Polres Lhokseumawe Tetapkan Tiga Tersangka Sindikat Perdagangan Manusia Etnis Rohingya

Ilustrasi pengungsi Rohingya. [Foto: AFP]

LHOKSEUMAWE - Polres Lhokseumawe mengungkap sindikat perdagangan manusia (human trafficking) terhadap etnis Rohingya di Kota Lhokseumawe. Dari hasil penyelidikan, polisi juga menetapkan tiga orang tersangka.

“Korbannya adalah pengungsi etnis Rohingya yang kini ditampung di Balai Latihan Kerja (BLK), Desa Meunasah Mee, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe,” kata Kapolres Lhokseumawe, AKBP Eko Hartanto, didampingi Kasat Reskrim Iptu Yoga Prasetya dan Kapolsek Dewantara AKP Nurmansyah dalam konferensi pers di Mapolres Lhokseumawe, Minggu (22/11/2020).

Menurutnya, tindak pidana keimigrasian dan perdagangan orang tersebut terjadi pada Jumat 20 November 2020 sekitar pukul 01.00 WIB di kamp pengungsian Rohingya BLK Kota Lhokseumawe.

“Kemarin personel Kodim 0103 Aut berhasil mengamankan dan menyerahkan para tersangka, selanjutnya Polres Lhokseumawe melakukan rangkaian proses penyelidikan dan penyidikan serta menetapkan tiga tersangka,” ujar Kapolres.

Tiga tersangka itu, kata Kapolres, yakni DA (25) warga Medan Sumatera Utara, ZK (20) warga Etnis Rohingya dan BS (45) yang datang dari Tangerang.

“Modus operandinya berbeda-beda. Tetapi, muaranya tetap sama. Saudara kita pengungsi Rohingya akan dibawa ke Malaysia,” ungkap Kapolres.

Tersangka DA, lanjut Kapolres, berperan sebagai penjemput teman bibinya dari Malaysia. Tersangka diiming-iming bayaran Rp. 1 juta per orang. ZK merupakan warga asli Rohingya yang sudah lama menetap di Medan.

“ZK ini disuruh jemput saudara kawannya. ZK dibayar Rp 2 juta. Selanjutnya, tersangka BS dari Tangerang merupakan suruhan sindikat bernisial MH ditetapkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO), bayarannya lebih besar lagi, per kepala dibayar Rp 6 juta,” tandas Kapolres Lhokseumawe.

Kapolres juga menjelaskan, antara korban dan tersangka penjemput telah merencanakan dengan cara kabur dari kamp penampungan.

“Total kurang lebih ada 18 saudara kita Rohingya yang berkeinginan keluar dari kamp dengan bantuan para sindikat perdagangan manusia,” jelasnya.

Kepolisian, lanjut Kapolres, masih melakukan penyelidikan apakah tiga tersangka ini merupakan satu sindikat atau berbeda-beda sindikat.

“Kalau dilihat dari modus operandinya, saya yakin sindikatnya lebih dari satu. Tetapi, muaranya tetap sama, akan dibawa ke Malaysia,” pungkas pria yang pernah menjabat Kasat Reskrim Polrestabes Medan ini.

Atas perbuatannya, kata Kapolres, para tersangka dijerat dengan pasal Keimigrasian tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang dengan ancaman hukuman paling lama 15 tahun penjara. []

Komentar

Loading...