Orangutan Sumatera di Kawasan Ekosistem Lauser Terancam Punah

Orangutan di kawasan ekosistem Leuser. [Foto: Acehonline.co/Zulkifli]

KUTACANE - Orangutan Sumatera (Pongo Abelli) merupakan spesies terlangka dan kini sudah terancam punah. Primata ini merupakan salah satu hewan kunci yang terdapat dikawasan Taman Nasional Gunung Lauser (TNGL) dan hingga kini populasinya masih bertahan. Senin (5/4/2021).

Terlihat sepasang individu orangutan sedang makam didahan pohon, di lokasi pusat penelitian Ketambe, Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh.

Mamalia pemakanan buah-buahan itu terlihat sedang mencari makan di atas pohon dalam lokasi stasiun penelitian ketambe, lebatnya pohon dengan berbagai jenis dapat menghasilkan makanan yang cukup bagi mereka.

"Namun sayangnya, kerusakan hutan yang terus terjadi di wilayah itu juga dapat mengancam keberlangsungan hidup hewan primata di lindungi itu." ujar Farwiza Farhan, Ketua LSM penggiat lingkungan hidup Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA).

Buah Setur Gajah, salah satu makanan favorit orangutan sumatera yang masih dapat ditemukan di kawasan Taman Nasional Gunung Lauser (TNGL), Pusat Penelitian Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara. [Foto" Acehonline.co/Zulkifli]
Kawasan Penelitian ketambe yang di buka sejak tahun 1970 hingga kini memiliki ratusan individu hewan primata berbagai jenis, salah satunya orangutan sumatra.

"Orangutan Sumatera merupakan endemis yang masuk satu langkah di ambang kepunahan. Dengan menjaga kelestarian hutan, merupakan hal yang efektif melindungi populasi hewan tersebut agar dapat dilihat langsung oleh anak cucu kita dimasa yang akan datang." ujar Fiza.

Orangutan adalah salah satu satwa dilindungi yang tidak boleh diperdagangkan dan dipelihara sebagai satwa peliharaan (pet animal).

Menurut UU nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam hayati dan Ekosistemnya, pelaku perdagangan orangutan dapat dikenakan sanksi hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta.

Namun meskipun sudah dilindungi, perdagangan orangutan masih kerap terjadi. Rendahnya kesadaran masyarakat dan lemahnya penegakan hukum menjadi pemicu maraknya perdagangan orangutan tersebut.

Selain itu, merosotnya jumlah kawasan hutan akibat illegal loging dan alih fungsi hutan juga mempersempit ruang gerak primata tersebut. [].

Komentar

Loading...