti aku berencana bisa menghafal 15 juz Alquran. Kemudian aku akan mengambil beasiswa di Bandung untuk mengkhatamkan Alquran. Setelah itu aku akan ambil tawaran beasiswa ke Mesir yang ditawarkan oleh Ikatan Alummi Timur Tengah (IKAT). Saat ini kami di bawah bimbingan IKAT.

Aku pernah dicecar oleh teman-teman, bagaimana aku bisa menghafal dengan cepat? Aku pun menjawab bahwa semua itu tergantung pada diri kita sendiri.

“Ingatlah jika kita punya tujuan maka fokuslah ke situ, jangan hanya rencana saja. Kita juga butuh bukti, ketika kita menghafal maka menghafallah jangan main-main atau sibuk cerita dengan teman-teman,’’ ujarku kepada mereka. Aku ingat hadis Rasulullah yang artinya, “Tempatkan sesuatu pada tempatnya.”

Pengasuh kami, Bunda Aini, pernah mengatakan Alquran tidak akan mau lengket dengan orang yang sering berbuat maksiat. Saya terus berdoa agar Allah mempermudahkan saya dalam menghafal Alquran. Ternyata setelah saya panjatkan doa dan terus berdoa kemudian terus menghafal, yang saya rasakan ada kemudahan diberi oleh Allah.Awalnya saya menyetor kepada mentor hanya tiga ayat, kemudian saya mencoba untuk menyetornya setengah lembar dan akhirnya saya bisa menyetor satu lembar. Alhamdulillah.

Harapan saya selepas tamat MA nanti, semoga saya bisa menghafal Alquran 15 juz dan teman-teman juga seperti itu. Alasan saya ingin menghafal Alquran karena saya ingin memberi mahkota untuk kedua orang tua saya nanti di akhirat.

Pesan saya jangan mengeluh. Hidup ini penuh dengan problematika. Tapi ingatlah Allah akan mengujimu sebelum kamu dipuji. Dan menulislah apa yang harus kamu capai karena ada keajaiban di dalamnya.[]

Penulis adalah Santri kelas I MA Baitul Arqam, Sibreh, Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Aceh Besar.

Komentar

Loading...