Unjuk Rasa di DPR-RI Rusuh, Polisi Tembakkan Gas Air Mata

Aksi demo di depan Kantor DPR-RI ricuh. [Foto: Tempo.co]

JAKARTA - Kerusuhan mulai pecah dalam unjuk rasa 30 September 2019 di sekitar Gedung DPR RI, Senayan. Petugas polisi mulai menembakkan gas air mata ke arah pengunjuk rasa.

Sekitar pukul 17.00 terlihat ada seorang pria terkapar berlumuran darah di bagian kepala belakang. Salah seorang anggota Brimob terlihat berusaha menolongnya dengan menggendongnya ke mobil ambulan Polda Metro Jaya.

Belum diketahui pasti penyebab korban mengalami pendarahan di kepala. "Enggak tahu," ujar anggota Brimob yang menolong pria tersebut, saat ditanyai wartawan.

Selanjutnya, korban dibawa ke klinik untuk mendapat perawatan. Darah korban terlihat banyak melekat di pakaian anggota Brimob yang menolong. Helm pengamannya juga berlumur oleh darah.

Dari perawakannya, korban terlihat masih relatif muda. Berusia sekitar belasan tahun. Namun, tidak terlihat ada ciri khusus atau pakaian sebuah institusi yang dikenakannya.

Tak lama berselang, dua orang polisi berpakaian preman terlihat mengamankan seorang pria lainnya. Pria tersebut terlihat digelandang menuju ke arah gedung DPR RI. "Saya tidak akan kabur," kata pria yang diamankan itu.

Satu polisi terluka

Satu anggota polisi dari Korps Sabhara terluka ketika memukul mundur massa mahasiswa dari belakang Gedung DPR RI, Selasa malam 24 September 2019. Polisi berusaha memecah massa mahasiswa itu ke dua jalur yaitu ke arah Senayan City dan Stasiun Palmerah.

Mahasiswa sebelumnya merusak pagar belakang gedung DPR RI dan menyebabkan pos penjagaan setempat rusak berat. Polisi lalu menghalau menggunakan meriam air dan tembakan gas air mata. Tapi massa mahasiswa melakukan perlawanan dengan melempari batu ke arah petugas.

Akibat lemparan batu itu, satu petugas mengalami luka di bagian kepala dan segera diarahkan ke area perawatan kesehatan DPR dan MPR RI. Sejak itu tembakan gas air mata terpantau dilepaskan secara beruntun tanpa aba-aba.

Akibat tembakan gas air mata pertama dan kedua di belakang gedung DPR RI banyak peserta demonstrasi perempuan menjadi korban seperti sesak nafas dan pingsan. Terhitunga enam kali tembakan gas air mata berdasarkan komando dari sebuah mobil Brimob.

Para peserta aksi demo tersebut dilarikan ke Stasiun Palmerah untuk mendapatkan penanganan medis.

Massa Menerobos Kawat Berduri

Massa demonstrasi di DPR sempat mencoba menerobos batas beton dan kawat berduri di Jalan Gatot Subroto dekat flyover Ladokgi pada Senin, 30 September 2019. Kepolisian sudah mengingatkan kepada massa khususnya yang berada di posisi paling depan untuk tidak merusak batas yang sudah ditetapkan oleh pihak keamanan.

Massa juga sempat melempar batu dan juga plastik berisi air ke arah aparat kepolisian. Polisi kembali memperingatkan massa agar tidak melakukan pelemparan batu atau apapun kepada aparat kepolisian.

Lewat pengeras suara, polisi meminta mahasiswa dan buruh agar tidak terprovokasi oleh tindakan beberapa orang yang melemparkan batu dan botol ke aparat. "Massa yang berada di posisi depan bukan bagian mahasiswa dan buruh," kata polisi.

Kondisi demonstrasi di DPR yang sempat memanas saat ini sudah mulai kondusif. Massa yang masih berada di luar batas yang ditetapkan oleh aparat keamanan. Terlihat sejumlah pemuda yang menggunakan seragam sekolah berwarna putih bergabung dengan massa dalam demonstrasi menentang RUU KUHP. []

Komentar

Loading...