Kuasa Hukum Sebut Ada Keterlibatan “Kelompok Strategis” dan Tokoh Elit Tanamkan Modal di Yalsa Boutique

Kuasa Hukum Yalsa Boutique, Mukhlis Mukhtar. [Foto: Acehonline.co/Reza Gunawan]

BANDA ACEH - Kuasa Hukum Yalsa Boutique, Mukhlis Mukhtar, menyebutkan ada keterlibatan kelompok strategis dan tokoh-tokoh elit di Aceh yang menanamkan modal di Yalsa Boutique. Mukhlis Mukhtar mengaku banyak elemen yang menanamkan modal di perusahaan penjualan baju muslimah yang sedang diterpa kasus investasi bodong itu, baik elemen penegak hukum, militer, pemerintahan, politisi, eks GAM, dosen, bahkan media.

"Ada beberapa tokoh yang juga terlibat sebagai member, mohon maaf saya tidak bisa menyebutkan nama. Mereka memberikan ke kawan-kawannya untuk menanamkan modal. Tingkat lokal ada, nasional pun ada. Tapi tidak ada namanya, mereka menanamkan modal lewat kawan-kawannya," kata Mukhlis Mukhtar kepada awak media dalam konferensi pers, Kamis (25/3/2021).

Banyaknya elemen atau kelompok strategis yang terlibat menanamkan modal di Yalsa Boutique, kata Mukhlis, membuat dia sebelumnya mengusulkan agar penyelesaian kasus tersebut dilakukan secara restorative justice atau penyelesaian kasus secara berkeadilan (kekeluargaan). Hal itu juga dikarenakan tuntutan dari para member atau penanam modal, hanya ingin modal yang mereka tanamkan tersebut dapat dikembalikan.

"Kami berharap, dengan tidak mengurangi rasa hormat kami kepada polisi dan penyidik, maka polisi diharapkan dapat terlibat dalam penyelesaian kasus ini. Kenapa harus polisi? karena banyak elemen yang terlibat. kalau yang lain kan bisa jadi ada yang tidak percaya, jadi perlu polisi untuk menyelesaikan masalah‌ ini. Barang-barang disita itu dijual, untuk mengembalikan modal-modal ini," ujarnya.

Hingga kini, Mukhkis Mukhtar menegaskan, pemilik Yalsa Boutique masih beritikad baik untuk mengembalikan modal-modal yang ditanamkan ke perusahaannya. Hal itu, kata dia, bertujuan agar tidak ada yang dirugikan dalam masalah ini, apalagi sangat banyak yang terlibat atau menanamkan modal di Yalsa Boutique.

"Tapi di lain sisi, penyelesaian ini bukan untuk lari dari tanggungjawab, karena ada juga yang mengira hal ini dilakukan supaya tidak ditangkap. Tapi tujuan ini untuk bisa menyelesaikan semuanya, dimana member tidak dirugikan dan negara tidak dirugikan. Karena dalam dalam konteks ini, penyidik membela kepentingan negara. Kan di dalam negara, termasuk rakyat juga di dalamnya," ujar Mukhlis Mukhtar.

Selain itu, Mukhlis Mukhtar juga menambahkan, penyelesaian kasus secara kekeluargaan itu dikarenakan owner Yalsa Boutique tidak terlibat langsung dengan member.

"Kenapa saya menawarkan restorative justice karena kami juga mendapat informasi bahwa OJK tidak pernah melapor atas dugaan tidak pidana ini. Jadi menurut saya, penyelesaian secara restorative justice itu tepat sekali, tapi mungkin polisi punya pendapat atau perspektif lain, itu kami tidak tahu," ujarnya.

Mukhlis menjelaskan, perusahaan penjualan baju muslimah yang dinyatakan mengumpulkan dana masyarakat itu telah beroperasi sejak Desember 2019. Dalam manajemen mereka itu, kata dia, ada periode-periode atau jangka waktu hingga para penanam modal diperbolehkan menarik modalnya.

"Yang katanya mengumpulkan dana dari masyarakat ini, ada periode enam bulan. Setelah enam bulan baru bisa ambil modal. Jadi dari sejak awal hingga laporan polisi awal tahun 2021 itu, berarti telah berjalan dua periode," jelasnya.

