Komnas HAM Ungkap Sebab Beda Kondisi soal Jenazah Anggota FPI

Reka adegan saat Polisi menangkap anggota Laskar FPI di Karawang Jawa Barat, Senin dinihari, 14 Desember 2020. [Foto: Tempo.co]

JAKARTA - Komisioner Komnas HAM Choirul Anam mengungkap perbedaan keterangan anggota keluarga dengan pihak dokter yang melakukan autopsi terhadap enam jenazah anggota laskar Front Pembela Islam (FPI) yang meninggal dalam bentrokan di KM 50 Tol Jakarta Cikampek, Senin (7/12) dini hari.

"Pasti tidak ada kesamaan," kata Anam di Gedung Komnas HAM, Jakarta Pusat, Kamis (17/12/2020).

Anam menyebut, perbedaan itu berkaitan dengan kondisi jenazah yang diterima keluarga dengan kondisi saat diautopsi dokter.

Menurutnya, hal ini tak lepas dari waktu kematian yang berpengaruh dalam menentukan kondisi jenazah.

"Jadi kalau misal jamnya jenazah yang umurnya satu jam dengan yang umurnya satu hari pasti jenazahnya berbeda, posisinya berbeda, apakah sudah keluar lebam mayat ataukah tidak, pasti berbeda," kata Anam.

Tak hanya itu, kondisi tubuh jenazah juga sangat dipengaruhi oleh makanan atau asupan gizi yang dia terima semasa hidup. Semua itu akan memengaruhi tampilan dan kondisi berkaitan dengan rentang waktu jenazah ditemukan.

Oleh sebab itu kata Anam, pernyataan dari pihak keluarga korban dengan dokter yang melakukan autopsi tak akan bisa sama. Ia menuturkan, akan ada perbedaan-perbedaan yang ditemukan oleh kedua belah pihak.

"Memang kalau ditanya apakah ada perbedaan antara satu dengan yang lain, harusnya berbeda. Kalau tidak berbeda malah aneh," kata dia.

Dalam kesempatan itu, Anam juga menjelaskan soal perbedaan lubang peluru yang ditemukan pihak keluarga korban dengan dokter yang melakukan autopsi. Perbedaan ini kata Anam bisa terjadi karena pemahaman terkait peluru masuk dan peluru keluar.

"Di banyak peristiwa, termasuk juga di peristiwa ini ada perbedaan antara peluru masuk dan peluru keluar," kata dia.

Selama pemeriksaan terhadap para dokter pun, pihaknya telah meminta ditunjukan foto asli dari jenazah sebelum autopsi dilakukan untuk kepentingan pemeriksaan secara menyeluruh.

"Kami ditunjukkan foto pertama kali sebelum tindakan dan itu adalah posisi paling penting, sehingga memang ya itu menunjukkan originalitas," katanya.

"Kalau tadi tanya berapa jumlah lubangnya, di situlah kita mengetahui berapa lubang, bagaimana kondisi jenazahnya dan sebagainya," lanjut Anam.

Meski begitu, Anam menolak memberi keterangan lebih lanjut terkait posisi lubang peluru dan jumlah detail lubang yang ditemukan di tiap tubuh jenazah anggota FPI itu.

"Kami tidak bisa menyebutkannya saat ini, karena kami harus mengkonsolidasi lagi data yang kami punya. Kan datanya ini tidak dari satu pihak," kata Anam.

Komnas HAM menargetkan investigasi kasus penembakan enam laskar FPI rampung dalam sebulan. Selama proses investigasi itu pihaknya memeriksa sejumlah pihak termasuk Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran dan pihak Jasamarga terkait CCTV saat kejadian.

Laporan hasil investigasi itu nantinya akan disampaikan langsung ke Presiden Joko Widodo dan Kapolri Jenderal Idham Azis. []

Komentar

Loading...