Soal Wakil Gubernur Pengganti, PDA Sarankan Partai Pengusung Irwandi-Nova Berdiskusi

Ketua Umum DPP PDA, Muhibbussabri A. Wahab. [Foto: Acehonline.co/Reza Gunawan]

BANDA ACEH – Persoalan wakil gubernur Aceh pengganti yang akan mendampingi Nova Iriansyah yang kini menjabat Plt Gubernur Aceh, hingga kini belum ada pembahasan serius di kalangan partai pengusung Irwandi-Nova yakni Demokrat, PNA, PDA, PKB dan PDI-P. Hal itu dikarenakan putusan pengadilan yang telah memvonis Irwandi dengan hukuman 8 tahun penjara dan mencabut hak politiknya selama 5 tahun terkait kasus korupsi belum inkrah dan masih menunggu jawaban atas kasasi yang diajukan Irwandi ke Mahkamah Agung (MA).

“Dalam pandangan PDA, persoalan wakil gubernur dikembalikan kepada pak Plt sendiri. Kalau beliau nggak terganggu dan merasa bisa kerja serta nyaman sampai akhir masa jabatan, maka sendiri pun nggak masalah. Seandainya jika ada wakil nanti menjadi tidak karuan, maka untuk apa ada wakil. Namun jika diinginkan harus ada wakil, maka mari kita berdiskusi,” kata Ketua Umum DPP Partai Daerah Aceh (PDA), Muhibussabri A, Wahab yang akrab disapa Abi Muhib saat bersilaturrahmi dengan awak media, Senin (13/1/2020), di Banda Aceh.

Meski menyarankan adanya diskusi, Abi Muhib menegaskan PDA dalam hal tersebut bukan berarti berambisi untuk mendapatkan jabatan wakil gubernur pengganti. Dia mengaku hanya memberi saran agar para partai pengusung Irwandi-Nova dapat membuka ruang diskusi, untuk membicarakan apakah Aceh saat ini diperlukan atau tidak wakil gubernur untuk mendampingi Nova.

“Kenapa PDA bersikap seperti itu? karena PDA adalah salah satu partai pengusung yang juga punya hak, termasuk dalam ranah diskusi itu. Minimal dalam ranah diskusi PDA bisa masuk di dalamnya, seperti membahas bagaimana kritetia wakil gubernur ke depan, maka mari kita komunikasikan dengan gubernur (plt). Beliau menginginkan wakil seperti apa, siapa saja yang bisa naik sebagai wakil, tentu dari lima partai pengusung itu yakni Demokat, PNA, PKB, PDA, dan PDI-P,” ungkap Abi Muhib.

Namun demikian, Abi Muhib menambahkan, seluruh partai pengusung, termasuk juga masyarakat Aceh menginginkan Bang Wandi (sapaan akrab irwandi Yusuf) bebas kembali dan dapat menjalankan sisa masa tugasnya mendampingi Nova.

“Kemungkinan hukum selalu ada. Bisa saja bisa (bebas), bisa juga tidak,” ungkapnya.

“Kalau setelah diskusi sosok wakil gubernur ke depan dibahas dan akhirnya Bang Wandi bebas, maka Alhamdulillah. Diskusi itu bisa kita simpan sebagai arsip. Kalau tidak bisa, minimal menjadi bahan kriteria calon wakil gubernur ke depan (Pilkada 2022),” tambah Abi Muhib.

Dalam membahas calon wakil gubernur pengganti, Abi Muhib juga menegaskan, dirinya berharap berbagai kalangan di Aceh dapat melihatnya dari sisi positif.

“Jangan juga saat kita berbicara calon wakil gubernur (pengganti), kriteria seperti apa, langsung ada tuduhan bahwa ada pihak-pihak yang menginginkan Bang Wandi tidak lepas atau menginginkan kekuasaan beralih ke tangan dia. Itu tidak sama sekali,” tegas Abi Muhib.

“Bagi PDA, ada wakil gubernur bagus. Tidak ada wakil juga tidak ada masalah. Wakil gubernur dari PDA ya monggo, dari Demorat ya silakan, dari PDI silakan, dan PKB juga silakan, serta dari PDA juga kami selalu siap mengemban tugas masyarakat,” tambahnya.