Terjadinya persoalan ini, Mukhlis menjelaskan, dikarenakan adal tahun 2021, perusahaan Yalsa Boutique melakukan perubahan manajemen, yakni pengurangan pembagian keuntungan untuk member (penanam modal) dari 50 persen menjadi 30 persen, serta penghapusan tips para reseller (para perekrut member).

"Di sinilah terjadinya gonjang-ganjing, hingga terjadinya laporan ke polisi, hingga menyebabkan perusahaan koleps. Owner dipanggil polisi dan aktivitas perusahaan terhenti," ungkapnya.

Selain itu Mukhlis juga menambahkan, para member jika apa yang dijalankan Yalsa Boutique dinilai salah dalam kasus tersebut, maka member menurutnya juga bersalah. Hal itu dikarenakan, dia menilai para member mendapatkan keuntungan hingga 50 persen. Dalam manajemen Yalsa Boutique, terdapat tiga tingkatan yakni owner, kemudian reseller kemudian terakhir di bawahnya member.

"Sesungguhnya menurut hukum, kalau tau bunganya (pembagian keuntungan) 50 persen itu patut diketahui itu salah. Jika dibilang kami tidak tahu, maka secara hukum tidak boleh bilang tidak tahu. Kemudian reseller demikian juga, mereka menerima tips dari ini (perekrutan member). Jika perbuatan ini diduga melanggar hukum, maka mereka juga bersalah karena menerima tips. Kemudian owner, itu dianggap salah karena pimpinan dari para reseller. Jadi, jika dianggap ini salah, maka semua salah di sini," tegasnya.

Selain itu, Mukhlis juga mengungkapkan adanya dugaan kecurangan yang dilakukan oknum reseller, dimana menurutnya ada dana yang dihimpun tidak dimasukkan ke Yalsa Boutique atau perusahaan.

"Dana itu dihimpun, tapi tidak dimasukkan ke perusahaan, tapi diputar-putar ke tempat lain atau entah ke mana lah dibawa. Jadi kalau untuk menyelesaikan masalah ini, maka semua itu harus ditelusuri, termasuk dugaan kecurangan-kecurangan ini," ungkapnya.

Kekeliruan tracking

Selain itu, Mukhlis mengatakan dalam hal kasus dugaan investasi bodong yang ditangani polisi tersebut, terdapat dugaan kesalahan tracking jumlah dana yang dihimpun atau total dugaan kerugiaan dalam kasus tersebut. Untuk itu, dia mengusulkan kepada polisi agar memakai akuntan publik agar tracking angka-angka tersebut sesuai.

"Sejauh ini tidak ada yang dirugikan, tracking Rp164 miliar itu menurut polisi. Klien saya saja terbingung-bingung dari mana angka Rp164 miliar itu. Selain itu member juga dikatakan berjumlah 17.800 orang, dia (owner Yalsa) juga bingung dari mana jumlah itu. Jadi saya rasa wajar lah hak-hak tersangka itu dilindungi. Karena berdasarkan perbedaan perspektif ini, tanpa lembaga yang independen maka itu susah juga. Karena adanya perbedaan presepsi ini, maka prosesnya akan panjang," kata Mukhlis Mukhtar.

"Klien saya juga ada menyampaikan disuruh mengaku. Apanya yang harus mengaku jika tidak ada. Ini terjadi karena imej mereka masih ada sesuatu di luar. Mereka mempresepsikan ini besar, karena tracking-nya besar. Padalah besar atau kecilnya ini tergantung tracking, padahal tracking itu belum ada. Jadi menurut saya kalau soal tracking ini, silakan dilakukan oleh lembaga yang idependen," tambahnya.

"soal sidik, ya sidik terus, tapi soal pembukuaan atau kekeliruan tracking ini harus diluruskan," tambah Mukhlis Mukhtar lagi.

