Soal Sidak DPRA ke RS Cut Meutia, Anggota DPRK Aceh Utara Diminta Tak Salah Paham

Anggota DPRA, dr. Purnama Setia Budi. [Foto: Istimewa]

BANDA ACEH – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Purnama Setia Budi meminta anggota DPRK Aceh Utara tidak salah paham terkait sidak yang dilakukan para anggota DPRA ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Meutia Aceh Utara dalam meninjau kesiapan penanganan pasien virus corona.

“Peninjuan yang dilakukan Komisi V DPRA bukan untuk mediskreditkan RS Cut Meutia, tapi untuk melihat kesiapan rumah sakit tersebut. Itulah yang kami harap kawan-kawan di DPRK Aceh Utara agar paham maksud kami apa. Jangan begitu nanti ada wabahnya di Aceh, malah kita tidak siap,” kata Purnama kepada acehonline.co, Kamis (12/3/2020), menanggapi pemberitaan “Anggota DPRK: Jangankan Aceh Utara, Seluruh Negara Belum Siap Hadapi Corona”

Anggota DPRA berlatar belakang pendidikan dokter ini mencontohkan kunjugan yang dilakukan Komisi V DPRA sebelumnya ke RSUD Zainoel Abidin Banda Aceh beberapa waktu lalu. Menurutnya, saat kunjungan pertama sebelumnya RS Zainoel Abidin juga belum memenuhi standar Badan Kesehatan Dunia atau WHO dalam kesiapan menangani virus corona atau Covid-19.

“Saat datang pertama, kami melihat kondisinya juga belum memenuhi standar. Kalau ada pasien Covid-19 maka akan berbahaya bagi pasien dan tenaga medis atau orang sekitar di lokasi itu. Tapi setelah satu bulan sudah ada perbaikan,” ungkap Politisi Partai Keadilan Sejahtara (PKS) ini.

“Di kunjugan yang kedua kami melihat ruang idolasinya sudah pakai kaca, ada monitor sehingga pasien tidak berhubungan lansung dengan tenaga medis. Meski masih ada kekuarangan seperti x-ray, yang juga akan terus dipersiapkan. Malah kabarnya saat ini kami dengar sudah ada (dilengkapi),” tambah Purnama.

Hal seperti itu, Purnama melanjutkan, yang juga diharapkan Komisi V DPRA, agar RSUD Cut Meutia Aceh Utara yang juga telah ditunjuk sebagai salah satu rumah sakit yang akan menangani pasien Covid-19 selain RSUD Zainoel Abidin, dapat betul-betul siap menangani pasien corona sesuai standar yang ditetapkan WHO.

“Saat kami berkunjung ke RSUD Cut Meutia, Wadirnya dan kepala dinas kesehatan Aceh Utara mengatakan sudah siap semuanya, jika seandainya ada kasus corona di Aceh Utara. Namun saat kami melihat ke lapangan, kesiapan yang dikatakan itu tidak sesuai dengan harapan kami. Kami berharap di RSUD Cut Meutia juga bisa sama kesiapannya seperti RS Zainoel Abidin,” ungkapnya.

“Kami melihat di RS Cut Meutia tidak ada sekatan, ruangnya terbuka dan dekat dengan IGD (Instalasi Gawat Darurat), bagaimana pasien di bawa ke dalam, dan lainnya. Artinya, ini hanya sebatas retorika, sedangkan saat kami melihat di lapangan tidak siap. Padahal isolasi pasien khusus corona itu harus jauh dengan pasien umum lainnya,” tegas Purnama.

Semua stakeholder di Aceh Utara, Purnama juga menambahkan, baik dinas kesehatan, pihak rumah sakit, maupun kalangan DPRK menurutnya harus paham bagaimana standar rumah sakit untuk penanganan pasien khusus Covid-19 yang ditetapkan WHO.

“Jadi ini bukan latihan. Kalau datang kasusnya bagaimana? Selesai kita. Inilah upaya yang harus kita lakukan, agar melakukan berbagai persiapan sebelum wabah corona itu merebak ke Aceh. Jangan sampai begitu kasusnya ada, malah kita tidak siap,” paparnya.

Sementara itu terkait rumah sakit lainnya yang berada di Lhoksukon menurut anggota DPRA dijadikan untuk penanganan pasien Covid-19, Purnama menjelaskan hal itu dikarenakan informasi yang diterima Komisi V DPRA ada rumah sakit di Aceh Utara yang rencananya akan diresmikan.

“Maka kami menyampaikan jika ada rumah sakit lain yang masih kosong dan belum digunakan, lebih baik difungsikan untuk penanganan khusus pasien Covid-19, karena di situ tidak membahayakan pasien umum lainnya, seperti halnya di RS Cut Meutia yang ruang isolasinya berdekatan dengan pasien umum. Ini seperti halnya karantina kemarin yang dilakukan Pemeirntah Indoonesia di Natuna atau pulau khusus, sehingga tidak membahayakan atau mencegah tertular ke orang lain,” ungkap Purnama didampingi Ketua Komisi V DPRA M. Rizal Falevi Kirani.

Untuk itu, kata Purnama, Komisi V DPRA berharap Pemkab Aceh Utara, khususnya RSUD Cut Meutia untuk jujur jika seandainya tidak siap dalam menangani pasien corona.

“Sekali lagi ini bukan untuk menyudutkan Pemkab Aceh Utara, tapi untuk kebaikan kita bersama khususnya masyarakat Aceh. Jika tidak siap jujur saja, maka akan kita upayakan bersama-sama untuk meminta bantuan Pemerintah Aceh agar mendukung berbagai sarana dan prasarana medis yang dibutukan di Aceh Utara. Begitu juga di provinsi, jika tidak siap, maka kita akan meminta dukungan pemerintah pusat, dengan harapan Aceh betul-betul siap jika sewaktu-waktu virus mematikan itu merebak di Aceh,” harapnya. []

Komentar

Loading...