Tangani PDP Covid-19, Tenaga Medis RS Arun Lhokseumawe Dikarantina

Petugas medis RSUDZA Banda Aceh yang berada di ruang isolasi Respiratory Intensive Care Unit (RICU) untuk pasien dalam pemantauan COvid-19 mengenakan pakaian khusus atau alat pelindung diri, Kamis (19/3/2020). [Foto: Acehonline.co/Reza Gunawan]

LHOKSEUMAWE - Sejumlah tenaga kesehatan di Rumah Sakit Arun Lhokseumawe Aceh harus dikarantina di rumah masing-masing selama 14 hari. Hal itu dilakukan untuk mencegah penyebaran virus corona.

Tenaga kesehatan yang dikarantina itu sempat menangani pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19 yang meninggal di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh pada Senin 23 Maret 2020. Sebelum dirujuk ke RSUZA, pasien tersebut terlebih dulu dirawat di RS Arun.

Kepala Dinas Kesehatan Lhokseumawe, Said Alam, membenarkan hal tersebut. Kata dia, tenaga kesehatan yang dikarantina adalah mereka yang tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) saat menangani pasien tersebut.

“Tenaga kesehatan yang tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) yang dikarantina,” katanya saat dikonfirmasi, Rabu 25 Maret 2020

Said menjelaskan, secara protap (prosedur tetap), tenaga kesehatan yang merawat pasien dalam pemantauan memang harus dikarantina. Apalagi, pasien yang dirawat tersebut sudah meninggal. Dan hasil tes swab yang menunjukkan pasien itu positif atau negatif belum keluar.

“Makanya mereka dikarantina, kita belum tau apakah pasien yang meninggal itu positif atau negatif, karena hasilnya belum keluar,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur RSUZA, Azharuddin, mengatan hasil swab status PDP Covid-19 yang meninggal itu belum keluar. “Hasilnya belum keluar,” ujarnya.

Untuk mencegah penyebaran virus corona yang meluas di Aceh, Pemerintah Aceh juga sudah menetapkan status tanggap darurat skala provinsi untuk penanganan Covid-19.

Peningkatan status itu dikeluarkan untuk pencegahan, percepatan penanganan, kesiapan dan kemampuan dalam mencegah, mendeteksi dan merespon terhadap Covid-19.

“Kita sudah menetapkan status tanggap darurat skala Provinsi untuk Penanganan Virus Corona di Aceh,” kata Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, dalam keterangannya.

Disebutkan Nova, penetapan status tanggap darurat dalam rangka penanganan Covid-19 berlangsung selama 71 hari, dari 20 Maret hingga 29 Mei 2020. []

Komentar

Loading...