Upayakan Penangguhan Penahanan

Kuasa Hukum Yalsa Boutique, Mukhlis Mukhtar, dalam konferensi pers itu juga mengatakan dirinya telah melayangkan surat penangguhan penahanan terhadap salah satu Owner Yalsa Boutique berinisial SHA, istri dari S Owner Yalsa Boutique lainnya yang ditahan Polda Aceh atas kasus investasi bodong. Upaya penangguhan penahanan itu dilakukan dengan alasan kemanusiaan, dimana ada anak pemilik Yalsa Boutique tersebut yang berumur 2 tahun dan 9 tahun yang membutuhkan orang tuanya.

"Karena alasan manusiawi, kami telah melayangkan penangguhan penahanan ini sejak 19 maret lalu, tapi sampai saat ini belum ada jawaban," jelasnya.

Di tingkat penyidik, kata Mukhlis Mukhtar, dinyatakan tidak bisa memproses atau mempertimbangkan karena tidak memiliki kewenangan, karena itu merupakan kewenangan Dirreskrimsus.

"Karena itu mentok, maka kami mengupayakan penangguhan penahanan ini ke atas, ke tingkat Kapolda dan Wakapolda, namun itu juga di sana tidak ada ruang. Berdasarkan pengalaman saya, memang upaya itu kecil, namun upaya penangguhan itu tetap dilakukan, bahwa hak-hak konstitusional tersangka telah kami lakukan," ujarnya.

Upaya ke Kapolda Aceh dilakukan, Mukhklis menjelaskan, hal itu dikarenakan selama ini kapolda Aceh bersifat humanis. Dalam hal perlindungn anak, kata dia, hal itu juga merupakan perintah undang-undang, yang diatur dalam Pasal 20 UU 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, yang dalam pasal tersebut dijelaskan yakni "Negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak".

"Karena alasan dan dasar kemanusiaan itu, maka kami berharap Kapolda Aceh agar dapat bersifat humanis dan mohon pertimbangan untuk ditangguhkan. Karena di sini, masih ada anak kecil yang membutuhkan segala sesuatu dari ibunya. Jadi kami mohon pertimbangan Kapolda Aceh untuk mengabulkan penangguhan penahanan ini, karena dia juga tidak akan lari," kata Mukhlis Mukhtar.

"Karena sangat tidak manusiawi jika kita memisahkan ibu dengan anaknya yang masih kecil. Karena yang kami minta ditangguhkan itu juga hanya ibunya saja," tambahnya.

Secara hukum, Mukhlis juga menjelaskan, polisi bisa menahan orang itu karena takut melarikan diri, takut mengulangi perbuatan dan takut menghilangkan barang bukti.

"Dan ketiganya itu tidak ada. Saya tahu persis bahwa tersangka itu setiap hari datang ke Polda. Bukti juga berkoper-koper sudah diserahkan dan mobil juga sudah disita. Penyitaan juga sudah luar biasa, ada 46 item yang sudah disita. Kemudian untuk mengulangi perbuatan itu juga tidak mungkin, karena saat mereka dipanggil itu juga kantor mereka sudah ditutup. Karena tidak mungkin lagi buka (beraktivitas)," ujarnya.

Ketika ditanya jika upaya penangguhan itu tetap tidak dikabulkan dan apa langkah yang kan dilakukan kuasa hukum, Mukhlis Mukhtar mengatakan dirinya nanti dia akan berkomunikasi dengan kliennya untuk langkah-langkah selanjutnya.

"Jika ini memang ini tidak bisa dikabulkan, maka kami akan berkonsultasi dengan klien untuk menempuh langkah-langkah lain, termasuk melakukan negoisasi dengan lembaga-lembaga lain untuk melaksanakan undang-undang ini. Jadi undang-undang ini jangan asal-asal tulis lah, jika ingin melindungi publik yang katanya memiliki kedaulatan, maka undang-undang  ini harus ditegakkan. Silahkan lihat pasal itu, di situ jelas disebutkan setiap kita itu harus melindungi anak," pungkasnya.

Seperti diketahui, Yalsa Boutique merupakan perusahaan penjualan baju muslimah di Aceh yang terlibat kasus dugaan investasi bodong. Saat ini, kasus tersebut sedang ditangani Polda Aceh. Kepolisian juga telah menetapkan tersangka dan menahan kedua owner Yalsa Boutique serta sejumlah aset-aset mereka, seperti mobil, rumah serta barang berharga lainnya. []

Komentar

Loading...