Cara Museum Aceh “Bertahan” di Era Globalisasi

Pelajar SD di Banda Aceh berkunjung ke museum. [Foto: Istimewa]

BANDA ACEH - Era globalisasi saat ini telah mengubah manajemen bisnis, termasuk museum. Museum di Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk berkolaborasi, lebih interaktif dan mendekatkan diri dengan masyarakat. Langkah itu pula yang dilakukan Museum Aceh dengan menggelar aneka kegiatan agar keberadaannya lebih dikenal secara universal.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh Jamaluddin mengatakan museum yang merupakan tempat untuk mengoleksi benda benda bersejarah memang harus berusaha untuk mendekatkan diri dengan masyarakat.

“Keberadaannya tidak saja sebagai objek wisata, tapi juga menjadi sumber ilmu pengetahuan,” katanya, Jumat (4/12/2020).

Karena itu, pihaknya mengajak semua elemen masyarakat agar memanfaatkan keberadaan Museum Aceh untuk menggali sejarah, sekaligus mengenal benda-benda peninggalan leluhur.

“Jadi, keberadaan museum sangat penting karena memiliki tanggung jawab dan fungsi untuk melestarikan, membina, sekaligus mengembangkan budaya masyarakat, baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud,” katanya.

Guna “menghidupkan” Museum Aceh, sejumlah kegiatan pun digelar pada 2020. Kegiatan itu diawali sosialisasi museum dengan pemanfaatan koleksi melalui media foto pada Juli silam, yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas SDM Pegawai Museum Aceh dan Tim humas lingkar Disbudpar Aceh dalam pemotretan koleksi.

Selanjut digelar Pameran Masterpiece Koleksi Museum Aceh dengan mengangkat tema “Pusaka Ceudah Keuneubah Maja” pada Agustus 2020. Pameran temporer koleksi masterpiece Museum Aceh itu dilaksanakan secara virtual. Koleksi yang dipamerkan sekitar 65 koleksi, dari berbagai jenis perhiasan, naskah kuno hingga beberapa benda-benda peninggalan raja-raja Aceh.

Selain itu, rangakaian kegiatan lainnya juga digelar seperti Lomba Edukatif Cultural Museum Aceh (Lomba Cerdas Cermat Tingkat SLTP) padaSeptember 2020. Lomba Cerdas Cermat Museum dengan peserta SLTP sederajat se-Kota Banda Aceh ini juga dilaksanakan secara daring.

Lalu pada bulan yang sama, Museum Aceh juga menjadi tuan rumah pelaksanaan Lomba Cerdas Cermat Museum SMP/MTs Tingkat Nasional 2020.

Pelajar di Banda Aceh mengunjungi Museum. [Foto: Istimewa]
Teranyar, Museum Aceh menggelar Lomba Permainan Tradisional SD Sederajat pada 2-3 November 2020. Lomba permainan tradisional tersebut diikuti siswa/i SD sederajat dengan dua kategori, yakni permainan Gaseng (Putra) dan Seureumbang Keong (Perempuan). Perlombaan dilaksanakan di Museum Aceh dengan tetap mematuhi protokol kesehatan dan tidak mengundang penonton ataupun supporter.

Kemudian pada 24 November lalu, sejumlah anak-anak sekolah dasar dan taman kanak-kanak berkunjung ke Museum Aceh. Mereka berbaris mengikuti arahan pemandu museum. Dengan seksama, mereka memperhatikan benda-benda sejarah di Museum Aceh, Siswa-siswi dari 12 SD dan dua TK di kota Banda Aceh itu mengikuti kegiatan mengenal sejarah dan budaya Aceh.

Mereka diajak berkeliling museum. Mulai dari melihat batu nisan, mengenal rumah adat Aceh dan membaca buku sejarah. Kegiatan tersebut merupakan agenda rutin tahunan yang dilaksanakan pihak Museum Aceh. Namun, di masa pandemi ada pengurangan kuota sekolah dasar yang diundang.

Meski suasana masih di tengah pandemi covid-19, tidak menyurutkan semangat para siswa-siswi untuk mengenal sejarah dan budaya daerahnya.

Kepala Museum Aceh Mudha Farsya mengharapkan, dengan beragam kegiatan dan lomba tersebut maka khalayak ramai semakin mengenal keberadaan Museum Aceh.

“Kami juga mengajak generasi muda atau para milenial untuk lebih akrab dengan Museum Aceh,” ajaknya. []

Komentar

Loading...