Kecam Melalui Rekaman Suara, Minta Maaf Via Video

WAJAH Moehardi AW tampak pias. Mukanya datar. Rautnya tegang. Namun, kata-kata yang diucapkan begitu lancar. Lugas. Tak ada penggalan kata yang terbata-bata. Dengan nada tegas, dia menyampaikan permintaan maaf kepada aparat kepolisian, petugas kesehatan, dan pihak lainnya yang sempat disinggung dalam amarah sebelumnya.

Begitulah yang tampak dalam video berdurasi satu menit dua puluh tujuh detik itu. Pada video yang beredar di jejaring sosial dan pesan berantai itu, Moehardi tampak menggunakan baju cokelat bergaris-garis kuning. Dia menyampaikan permintaan maaf dalam posisi duduk di atas sofa hitam. Di sudut kiri video, terpampang jelas seragam polisi yang digantung dengan bantuan hanger. Diduga, video ini diambil di kantor polisi.

Video ini dibuat lantaran warga Ampeh, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara ini sebelumnya menyampaikan informasi dugaan Orang Dalam Pemantauan (ODP) yang memiliki gejala terpapar Corona Virus Desease 2019 (Covid-19). Dalam rekaman suara (voice noted) tersebut, sempat terdengar sumpah-serapah atas penolakan penanganan warga kampungnya yang diduga terpapar Covid-19 itu. Tak hanya kepada petugas medis, kecaman pun diberikan kepada aparat Kepolisian Sektor (Polsek), Komandan Rayon Militer (Danramil), Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), Camat, dan Bupati Aceh Utara.

Sekelebat, rekaman suaranya yang berdurasi dua menit tiga puluh satu detik itu viral di dunia maya sejak Minggu (29/3/2020), sekira pukul 22.00 WIB. Tak ingin berproses panjang, pada Senin (30/3/2020), sekira pukul 21.00 WIB, Moerhadi mendatangi Polsek Tanah Luas. Dia didampingi personel Koramil setempat.

Aparat Polsek Tanah Luas langsung menindaklanjuti informasi yang disampaikan Moehardi. Pria itu diperiksa. Urinenya dites. Sebab, rekaman suara yang tersebar tersebut berbanding terbalik dengan penanganan penyebaran Covid-19 yang telah digalakkan Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Tanah Luas.

“Selama ini, Muspika Tanah Luas rutin menyosialisasikan pencegahan penyebaran virus corona. Dengan menyebarnya rekaman suara (Moehardi) ini, mengganggu pelaksanaan sosialisasi pencegahan penyebaran virus corona yang dilakukan oleh Muspika Tanah Luas,” ujar Ipda Yose Rizaldi, Kapolsek Tanah Luas.

Di akhir pemeriksaan, sekira pukul 21.30 WIB, Moehardi membuat surat pernyataan. Dia meminta maaf kepada Muspika Tanah Luas lantaran pernyataannya pada rekaman suara yang beredar tersebut. Dia juga berjanji tak mengulangi lagi.

Tak hanya itu, dia juga membuat video permintaan maaf. Sejak tadi malam, video tersebut viral di dunia maya.

Tindakan Moehardi ini telah membuat rekor. Dia mencatatkan pesan suara dan video viral dalam waktu 2x24 jam. Kini, wajahnya yang pias, mukanya yang datar, dan rautnya yang tegang, bisa kembali lepas.

Kata-kata yang diucapkan lugas dan lancar telah memberikan pelajaran bagi Moehardi, tak selamanya mengikuti emosi, bisa meregangkan kecemasan dari isu Covid-19. Seperti lirik tembang lawas berjudul Tinggi Gunung Seribu Janji yang dipopulerkan Bob Tutupoli, “Memang lidah tak bertulang, Tak terbatas kata-kata, tinggi gunung s'ribu janji, lain di bibir lain di hati.” Begitulah yang dialami Moehardi sekarang. Lidah tak bertulangnya telah menyebkan dia bercakap tinggi. Namun, lain diucap lain pula yang terjadi.[]

Komentar

Loading...