Survei: Banyak Orang Anggap Covid-19 Rekayasa dan Konspirasi

Petugas kesehatan menggunakan alat pelindung diri saat tiba di pos pemeriksaan IGD Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19, Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (16/9/2020). [Foto: Kompas.com]

JAKARTA - Hasil survei Parameter Politik Indonesia (PPI) menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang menganggap Covid-19 adalah konspirasi dan rekayasa.

Itu tercantum dalam Laporan Hasil Survei Nasional Evaluasi Kinerja Pemerintah dan Jalan Panjang Menuju 2024 yang digelar pada 3-8 Februari 2021.

Pengumpulan data dilakukan dengan metode telepolling dengan menggunakan metode simple random sampling terhadap 6.000 target yang menghasilkan total 1.200 responden.

"Setelah hampir satu tahun Covid-19 masuk Indonesia, ternyata masih cukup banyak orang yang menganggap Covid-19 adalah konspirasi (20,3 persen) dan merupakan hasil rekayasa manusia (28,7 persen)," kata Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno, dalam keterangannya di Jakarta, Senin (22/2).

Rincian dari hasil survei tersebut menunjukkan sebanyak 20,3 persen menganggap Covid-19 adalah konspirasi, 56,7 persen menganggap nyata, dan 23,0 persen tidak menjawab.

Adi mengatakan survei tersebut juga menanyakan kepada responden apakah Covid-19 terbentuk secara alami atau rekayasa buatan manusia untuk tujuan tertentu.

"Sebanyak 48,9 persen responden menilai Covid-19 terbentuk secara alami, 28,7 persen buatan manusia, dan tidak menjawab sebesar 22,4 persen," ujarnya.

Padahal, jumlah kasus positif Covid-19 selalu bertambah. Pada Minggu (22/2) terjadi penambahan 7.300 kasus positif Covid. Sehingga jika diakumulasikan sejak pertama kali diumumkan pemerintah pada awal Maret 2020 hingga kini mencapai 1.278.653. Sementara itu, 34.489 dinyatakan meninggal akibat virus corona atau Covid-19.

Jenuh

Selain itu, hasil survei yang dilakukan oleh Parameter Politik Indonesia juga menunjukkan ada kejenuhan masyarakat dalam selama pandemi. Hal itu tercermin dari pertanyaan opsional antara aktivitas ekonomi atau penanggulangan wabah.

"Responden cenderung lebih memilih pembebasan aktifitas ekonomi walaupun berpotensi meningkatkan penyebaran Covid-19 yaitu sebesar 39,1 persen, dan sebanyak 32,9 persen responden memilih membatasi aktifitas ekonomi masyarakat demi mengurangi penyebaran virus corona," kata Adi.

Kondisi ekonomi masyarakat pun, lanjutnya, saat ini masih relatif belum membaik dibanding 10 bulan yang lalu saat Covid-19 baru menyerang Indonesia, April 2020. Menurut dia, sebanyak 44,2 persen responden menilai kondisi ekonomi keluarga sama saja.

"Sebanyak 39,1 persen menilai kondisi ekonomi keluarga lebih buruk, 13,9 persen menganggap kondisinya lebih baik, dan 2,8 persen tidak menjawab," lanjutnya. []

Komentar

Loading...