Iran Bersedia Berunding dengan AS Jika Sanksi Dicabut

Rudal Balistik Iran. [Foto: Istimewa]

Teheran -- Iran menyatakan bersedia berunding dengan hanya jika Amerika Serikat mencabut sanksi dan pemimpin tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei, memberikan restu.

"Perundingan dengan Amerika hanya bisa dipertimbangkan jika [Presiden Donald] Trump mencabut sanksi dan pemimpin tertinggi memberikan izin untuk melakukan perundingan," ujar Menteri Intelijen Iran, Mahmoud Alavi.

Sebagaimana dikutip Reuters, pernyataan itu berlanjut, "Amerika takut akan kekuatan militer Iran. Itu alasan di balik keputusan mereka untuk membatalkan rencana menyerang Iran."

Trump memang sempat mengancam bakal melakukan serangan militer ke Iran sebagai balas dendam atas penembakan pesawat nirawak mereka di Selat Hormuz pada 20 Juni lalu.

Ia berdalih serangan itu berpotensi menewaskan 150 orang. Trump pun membuka kemungkinan untuk berunding dengan Iran untuk meredakan ketegangan.

Ketegangan antara AS dan Iran sendiri mulai meningkat sejak Rouhani mengancam bakal melanjutkan pengayaan uranium, salah satu poin penting dalam kesepakatan nuklir.

Rouhani mengancam akan melanjutkan pengayaan uranium jika negara Eropa yang tergabung dalam perjanjian nuklir 2015 atau JCPOA itu tidak membela Teheran dari sanksi AS.

Perjanjian yang digagas di era Barack Obama itu menyepakati bahwa negara Barat akan mencabut serangkaian sanksi terhadap Teheran.

Sebagai timbal balik, Iran harus menyetop segala bentuk pengembangan senjata rudal dan nuklirnya, termasuk pengayaan uranium.

Namun, di bawah komando Presiden Donald Trump, AS menarik diri secara sepihak dari perjanjian nuklir itu pada Mei 2018 lalu dan kembali menerapkan sanksi atas Iran.

Sejak ultimatum Rouhani tersebut, AS dan Iran terus saling lontar ancaman. Presiden Donald Trump bahkan mengerahkan kapal induk dan sejumlah pesawat pengebom ke Timur Tengah.

Komentar

Loading...