Selewengkan Anggaran Gampong, Polisi Tangkap Perangkat Desa di Aceh Besar

Kasat Reskrim Polresta Banda Aceh AKP Ryan saat memberikan keterangan kepada wartawan terkait penangkapan mantan keuchik di Aceh Besar terkait penyelewengan dana desa. [Foto: Istimewa]

BANDA ACEH – Unit Tindak Pidana Korupsi Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Banda Aceh menahan dua tersangka yang terlibat dalam dugaan tindak pidana korupsi atau penyelewengan pengelolaan keuangan Anggaran Pendapatan Belanja Gampong (APBG), yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan Belanja Kabupaten (APBK) serta dana Pendapatan Asli Gampong (PAG), yang tidak dimasukkan ke dalam rekening kas gampong sejak 2015 hingga 2017.

Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol Trisno Riyanto melalui Kasatreskrim AKP M Ryan Citra Yudha, dalam konferensi pers, Selasa (10/11/2020), mengatakan kedua tersangka merupakan perangkat desa salah satu gampong di Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar yang pernah menjabat sebagai kepala desa (keuchik) dan sekretaris desa (sekdes).

“Keduanya ditangkap karena diduga menyelewengkan dana desa sebesar Rp232 juta. Uang tersebut dipakai untuk keperluan pribadi keduanya,” kata AKP Ryan.

Kedua tersangka, Kasat menjelaskan, yaitu mantan kepala desa berinisial DM dan mantan sekdes HS. Mereka menjabat pada periode 2013-2018.

“Aksi dugaan penyelewengan dana desa tersebut diduga terjadi dalam kurun 2015-2017,” ujarnya.

AKP Ryan juga menjelaskan, modus yang mereka lakukan yakni melakukan kegiatan (program), namun yang dilakukan tidak sesuai dengan anggaran atau tidak terealisasi 100 persen.

“Anggaran yang ditilap bersumber dari APBG, APBN, APBK, serta Pendapatan Asli Gampong (PAG) yang tidak dimasukkan ke kas desa. Penyelidikan kasus ini berawal dari informasi yang diperoleh polisi pada 2017,” ungkap Kasat.

Polisi kemudian, lanjut AKP Ryan, berkoordinasi dengan inspektorat, sehingga dilakukan audit yang keluar pada Mei 2018. Hasilnya diketahui ada kerugian negara akibat perbuatan keduanya sebesar Rp232 juta.

“Kerugian negara itu berasal dari sejumlah kegiatan dan pengadaan yang dilakukan keduanya. Di antaranya pengadaan laptop, pengadaan peralatan PKK, dan pencarian dana peningkatan kapasitas aparatur desa. Selain itu, keduanya tidak menyetorkan PAG ke kas desa,” papar Kasat.

Atas dasar itu, AKP Ryan menambahkan, polisi melakukan penyelidikan.

“Dalam kasus ini, polisi sudah memeriksa 22 saksi dalam kasus tersebut dan akhirnya membekuk kedua tersangka pada Kamis (5/11/2020),” ungkapnya.

“Kedua tersangka dijerat dengan Pasal 2 Jo Pasal 3 Jo Pasal 8 Undang-Undang RI Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang RI Nomor 20 tahun 2001,” tutup AKP Ryan. []

Komentar

Loading...