Cabuli Dua Balita yang Merupakan Keluarganya, Kakek di Aceh Besar Diciduk Polisi

Kasatreskrim Polresta Banda Aceh AKP M Taufiq didampingi Kanit PPA Ipda Puti Rahmadiani, saat menggelar konferensi pers, Rabu (15/7/2020), terkait penangkapan kakek di Aceh Besar yang mencabuli dua balita. [Foto: Istimewa]

BANDA ACEH - Seorang kakek yang berprofesi sebagai buruh tani melakukan hal yang tidak wajar terhadap dua balita yang memiliki hubungan keluarga dengannya, yakni melakukan pencabulan disertai dengan penganiayaan terhadap anak di bawah umur.

Hal ini dilakukan kakek berinisial DAR alias YL (49), warga salah satu gampong di Aceh Besar. Akibat perbuatannya, dia terancam harus mendekam di penjara selama 20 tahun.

Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Trisno Riyanto, melalui Kasatreskrim AKP M. Taufiq, dalam konferensi pers, Rabu (15/7/2020), mengatakan kejadian pencabulan tersebut terjadi pada 20 Juni silam di sebuah kebun. Tersangka sudah menjalani pemeriksaan sejak ditangkap Kamis (2/7/2020) hingga hari ini dan masih menjalani pemeriksaan berikutnya.

“Dari hasil pemeriksaan dan keterangan saksi, tersangka mengakui perbuatannya yaitu melakukan pencabulan terhadap dua anak kecil yang merupakan anak dari keluarganya sendiri,” ucap Kasatreskrim didampingi Kanit PPA Ipda Puti Rahmadiani.

Kasat menjelaskan, kasus pencabulan disertai dengan penganiayaan terhadap anak di bawah umur yang dilakukan tersangka DAR alias YL, akan dijerat dengan pasal 82 ayat 1 dan 2 Jo Pasal 80 ayat 1 Undang-undang RI Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak sebagaimana telah diubah dengan Undang – undang RI Nomor 35 tahun 2014 dan Undang-undang RI Nomor 17 tahun 2016 dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

“Namun, karena tersangka masih ada kaitan dengan keluarga korban, maka hukumannya dapat ditambah dengan 1/3 dari hukuman pokok,” ungkap AKP Taufiq.

Kasatreskrim juga menjelaskan kronologi pencabulan tersebut, saat itu kedua korban MNA (3) dan MJ (2) sedang berada di depan rumahnya bersama sang nenek. Kemudian, datang tersangka menghampiri korban dengan menggunakan becak yang dikendarainya bermaksud untuk membawa jalan-jalan di sekitar rumah.

“Namun yang terjadi sebaliknya, kedua korban dibawa ke sebuah kebun yang tak jauh dari rumah korban, serta dilakukan penganiayaan berupa perbuatan sodomi terhadap sang balita,” tutur AKP Taufiq.

Setelah melakukan perbuatannya, lanjut Kasatreskrim, tersangka juga mengancam kedua balita tersebut, agar tidak memberitahukan kepada siapapun, hingga akhirnya kedua korban diantar ke rumahnya.

Saat diantar pulang, lanjut Kasat, kedua balita terlihat takut tidak seperti biasanya. Hal ini diungkapkan oleh orang tua korban dan nenek korban, sehingga mencari tahu apa yang telah terjadi.

“Korban merasa kesakitan di bagian anusnya serta diancam oleh tersangka agar tidak memberitahukan kepada siapun, termasuk orang tuanya. Ini diceritakan oleh kedua korban kepada ibunya sehingga melaporkan kepihak berwajib,” ucap Kasatreskrim.

Menindaklanjuti laporan dari orang tua korban, unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Banda Aceh dipimpin oleh Kanit PPA Ipda Puti Rahmadiani, bersama personel mendalami perihal laporan tersebut serta memeriksa para saksi.

“Setelah mendalami dan memeriksa para saksi, serta melengkapi bukti disertai keterangan ahli Psikolog Forensik dan Dokter, kami menangkap tersangka pada Kamis (2/7/2020) di salah satu warung kopi, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar,” ujar Kanit PPA.

Saat ditangkap, kata Kanit PPA, tersangka tidak melakukan perlawanan serta mengakui perbuatannya.

“Menurut istri tersangka, pelaku memiliki kebiasaan di saat berhubungan badan melalui anus atau dubur. Namun apabila istri tersangka menolaknya, maka dia marah serta akan memukulinya,” tutur sebut Ipda Puti.

Mencegah kejadian serupa, Kanit PPA Ipda Puti Rahmadiani mengimbau kepada para orang tua, untuk selalu menjaga buah hatinya dalam aktivitas sehari-hari, sehingga kasus yang menimpa seperti kedua balita ini tidak terulang lagi terhadap anak-anak yang lain.

Saat ini, Ipda Puti menambahkan, tim penyidik Perlindungan Anak dan Perempuan (PPA) Polresta Banda Aceh bersama Tim Konseling, telah melakukan upaya untuk memulihkan rasa trauma yang dialami korban.

“Upaya pemulihan trauma dengan melibatkan personil Polisi Wanita (Polwan) Polresta Banda Aceh dengan harapan agar rasa trauma dari kejadian yang menimpa korban tidak berdampak terhadap masa depannya kelak,” tutup Ipda Puti. []

Komentar

Loading...