Baca juga: Menelisik Calon Pendamping Nova

Namun mengenai sosol wakil gubernur yang layak nantinya untuk mendampingi Nova, Abi Muhib mengatakan belum saatnya membicarakan hal tersebut.

“Minimal kriteria, kemudian berbicara kesiapan-kesiapan yang mungkin kita perlukan ke depan. Simple saja, iya ok, tidak juga tidak masalah,” ujarnya.

Sementara itu ketika ditanyai apakah sejauh ini para partai pengusung sudah melakukan pembahasan atau melobi PDA? terkait hal itu Abi Muhib mengatakan belum ada pembahasan antar seluruh partai politik pengusung irwandi-Nova.

“Yang mencoba berdiskusi secara personal itu ada dan banyak. Dan PDA juga membuka komunikasi dengan partai lain seperti PDI-P,” kata Abi Muhib.

Kepada Ketua PDI-P Aceh Muslahuddin Daud, Abi Muhib menyampaikan secara regulasi PDI dan PDA berhak maju mencalonkan wakil gubernur pengganti.

“Kalau PDA bisa saja saya juga akan maju. Namun ini diskusi ringgan pada waktu itu, kita nggak ingin heboh. Namun saya juga dukung jika PDI-P maju, siapapun bisa kan, yang penting jangan timbul pikiran bahwa ketika membangun komunikasi, itu dinilai sebagai ambisi kekuasaan,” ungkapnya.

“Janganlah kita cepat-cepat menuduh, mari kita mengambil sisi positifnya saja. Apapapun yang didiskusikan oleh partai pengusung, ini lebih kepada untuk memudahkan urusan. Kalau memang saat ini perlu dibicarakan wakil ya mari kita berdiskusi, kalau tidak ya tidak masalah juga,” tambahnya.

Sementara itu ketika ditanyai PDA mempersiapakan kader untuk wakil gubernur pengganti? dalam koteks itu Abi Muhib mengatakan PDA hanya berbicara sebagai salah satu partai yang berhak (mengusung calon).

“Persoalan siapa, itu di lintas partai belum. Yang kita inginkan, orang yang ingin kita usulkan itu bisa membawa visi-misi partai. Saya pikir, semua partai politik menginginkan orang-orang yang diusulkan bisa membawa visi-misi partai politik pengusung. Dan visi-misi semua partai itu bagus,” ungkap Abi Muhib.

“Jadi jangan kita menuduh, selain partai lokal itu visi misinya tidak bagus. Itu tidak demikian. Tidak ada satu partai politik pun yang memuat di aturan partai dan visi misinya, yang ingin mencari kekayaan untuk partai dan golongannya, itu tidak ada. Yang ada adalah oknum-oknum di dalam partai yang berbuat tidak sesuai dengan aturan partai. Maka jika ada seseorang yang terlibat masalah secara pribadinya, maka jangan kita salahkan partai,” tambahnya.

Apakah persoalan wagub penganti pernah didiskusikan dengan Plt gubenur? terkait hal itu Abi Muhib mengaku ada pembicaraan serius terkait hal itu dengan Plt gubernur.

“Yang ada Plt mengatakan yang namanya orang partai politik, bila ada kesempatan ya gunakan kesempatan itu. Artinya beliau sangat paham soal itu,” jelas Abi Muhib.

“Saya juga pernah beberapa kali bertemu dan ngopi dengan beliau, saya melihat ada kelelahan yang luar biasa di tampilan (raut wajah) beliau. Jadi yang dikatakan beliau merasa sangat capek (sendiri memimpin Aceh) maka saya percaya,” kata Abi Muhib.

Dia pun juga menyarankan kepada Plt gubernur untuk dapat meluangkan waktu bertemu dengan kalangan partai politik di Aceh, meski saat ini Nova dipadatkan dengan agenda yang sangat banyak dalam menjalankan tugasnya pemimpin Aceh.

“Untuk menghibur kelelahan, maka harus sering ngopi bareng. Untuk membahas persoalan wakil gubernur itu memang tidak menghilangkan kelelahan beliau dalam waktu pendek, tetapi sering-sering peh tem lah (diskusi sambil bercanda), baik dengan partai pengusung (Irwandi-Nova), maupun diskusi dengan partai di Koalisi Aceh Bermartabat (KAB). Jadi peh tem itu juga sangat membuat kita segar. Jangan terlalu serius lah ketika membahas politik,” tutup Abi Muhib. []

Komentar

Loading...