Tak Akui Hasil Otopsi, Pengacara FPI Sebut Ada Bekas Penganiayaan

Reka adegan saat Polisi menangkap anggota Laskar FPI di Karawang Jawa Barat, Senin dinihari, 14 Desember 2020. [Foto: Tempo.co]

JAKARTA - Front Pembela Islam (FPI) enggan mengakui laporan hasil otopsi jenazah enam anggota Laskar FPI yang disampaikan Bareskrim Polri.

"Yang jelas kami tidak dapat mengakui dan menerima hasil otopsi tersebut," kata kuasa hukum FPI, Aziz Yanuar, Minggu (20/12/2020).

Yanuar mengatakan, salah satu alasannya karena polisi mengabaikan ketentuan dalam KUHAP Pasal 134 ayat 2 dan 3. Sebab, kata dia, pihak keluarga menolak dan keberatan atas dilakukannya otopsi tersebut.

Selain itu, jumlah luka tembak berdasarkan laporan otopsi yang disampaikan polisi juga berbeda dengan temuan FPI. Yanuar pun memberikan sejumlah foto berupa infografis mengenai tiap luka pada jenazah.

Foto pertama adalah korban bernama Muhammad Reza, 20 tahun. Dalam keterangan, pipi dan keningnya terdapat lebam dan menghitam. Kemudian pada dada kiri terdapat dua luka tembak dan noda hitam. Pada tangan kiri Reza melepuh. Kemaluannya juga bengkak dan melepuh.

Foto kedua adalah Faiz Ahmad Syukur, 22 tahun. Pada keningnya terdapat lebam, jahitan pada leher. Kemudian dua luka tembak dengan warna hitam di sekitarnya pada dada kiri. Luka tembak juga terdapat pada tangan kiri dan paha kanan.

Selanjutnya adalah Muhammad Suci Khadavi, 21 tahun. Terdapat lebam pada matanya, dan tiga luka tembak pada dada kiri. Korban berikutnya adalah Lutfi Hakim terdapat 4 luka tembak yang bekas lubangnya menghitam pada dada kiri, kulit belakangnya melepuh, dan kemaluannya bengkak dan melepuh.

Pada foto jenazah Andi Oktavian, 33 tahun, terdapat lecet sekitar 5 sentimeter pada kepala kiri. Kemudian luka tembak pada mata kiri, bengkak dan lebam pada pipi kiri, 3 luka tembak pada dada kiri, dan melepuh pada kulit punggung.

Terakhir pada foto jenazah anggota laskar FPI, Ahmad Sofiyan (Ambon), 26 tahun, terdapat dua luka tembak pada dada kiri. Juga bengkak dan melepuh pada kemaluan.

Tak Akui Hasil Otopsi

FPI menerima laporan hasil otpsi jenazah 6 anggota Laskar FPI yang disampaikan Bareskrim Polri.

"Yang jelas kami tidak dapat mengakui dan menerima hasil autopsi tersebut karena mengabaikan ketentuan KUHAP Pasal 134 ayat (2) dan (3)," kata kuasa hukum FPI, Aziz Yanuar, Minggu (20/12).

Ketentuan KUHAP Pasal 134 ayat 2 berbunyi: Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan dengan sejelas-jelasnya tentang maksud dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut.

Adapun ayat 3 berbunyi: Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau pihak yang perlu diberitahui tidak diketemukan, penyidik segera melaksanakan ketentuan dimaksud dalam Pasal 133 ayat 3 KUHAP.

"Keluarga menolak dan keberatan atas akan dilakukannya otopsi," ujar Yanuar.

Menurut Yanuar, pihak keluarga korban anggota Laskar FPI berencana untuk autopsi ulang. Namun, rencana masih perlu dipastikan kembali. "Suara sudah bulat tapi masih perlu dibicarakan ulang," kata dia.

Bareskrim Mabes Polri sebelumnya telah mendapat laporan autopsi enam jenazah anggota Laskar FPI yang tewas dalam bentrok dengan polisi di Tol Cikampek KM 50. Keenam jenazah diautopsi di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

Dari laporan forensik, Bareskrim menyebut ada 18 lubang peluru dari tubuh enam jenazah. "Secara umum ada delapan belas luka tembak, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan lain pada tubuh seluruh jenazah," kata Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Andi Rian S Djajadi. []

Komentar

Loading...